www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 13 Juni 2026
Home NASIONAL & POLITIK Humaniora Prof Yasuyuki Aono, Sakura, dan Jejak Perubahan Iklim
HumanioraLingkungan

Prof Yasuyuki Aono, Sakura, dan Jejak Perubahan Iklim

Apa yang dilakukan Aono merupakan salah satu catatan iklim terpanjang di dunia yang melacak kejadian musiman sebuah tanaman.

Bunga Sakura (dok:Unsplash/Yu Kato)
Bunga Sakura (dok:Unsplash/Yu Kato)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Di Jepang ada seorang pria yang tekun meneliti tanaman. Namanya Profesor Yasuyuki Aono. Ia bekerja di Universitas Metropolitan, Osaka. Sepanjang kariernya, ia rajin mencatat mekarnya Bunga Sakura, jenis bunga yang paling terkenal di Jepang.

Aono menghabiskan kariernya dengan mengumpulkan data tentang tanggal mekarnya bunga tersebut pada musim semi. Bahkan, di bulan-bulan terakhir hidupnya, ia masih melakoni aktivitasnya tersebut.

Apa yang dilakukan Aono merupakan salah satu catatan iklim terpanjang di dunia yang melacak kejadian musiman sebuah tanaman.

Ia melacak jauh menelusuri sumber yang berasal dari abad ke-9. Untuk itu, ia rela mempelajari Bahasa Jepang kuno. Berdasarkan penelitiannya, Aono mengungkapkan bahwa mekarnya Bunga Sakura kini bergeser semakin awal dalam beberapa dekade terakhir,  sebuah penanda terjadinya perubahan iklim.

Aono terakhir kali menyelesaikan entri tahun 2025. Ia mencatat 4 April  sebagai tanggal puncak mekarnya bunga untuk spesies pohon sakura tertentu, yaitu sakura gunung, atau Prunus jamasakura.

 Di bawahnya, baris berikutnya ia sudah menandai “2026” tetapi Aono tidak pernah sempat mengisinya. Ia meninggal pada 5 Agustus tahun lalu, menurut mantan koleganya yang dihubungi oleh Guardian.

Penelitian Lanjutan

“Anda dapat melihat dengan jelas bahwa ia berencana untuk melanjutkan,” kata Tuna Acisu, seorang ilmuwan di Our World in Data, sebuah platform daring yang menerbitkan grafik berdasarkan data pohon sakura Aono. “Itu membuat saya sedikit sedih.”

Saat ini, seorang peneliti lainnya (yang namanya masih anonim) menawarkan diri untuk melanjutkan pekerjaan Aono.

“Ia menggunakan sumber yang sama dengan Profesor Aono untuk mendapatkan data puncak mekarnya bunga sakura tahun ini dan mengatakan akan mengkonfirmasi tanggalnya dalam beberapa hari mendatang,” kata Acisu.

Peneliti yang dimaksud meminta untuk tetap anonim sampai kesepakatan tersebut diselesaikan.

Acisu dan rekan-rekannya pertama kali menyadari bahwa sesuatu mungkin telah terjadi pada Aono ketika mereka melihat pada bulan Januari bahwa halaman web universitasnya tidak lagi aktif.

Kemudian mereka mengetahui bahwa ia telah meninggal dan tidak ada peneliti atau institusi lain yang muncul untuk melanjutkan pengamatannya. Musim semi tiba tanpa data baru tentang bunga sakura di pegunungan.

Setelah Acisu meluncurkan proyeknya untuk menemukan pengamat bunga sakura baru, ia menerima puluhan pesan. “Sungguh menyenangkan mengetahui bahwa kumpulan data tersebut berlanjut,” katanya, seraya mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada peneliti baru tersebut. “Saya merasa sangat lega.”

Yang terpenting, Acisu telah mencari peneliti lain di Jepang yang dapat melanjutkan pelacakan tidak hanya spesies sakura yang sama, tetapi juga di lokasi yang sama: Arashiyama, Kyoto.

