www.bisnistoday.co.id
Senin , 18 Mei 2026
Home LIFESTYLE Rona & Film Pameran “Fragmen Dunia di Mata Wanita” Hadirkan Perspektif Perempuan di Momentum April
Rona & Film

Pameran “Fragmen Dunia di Mata Wanita” Hadirkan Perspektif Perempuan di Momentum April

Pameran Seni
Magdalena bersama karyanya, salah satu seniman yang terlibat dalam pameran ini.
Social Media

BANDUNG — Nayanika Art Gallery menghadirkan pameran bertajuk “Fragmen Dunia di Mata Wanita”*
yang bertepatan dengan momentum Hari Seni Sedunia pada 15 April.

Pameran ini juga beririsan dengan peringatan Hari Kartini pada 21 April, sehingga mengangkat semangat perempuan dalam dunia seni sekaligus merayakan keberagaman perspektif.

General Manager Nayanika Art Gallery, Prima, menjelaskan bahwa pemilihan tema dan waktu penyelenggaraan bukan tanpa alasan.

Bulan April dinilai memiliki makna kuat, khususnya terkait perayaan Hari Kartini yang identik dengan perjuangan dan peran perempuan.

“Tema ini dipilih karena bertepatan dengan bulan April yang identik dengan Hari Kartini. Selain itu, pihak Cihampelas Walk juga menginginkan acara yang selaras dengan momentum tersebut,” ujarnya, ditemui disela acara di Ciwalk, Bandung, Rabu malam (15/4/2026).

Berita Terkait: Inovasi Kreativitas Mahasiswa Program Studi Desain Grafis Melalui Pameran PasaRame TGP

Tanggal 15 April dipilih karena berdekatan dengan Hari Seni Sedunia, sehingga kedua momen tersebut dikombinasikan dalam satu konsep pameran yang utuh.

“Fragmen Dunia di Mata Wanita”sendiri mencerminkan karya dua seniman perempuan yang menampilkan perspektif personal mereka terhadap dunia.

Melalui pengalaman perjalanan dan pengamatan terhadap lingkungan sekitar, para seniman menghadirkan potongan-potongan visual yang kemudian disatukan menjadi narasi bersama dalam satu ruang pamer.

Pameran ini sekaligus menegaskan bahwa perempuan kini semakin aktif mengekspresikan diri melalui seni, di tengah berbagai peran dan kesibukan yang mereka jalani. Seni menjadi medium untuk menyuarakan gagasan, perasaan, sekaligus memperoleh pengakuan publik.

Lebih dari itu, pameran ini membawa pesan bahwa di tengah berbagai krisis global, mulai dari konflik hingga ketidakpastian, dunia tetap menyimpan keindahan.

Keindahan tersebut hadir dalam hal-hal sederhana, seperti bunga, lanskap alam, suasana kota, hingga momen-momen hening yang sering luput dari perhatian.

Antusiasme masyarakat terhadap pameran ini terbilang tinggi. Selama hampir dua bulan berkegiatan di Cihampelas Walk, galeri mencatat jumlah pengunjung mencapai hampir 1.000 orang.

Ketertarikan ini juga dipengaruhi oleh konsep sustainable art yang diusung, seperti penggunaan limbah plastik dan kulit telur sebagai medium karya yang unik sekaligus relevan dengan isu lingkungan.

Ke depan, Nayanika Art Gallery berencana mengembangkan tema pameran yang tidak hanya berfokus pada perempuan, namun tetap memiliki benang merah pada isu keberlanjutan. Dalam proses kurasi, galeri juga melibatkan mahasiswa dan alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB untuk melakukan pemetaan karya.

Seni sebagai Bentuk Syukur

Salah satu seniman yang terlibat, Magdalena Tri Sunaryati, memaknai melukis sebagai bentuk rasa syukur. Baginya, seni bukan sekadar aktivitas artistik, melainkan cara menikmati keindahan ciptaan Tuhan.

“Melukis itu cara saya bersyukur. Kadang kita lihat bunga, sebentar sudah layu. Tapi kalau dilukis, memorinya tetap ada,” ungkapnya.

Inspirasi karyanya banyak datang dari alam, mulai dari bunga hingga lanskap yang ditemuinya, baik secara langsung maupun melalui imajinasi. Ia menyebut bahwa keindahan suatu tempat dapat “diabadikan” kembali melalui lukisan, bukan hanya lewat foto.

Magdalena juga menilai bahwa pengalaman sebagai perempuan turut memengaruhi cara berkaryanya. Menurutnya, perempuan cenderung lebih mengedepankan perasaan yang kemudian tercermin dalam warna, sapuan kuas, hingga komposisi karya.

“Perempuan itu lebih bermain dengan perasaan. Itu terlihat dari warna dan tarikan kuas,” jelasnya.

Ia menambahkan, seni memberikan kebebasan penuh bagi perempuan untuk menyuarakan perspektifnya. Tidak ada batasan baku dalam berkarya—langit tidak harus selalu biru dan pohon tidak selalu hijau.

Melalui pameran ini, para seniman tidak hanya menghadirkan karya, tetapi juga mengajak publik untuk melihat dunia dari sudut pandang yang lebih beragam, serta lebih menghargai keindahan dalam hal-hal sederhana.E2

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Rapat Umum Anggota Luar Biasa (RUA-LB) WAMI 2026
Rona & Film

Daftar Lengkap Komposer dan Publisher yang Kini Menduduki Badan Pengawas WAMI


JAKARTA,Bisnistoday- Wahana Musik Indonesia (WAMI) secara resmi menetapkan jajaran Badan Pengawas baru...

Caption foto: Panitia Mahabbah Allah Pakem 9
Rona & Film

Bukan Sekadar Hiburan Mengapa Konser Mahabbah Allah Pakem 9 Jadi Simbol Pertobatan Publik

JAKARTA, Bisnistoday-  Persiapan penyelenggaraan Konser Musik Spiritual bertajuk "Mahabbah Allah Pakem 9"...

Istri
Rona & Film

Merasa Terancam Erin eks  Istri Andre Taulany Resmi Laporkan Mantan ART ke Polisi Soal Pelanggaran Privasi


JAKARTA, Bisnistoday - Perseteruan antara mantan istri Andre Taulany, Rien Kasman atau...

Pentas Musik
Rona & Film

Solois Pop-punk Asal Inggris, Josh Holmes Gelar Konser Intim di M Bloc, Jakarta

JAKARTA, Bisnistoday - Musisi pop-punk asal Inggris, Josh Holmes, sukses menggelar konser...