BANDUNG BARAT, Bisnistoday – Duka mendalam masih menyelimuti Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Hingga hari kesepuluh operasi pencarian, tim Search and Rescue (SAR) gabungan telah mengevakuasi 80 jenazah korban bencana tanah longsor, menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu tragedi longsor paling mematikan di Jawa Barat dalam beberapa tahun terakhir.
Meski jumlah kantong jenazah telah mencapai 80, proses identifikasi korban belum sepenuhnya rampung. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat baru berhasil mengidentifikasi 58 jenazah. Sisanya masih melalui tahapan rekonsiliasi data ante-mortem dan post-mortem, guna memastikan tidak terjadi kekeliruan identitas.
“Pencarian tetap dilanjutkan karena belum semua jenazah teridentifikasi. Bisa saja satu identitas berada di dua kantong berbeda,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Bandung Barat, Ade Zakir, saat memberikan keterangan di Bandung
Operasi SAR Diperluas, Risiko Longsor Susulan Mengintai
Memasuki hari kesembilan dan kesepuluh, cakupan operasi SAR diperluas secara signifikan. Langkah ini diambil seiring bertambahnya kekuatan personel dan alat utama, namun tetap dengan pengendalian risiko ketat mengingat potensi longsor susulan yang masih tinggi.
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, menegaskan bahwa setiap pergerakan tim di lapangan didahului asesmen keselamatan berbasis teknologi.
“Sejak pukul 06.00 WIB kami melakukan pemetaan menggunakan drone UAV untuk menentukan area aman, jalur evakuasi, dan sektor prioritas pencarian,” ujarnya.Dalam operasi ini, 22 ekor anjing pelacak K-9 dikerahkan untuk menyisir tiga sektor utama, Alpha, Bravo, dan Charlie, sementara 18 unit alat berat dari berbagai tipe digunakan secara terkontrol untuk membuka material longsoran.
Ribuan Personel Dikerahkan, Skala Operasi Jadi Sorotan
Operasi SAR di Cisarua tercatat melibatkan 3.713 personel gabungan, terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, kementerian terkait, hingga relawan. Skala pengerahan ini mencerminkan tingkat kedaruratan sekaligus kompleksitas medan bencana.
Data sementara mencatat 158 jiwa terdampak, dengan rincian 78 orang selamat, 80 orang meninggal dunia, dan kemungkinan masih terdapat korban yang belum ditemukan
Tragedi Cisarua kembali menyalakan alarm keras terkait kerentanan kawasan rawan longsor, khususnya di wilayah dengan tekanan alih fungsi lahan yang tinggi. Pakar kebencanaan menilai, tanpa pembenahan serius terhadap tata ruang, sistem peringatan dini, dan disiplin pembangunan, bencana serupa berpotensi terulang.
Bagi warga Pasirlangu, longsor ini bukan sekadar bencana alam, melainkan tragedi kemanusiaan yang meninggalkan luka mendalam dan trauma berkepanjangan./ant/