Penanda Perubahan Iklim

Ada proyek lain yang memantau pembungaan pohon sakura di seluruh Jepang, karena festival bunga sakura merupakan bagian penting dari budaya dan pariwisata di negara tersebut, tetapi bukan spesies spesifik ini.

Misalnya, Asosiasi Cuaca Jepang memantau spesies yang berbeda: sakura Somei-yoshino (Prunus x yedoensis), yang dibudidayakan pada abad ke-19.

“Fakta bahwa Aono mampu mengumpulkan data perkembangan bunga sakura gunung selama periode lebih dari 1200 tahun adalah apa yang membuat rangkaian datanya begitu signifikan,” kata Acisu.

Para ilmuwan telah menemukan tanda-tanda perubahan iklim dalam berbagai sumber lain, termasuk lingkaran pohon, pigmen tumbuhan yang tersimpan dalam sedimen dasar laut, dan bahkan catatan suhu dan kelembaban yang dicatat oleh penyetel organ di gereja-gereja Inggris.

Di antara penemuan yang dilakukan Aono adalah tanggal puncak mekarnya bunga sakura pada tahun 2021 dan 2023 – tanggal tersebut merupakan yang paling awal dalam seluruh catatan sakura gunung, terjadi pada hari ke-85 dan ke-84 pada tahun-tahun tersebut.

Karya Aono tentang sakura gunung sangat penting, kata Toshio Katsuki, seorang ahli dendrologi di Institut Penelitian Kehutanan dan Produk Hutan di prefektur Ibaraki.

Menurutnya upaya untuk terus mencatat tanggal mekarnya Bunga Sakura di musim semi akan sangat berharga secara akademis.

Richard Primack, seorang profesor biologi di Universitas Boston, bertemu Aono dalam perjalanan ke Jepang pada 2006. Saat itu, kata Primack, Aono mengatakan kepadanya bahwa ia telah belajar membaca bentuk-bentuk kuno bahasa Jepang untuk mengumpulkan datanya tentang tanggal mekarnya bunga sakura di pegunungan.

Di arsip sejarah yang berdebu, Aono menemukan referensi tentang festival bunga sakura di Kyoto. dan, dari situ, ia mampu menghitung tanggal mekarnya bunga tersebut untuk tahun-tahun tertentu.

Meskipun beberapa tahun hilang, catatan paling awal yang ia temukan berasal dari tahun 812. “Itu benar-benar pengalaman yang luar biasa,” kata Primack, mengenang pertemuan tersebut. “Anda menyadari betapa berdedikasinya dia sebagai individu.”

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan awal bulan ini, Primack dan Katsuki menjelaskan bagaimana mekarnya sakura Somei-yoshino tampaknya juga dipengaruhi oleh perubahan iklim di daerah selatan Jepang.

“Data dari tahun 1965 hingga 2024 menunjukkan bahwa musim dingin yang lebih ringan semakin menyebabkan pohon sakura yang berbunga di musim semi memiliki penampilan yang agak lusuh, alih-alih tampilan yang penuh dan memukau,” kata Primack. “Banyak kuncup bunga yang rontok tanpa mekar.”//

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Rawa-rawa Mesopotamia yang kini berada di wilayah Irak Selatan. (dok: Unsplash/hasan Majed)
GLOBALHumaniora

Melacak Peradaban, Ilmuwan Telusuri Jejak Sungai Efrat

JAKARTA, Bisnistoday - Seperti halnya Babilonia, kota terbesar di Mesopotamia kuno, Uruk,...

Humaniora

STT GDC Perkuat SDM Digital Indonesia Lewat Program Pelatihan dan Pemberdayaan

CIKARANG, Bisnistoday - STT Telemedia Global Data Centres (STT GDC) memperkuat sumber...

Humaniora

17.843 Peserta Ikuti SPMB, Kota Bandung Hadirkan Layanan yang Cepat dan Responsif

BANDUNG, Bisnistoday - Di tengah besarnya perhatian publik terhadap pelaksanaan penerimaan murid...

Konferensi Riset
Humaniora

Indonesia Bagikan Praktik Baik Transformasi Digital PAUD di Forum Asia Tenggara

JAKARTA, Bisnistoday – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan peran aktif...