JAKARTA, Bisnistoday – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengobarkan semangat kepahlawanan kepada seluruh jajaran di kementeriannya dalam upacara Hari Pahlawan 2025. Amran mengajak seluruh insan pertanian untuk tetap kompak dan berjuang mewujudkan kedaulatan pangan sebagai wujud pengabdian nyata bagi bangsa.
“Hari ini kita mengenang pahlawan yang telah mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan. Tapi perjuangan belum selesai,” kata Mentan Amran, di Jakarta, Senin (10/11/2025).
Ia mengingatkan seluruh jajaran Kementan untuk tetap solid dan fokus membela kepentingan bangsa, yaitu Indonesia berdaulat pangan. Amran menegaskan bahwa perjuangan menuju kedaulatan pangan penuh tantangan, terutama dari pihak yang selama ini diuntungkan oleh praktik impor beras dan jagung.
“Banyak yang tidak senang kalau Indonesia berdaulat pangan, tapi kita harus sabar dan terus bekerja. Ini semua demi Merah Putih,” ujarnya.
Mentan mengingatkan bahwa semangat kepahlawanan tidak hanya lahir di medan perang, tetapi juga tumbuh dari kerja keras para petani dan pegawai pertanian di lapangan. Ia menegaskan semangat ini harus diwujudkan dalam kerja nyata, termasuk kerja tanpa mengenal waktu demi menjaga ketahanan pangan nasional.
Ia memberikan contoh pegawai yang mengalami kecelakaan dan jatuh sakit saat bertugas, menyebut mereka sebagai pahlawan sejati. “Mereka jatuh karena berjuang untuk swasembada. Mereka adalah pahlawan pangan kita,” ucapnya.
Mentan Amran juga mengapresiasi seluruh pegawai atas berbagai capaian luar biasa dalam satu tahun terakhir, termasuk peningkatan status laporan keuangan dari WDP menjadi WTP oleh BPK. Ia menyebut kontribusi sektor pertanian terhadap PDB nasional kini menjadi yang tertinggi dalam sejarah negara.
Amran menyebut Indonesia kini berada di ambang deklarasi swasembada beras, sebuah prestasi yang dicapai melalui kerja keras bersama. “Insya Allah, dalam waktu dekat Indonesia bisa mendeklarasikan swasembada pangan. Ini bukan keberhasilan saya, tapi keberhasilan Anda semua,” katanya.
Terakhir, Amran mengingatkan pentingnya meritokrasi dan objektivitas dalam menilai kinerja pegawai. “Saya ingin yang berprestasi diapresiasi, yang salah diperbaiki. Kalau ada yang merasa terzolimi, laporkan langsung,” ujarnya.(E2-DANU)




