Siapa yang tidak ingin masa depan dan pendidikan anak yang berkualitas. Begitupun siapa orang tua yang tega tidak membantu mewujudkan cita-cita anaknya untuk belajar ke sekolah yang didambakan?
Akhir-akhir ini, semua orang tua baik anaknya belajar di SD maupun SMP, swasta ataupun negeri perhatianya tertuju pada PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) tahun ajaran 2023-2024.
Para calon siswa SMA maupun SMP diberi tenggat waktu untuk memasukan Nilai Ujian Nasional berdasarkan zonasi masing-masing sekolah. Jarak sekolah dan rumah merupakan point tersendiri untuk penentuan kelulusan masuk sekolah SMP, maupun SMA.
Walaupun nilai kurang, namun setelah ditambah nilai atau point jarak rumah ke sekolah bisa saja menjadi lulus. Sebaliknya, apabila nilai siswa tinggi, namun jarak antara sekolah dan rumah jauh, belum tentu lulus masuk sekolah yang dituju.
Sebagian orang tua, yang menganggap aturan ini tidak fair, karena nilai lebih rendah bisa masuk sekolah favorite ketimbang siswa dengan nilai tinggi namun jauh dari sekolah. “Aturan ini, dianggap tidak fair sebagian para orang tua. Merasa jengkel, kesal, ngomel juga.”
Disisi lain, sekolah favorit memiliki kapasitas terbatas, dan bahkan ada sebagian sekolah itu yang harus menambah kelas baru, untuk menampung peminat. Tidak hanya itu, kelas ini jadi sekumpulan biang kerok, untuk menampung para perserta didik titipan pejabat maupun aparat melalui jalur non akademik.
Yang menjadi persoalan, memang kondisi kualitas sekolah tidak merata, sehingga orang tua murid masih tetap ngeyel ke sekolah favorite walau jaraknya jauh dari rumah. Prasarana, kualitas pengajarnya, dan lainnya tidak sepadan di sekolah terdekat lokasi rumah. “Sebagai orang tua pastinya, akan berjuang keras demi sekolah terbaik anaknya.”
Karena itu, orang tua siswa rela memburu pembuatan Kartu Keluarga (KK) dengan numpang di tempat keluarga terdekat dengan sekolah favoritenya. Ini terjadi seperti di Kota Bogor, ratusan pengaduan kecurangan PPDB untuk SD dan SMP.
Akankah, siswa yang berada di lingkungan sekolah yang kurang berkualitas dipaksakan harus menerima kondisi sekolah apa adanya. Bagaimana bibit anak yang memiliki nilai akademik lebih baik, bisa berkembang di sekolah tersebut?
Haruskah menunggu berapa tahun, sekolah tersebut memperbaiki kualitas sehingga menjadi sekolah favorite? Akankah, anak pandai di sekolah non favorite ini menjadi korban? Tentunya, orang tua tidak mau anaknya sekolah di sekolah kurang favorite. Demi gengsi dan memburu rating sekolah tinggi, para orang tua berjuang setengah mati untuk buah hatinya./
Tim Redaksi-










































