JAKARTA, Bisnistoday- Penyaluran kredit perumahan rakyat (KPR) subsidi oleh Bank BTN sepanjang pandemi Covid-19 terus berjalan dan tidak terhenti.
Head of Investor Relations and Research Division BTN, Winang Budoyo dalam seminar daring di Jakarta, Kamis (4/3) mengatakan, kuota awal tahun lalu yang diberikan oleh pemerintah kepada BTN sudah habis pada April 2020. Untung saja memang pemerintah memberikan kuota tambahan, termasuk juga keluarnya Subsidi Selisih Bunga (SSB) pada tahun lalu.
“Intinya adalah kalau kita bicara tentang KPR subsidi memang permintaannya tidak pernah turun karena termasuk juga banyaknya pencari rumah pertama atau first home buyer yang masih belum memiliki rumah,” katanya.
Memang hal tersebut, lanjut Winang, masalahnya bukan hanya dari sisi permintaan namun juga dari sisi supplai, karena terlihat bahwa permintaan dalam perumahan terutama untuk rumah pertama terus mengalami peningkatan.
Winang sendiri mengakui bahwa pertumbuhan kredit BTN terbantu dikarenakan salah satunya terdorong oleh penyaluran KPR subsidi.
“Salah satu yang mendorong adalah penyaluran KPR subsidi yang masih bisa tumbuh hampir 8-9 persen sebetulnya, sedangkan untuk KPR non-subsidi memang sedikit terkendala dikarenakan berkaitan dengan segmentasinya,” katanya.
Dalam paparannya, dia menyampaikan bahwa Bank BTN merupakan Bank Fokus Perumahan dengan market share KPR terbesar di Indonesia, dan sebagai kontributor utama Program Sejuta Rumah. Bank BTN menjadi penyalur utama KPR subsidi Pemerintah.
Pada tahun lalu Bank BTN mendapatkan kepercayaan Pemerintah dengan diberi tambahan kuota KPR subsidi 146 ribu unit.
Bisa Naik
Dalam kesempatan tersebut, Winang juga mengataan bahwa peluang aktivitas sektor perumahan atau properti akan kembali mengalami peningkatan pada tahun ini jika pertumbuhan ekonomi nasional telah kembali positif.
“Kalau pertumbuhan ekonomi telah kembali positif dan daya beli juga kembali meningkat maka aktivitas di sektor perumahan akan kembali meningkat,” ujar dia.
Menurut Winang, kalau melihat peluang ke depan sebetulnya belajar dari kondisi pandemi yang terjadi di tahun 2020 dan kemungkinan sebagian juga masih akan mempengaruhi tahun ini, permintaan terhadap perumahan tentu saja merupakan kegiatan yang berkaitan dengan daya beli masyarakat.
Bicara mengenai daya beli masyarakat berarti sesuatu yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi. Seperti diketahui pada tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi, namun diperkirakan pada tahun ini pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami rebound atau kembali tumbuh secara positif kemungkinan antara 4 persen sampai 5 persen.
“Jika belajar dari tahun lalu yang masih bisa bertahan hanya KPR subsidi, maka saya rasa di tahun ini untuk segmen KPR non subsidi mulai mengalami peningkatan jadi hal tersebut meningkatkan permintaan,” kata Winang./



