JAKARTA, Bisnistoday – Perang AS-Iran telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Meski ada kesepakatan gencatan senjata, perdamaian masih jauh untuk mengakhiri konflik tersebut. Sebab, sejauh ini, kedua kubu masih saling serang, begitu pula Israel yang merupakan sekutu AS, masih terlibat baku tembak dengan pejuang Hisbullah yang pro Iran.
Konflik di Timur Tengah telah mengganggu jalur distribusi energi dan pengiriman sejumlah komoditas dari dan ke kawasan tersebut. Ironisnya, dampaknya juga dirasakan jauh di luar kawasan tersebut , dari mulai konstruksi jalan di Malaysia hingga pengusaha makanan dan minuman di Indonesia.
Berdasarkan analisis Channel News Asia (CNA), konflik yang telah berlangsung lebih dari 100 hari ini, telah mengganggu jalannya perdagangan melalui Selat Hormuz (titik penting untuk pasokan minyak dan gas yang menuju Asia), sehingga memocu biaya tambahan tidak hanya bahan bakar dan material berbasis minyak bumi, tetapi juga barang-barang lain di sejumlah wilayah.
Bagi kontraktor Malaysia Sukumar Subrayalu, pendiri dan direktur pelaksana Sugu Construction, dampak konflik di Timur Tengah ini sangat besar.
Harga bitumen, material utama yang digunakan dalam pembangunan dan pengerasan jalan, misalnya, telah melonjak sekitar 70 persen dari sekitar RM1.700 (US$430) menjadi hampir RM2.900 per ton, sementara harga solar telah melonjak lebih dari 80 persen, katanya kepada CNA.
“Para pemasok terpaksa merevisi harga atau menekan kontraktor yang sudah terikat dalam perjanjian untuk tidak menaikkan harga,” ujar Sukumar.
“Meskipun pasokan masih tersedia, kontraktor menghadapi tantangan dalam penganggaran dan perkiraan biaya karena harga dapat berubah dalam waktu singkat,” imbuhnya.
Dalam KTT di Fiipina bulan lalu, sejumlah negara di ASEAN mempertimbangkan untuk berbagi sumber daya bahan bakar dan pangan karena khawatir gangguan yang berkepanjangan.
Di kawasan ASEAN, sejumlah pengusaha menghadapi tekanan serupa karena gangguan yang terkait dengan konflik ini telah berdampak pada rantai pasokan global. Mulai dari kemasan plastik dan pasokan helium hingga pupuk dan produksi pangan.
Industri yang bergantung pada bahan berbasis minyak bumi juga menghadapi fluktuasi harga yang tajam, memaksa perusahaan untuk menaikkan harga, menanggung kerugian, atau memikirkan kembali operasi mereka secara keseluruhan.
Intinya, perang AS-Iran yang memasuki hari ke-100 pada 8 Juni lalu, dampaknya amat terasa dalam kehidupan sehari-hari di seluruh Asia Tenggara. Pemerintah dan masyarakat di kawasan ini harus bersiap menghadapi biaya yang lebih tinggi, dari mulai perusahaan konstruksi hingga industri pengemasan susu.
Para ahli dan pelaku industri memperingatkan bahwa gangguan tersebut kemungkinan akan berlanjut lebih dari enam bulan ke depan, bahkan jika ketegangan mereda, dampaknya sebagai “guncangan struktural” jangka panjang, tetap bakal mengganggu rantai pasok regional dan biaya produksi.
Proyek Konstruksi
Wakil Menteri Pekerjaan Umum Malaysia, Ahmad Maslan, mengatakan pada April lalu bahwa sepertiga – atau 280 dari 855 – proyek pembangunan dan pemeliharaan jalan di seluruh negeri, mengalami penundaan karena kenaikan biaya material konstruksi dan solar.
Ia memperingatkan jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat jika tekanan biaya terus berlanjut. Untuk mengatasi hal ini, kontraktor menanggung sebagian dari biaya yang lebih tinggi untuk menghindari penghentian proyek atau perselisihan kontrak, khususnya untuk proyek pemerintah, kata Sukumar seperti dikutip Malay Mail.
“Beberapa perusahaan memperlambat urutan pekerjaan, mengoperasikan lebih sedikit mesin, memperpanjang jadwal konstruksi, dan hanya memprioritaskan aktivitas penting,” tambahnya.
Karena bitumen berbahan dasar minyak bumi, fluktuasi harga minyak global dan gangguan rantai pasokan berdampak langsung pada biaya material. Menurut Sukumar, bitumen biasanya menyumbang sekitar 4 hingga 7 persen dari premix yang digunakan dalam pekerjaan pengaspalan.
Menurutnya karena sebagian besar proyek konstruksi diberikan berdasarkan kontrak harga tetap, kontraktor tidak dapat membebankan biaya bitumen yang lebih tinggi, sehingga menekan margin keuntungan, arus kas, dan kelayakan proyek secara keseluruhan.
“Dalam beberapa kasus, kontraktor juga telah berdiskusi dan bernegosiasi dengan pemilik proyek, klien, pemasok, dan subkontraktor untuk mengurangi dampaknya, termasuk permintaan penyesuaian harga, perpanjangan waktu, pengadaan material alternatif, atau revisi jadwal pelaksanaan proyek.”
Sukumar, yang juga merupakan anggota dewan Asosiasi Kontraktor Bangunan Malaysia, mengatakan perusahaan konstruksi di Malaysia memperketat efisiensi operasional dengan mengurangi pemborosan, mengonsolidasikan pengiriman, dan menggunakan stok material yang ada sebelum melakukan pemesanan baru.//

