JAKARTA, Bisnistoday – Saat kondisi hiruk-pikuk industri konstruksi dan infrastruktur yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki, kebutuhan akan ruang kerja yang aman dan nyaman bagi perempuan kini menjadi perhatian penting. Bukan sekadar pelengkap budaya perusahaan, rasa aman telah berubah menjadi fondasi utama yang menentukan kualitas kerja, produktivitas, hingga keberanian perempuan dalam mengambil peran strategis.
Hal itulah yang disampaikan Head of Marketing Semen Merah Putih, Nyiayu Chairunnikma. Baginya, kantor bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga ruang kedua setelah rumah yang harus mampu menghadirkan kenyamanan bagi setiap individu.
“Tempat kerja adalah rumah kedua bagi banyak dari kita, tempat untuk belajar dan berkembang. Karena itu, penting bagi lingkungan kerja untuk menghadirkan rasa aman dan nyaman seperti di rumah. Dengan begitu, setiap individu bisa bekerja lebih baik dan berkembang secara maksimal,” ujar Nyiayu.
Pandangan itu lahir dari pengalamannya selama berkecimpung di sektor industri yang masih sering dianggap sebagai “dunia laki-laki”. Di ruang-ruang kerja yang dinamis dan penuh tekanan, perempuan kerap menghadapi tantangan lebih kompleks, mulai dari stereotip hingga keterbatasan ruang untuk menyampaikan pendapat.
Namun, menurut Nyiayu, situasi perlahan mulai berubah. Perusahaan kini semakin menyadari bahwa lingkungan kerja yang suportif bukan hanya penting bagi kesejahteraan karyawan, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas kolaborasi dan kinerja perusahaan secara keseluruhan.
“Apalagi bekerja di industri yang masih sering dianggap sebagai dunia laki-laki membuat saya melihat langsung bagaimana ruang yang benar-benar aman dan suportif itu penting, terutama bagi perempuan,” katanya.
Menambah Kepercayaan Diri
Ia menambahkan, ketika rasa aman benar-benar hadir di lingkungan kerja, perempuan akan lebih percaya diri dalam menyampaikan ide dan perspektifnya. Kondisi itu menciptakan suasana kerja yang lebih terbuka dan sehat, di mana setiap individu merasa dihargai tanpa memandang gender.
Lebih dari sekadar aturan tertulis, membangun ruang aman menurutnya harus dimulai dari budaya sehari-hari. Cara berkomunikasi antarpekerja, menghormati batasan personal, hingga membangun kesadaran kolektif menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif.
Di balik gedung-gedung perkantoran modern yang berdiri megah, ada kebutuhan yang kini semakin diperhatikan: bagaimana setiap ruang tidak hanya kokoh secara konstruksi, tetapi juga menghadirkan rasa aman secara emosional dan sosial bagi penghuninya.
Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran perempuan terhadap hak mendapatkan lingkungan kerja yang sehat. Jika dahulu rasa aman dianggap sebagai nilai tambah, kini hal tersebut menjadi ekspektasi mendasar dalam memilih dan menjalani pekerjaan.
Perusahaan-perusahaan besar pun mulai berlomba menghadirkan budaya kerja yang lebih manusiawi. Mulai dari penyediaan sistem pelaporan yang jelas, kebijakan anti-diskriminasi, hingga peningkatan ruang diskusi yang lebih terbuka bagi perempuan.
Tanpa Dihantui Ketakutan
Bagi banyak pekerja wanita, perubahan tersebut bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga tentang kesempatan untuk tumbuh tanpa rasa takut. Sebab lingkungan kerja yang aman memungkinkan perempuan fokus pada pengembangan diri, karier, dan kepemimpinan.
Pada akhirnya, ruang kerja ideal bukan sekadar tempat menyelesaikan target dan pekerjaan. Ia adalah ruang yang memberi rasa tenang, menghargai keberagaman, dan membuka kesempatan yang sama bagi semua orang untuk berkembang.
Di tengah perkembangan industri modern, pesan itu menjadi semakin relevan: membangun kantor bukan hanya soal beton dan desain interior, tetapi juga tentang membangun rasa aman bagi manusia di dalamnya.//

