JAKARTA, Bisnistoday – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) optimistis menuju target lifting minyak sebesar 1 juta barel per hari (BOPD) dan gas sebesar 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada 2030. Berbagai upaya dilakukan seperti penemuan sumur gas baru, reaktivasi maupun melalui cara non konvensional.
“Sumur kita ini hampir 80-90 persen sudah stadium mature, tekanan berkurang, water cut naik, dan terus berupaya ditingkatkan,” ungkap Nanang Abdul Manaf, Wakil Kepala SKK Migas saat kegiatan Forum Kapasitas Nasional III Tahun 2023, di Jakarta, Kamis (23/11).
Nanang mengatakan, bagaimana juga meningkatkan recovery factor, dengan reservoir selama ini model primary ini baru sekitar 25%-35% diambil, dan sisanya diambil melalui enhance recovery dengan chemical, bakteri, atau injeksi CO2 dan lainnya.
“Sejalan dengan itu, juga dilakukan kegiatan eksplorasi seperti di sumur eksplorasi Geng Noth, dengan tes awal kapasitas besar 40 MMscfd dengan 5 ribu barel per hari, kondensat. Selain itu, melakukan reaktifasi LNG Bontang dengan mendapatkan kondensat setara minyak.”
Penemuan Sumur Baru
Demikian juga, tambah Nanang, penemuan sumur baru di Andaman, oleh Harbour Energy Indonesia, serta Mubadala yang melakukan ekplorasi di Layaran Satu. Tahun ini, Harhour Energy mengebor dua sumur dan dua lagi tahun depan di Andaman. “Berupaya tingkatkan reserve gas dan kondensat, juga reaktivasi LNG Arun, dengan menjadikan receiving dan regasification terminal.”
Disisi lain, guna menggenjot lifting juga SKK Migas berkerjasama Amerika Serikat khusus EOG Resources dengan menggali potensi migas non konvensional (MNK). Di AS sudah berhasil melakukan ekspor migas melalui revoluasi teknologi MNK.”Semua gara-gara revolusi non konvensional, seperti shale gas atau oil, dan bagaimana MNK diaplikasi di Blok Rokan.”
Deputi Dukungan Bisnis SKK Migas Rudi Satwiko menambahkan, sebagai target pertama yakni produksi sejuta barel dan gas setara 12 BSCFD. Selain itu, tentu terpenting juga adalah mendorong multiplier effect sektor migas serta sustainable environment. “Nah kegiatan Forum Kapasitas Nasional III ini merupakan bagian dari upaya mendorong multiplier effect.”
Untuk tahun ini, lanjut Rudi, melampau target. Kedepan, bagaimana mendorong peningkatan penggunaan local content. “Hanya saja tentu untuk tahap awal untuk deep water memang tidak banyak sehingga berkurang, tetapi dari sisi amount (jumlah) terus bertambah.”
Nanang mengutarakan, selain revenue di hulu migas sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi juga menciptakan multiplier effect ke sektor lainnya. Secara langsung dapat diimplementasikan ke penyedia barang atau jasa sektor hulu migas.” Seperti hotel, catering, transportasi, maupun bidang kesehatan dan pendidikan. Harapan terus bergulir dan mendorong ekonomi nasional.”/



