JAKARTA, Bisnistoday – Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi pengenaan tarif terhadap barang-barang impor dari Kanada dan Meksiko sebesar 25%. Trump dikabarkan telah memutuskan untuk menaikkan tarif impor dari Tiongkok menjadi 20% yang juga akan mulai efektif hari ini. Bahkan, masih ada kemungkinan tarif impor dari Tiongkok akan kembali dinaikkan bila Tiongkok melakukan retaliasi.
“Kebijakan yang dilakukan oleh Trump ini, menurut kami, justru sangat berpotensi untuk berdampak negatif terhadap perekonomian AS antara lain karena potensi kenaikan biaya produksi perusahaan, kenaikan inflasi, dan penurunan konsumsi masyarakat, dan penurunan kepercayaan konsumen,” ungkap Rully Arya Wisnubroto, Tim Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia di Jakarta, Selasa (4/3).
Sementara, menurut Rully, data ekonomi AS dalam beberapa pekan terakhir mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan, antara lain ditunjukkan oleh Michigan consumer sentiment index, existing home sales, dan S&P PMI yang lebih rendah dari ekspektasi. Selain itu, indikator Atlanta Fed kemarin menunjukkan kemungkinan terjadi kontraksi ekonomi AS sebanyak 2,8% pada 1Q25.
“Perkembangan tersebut menyebabkan ekspektasi jumlah pemangkasan FFR meningkat menjadi 2,9, tertinggi sejak pertengahan Desember 2024, imbal hasil UST tenor 10 tahun turun menjadi 4,16%, dan indeks Dollar (DXY) turun menjadi 106,5,” urainya.
Disisi lain, Rully Arya memperkirakan hal ini dapat berdampak positif kepada Rupiah hari ini, dan imbal hasil SBN akan turun. Namun pelemahan signifikan Dow Jones dan S&P500 berpotensi untuk menimbulkan koreksi IHSG hari ini menyusul penguatan tajam sebesar 4% kemarin.
Tim Mirae Asset Sekuritas memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHG) pada perdagangan Selasa (4/3), IHSG diperkirakan bergerak konsolidasi, dengan rentang perdagangan di level 6,479 hingga 6,585. Support di level 6,350./









































