JAKARTA, Bisnistoday- Pandemi Covid-19 yang masih merebak diberbagai beahan dunia termasuk Indonesia masih menjadi sentimen negatif pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan akhir tahun 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melamah 57,1 poin atau 0,95 persen ke posisi 5.979,07. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 10,71 poin atau 1,13 persen ke posisi 934,89.
“Pelemahan IHSG dibayangi oleh sentimen negatif dari adanya mutasi ataupun varian baru Covid-19. Di sisi lain, kasus Covid-19 terus mengalami kenaikan. Sementara itu, data-data makroekonomi domestik maupun global masih belum memberikan high market impact yang positif,” kata analis Bina Artha Sekuritas, M Nafan Aji Gusta di Jakarta, Rabu (30/12).
Pada perdangan Rabu (30/12), delapan sektor terkoreksi dengan sektor infrastruktur paling dalam yaitu minus 2,49 persen, diikuti sektor industri dasar dan sektor properti masing-masing minus 2,02 persen dan minus 1,63 persen.
Sedangkan dua sektor meningkat yaitu sektor pertanian dan sektor perdagangan masing-masing sebesar 0,89 persen dan 0,17 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp76,71 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.172.275 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 24,71 miliar lembar saham senilai Rp14,51 triliun. Sebanyak 143 saham naik, 365 saham menurun, dan 119 saham tidak bergerak nilainya.
Sementara itu bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei melemah 123,98 poin atau 0,45 persen ke 27.444,17, Indeks Hang Seng naik 578,62 poin atau 2,18 persen ke 27.147,11, dan Indeks Straits Times meningkat 22,17 atau 0,78 persen ke 2.870,31.
Rupiah Menguat
Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup menguat mendekati level psikologis Rp14.000 per dolar AS.
Rupiah Rabu sore ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke posisi Rp14.050 per dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya Rp14.130 per dolar AS.
“Dengan melihat perencanaan pemerintah yang optimis akan imunisasi vaksin, maka pelaku pasar kembali gembira dan merespons positif terhadap pertumbuhan ekonomi ke depan yang akan kembali membaik. Dan arus modal asing kembali masuk dalam pasar finansial dalam negeri, sehingga wajar kalau mata uang Garuda di akhir tahun ditutup menguat mendekati Rp14.000,” kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi./

