JAKARTA, Bisnistoday – PT Waskita Karya (Persero) Tbk bersama PT Jakarta Propertindo (Perseroda) telah memulai rangkaian Testing and Commissioning (T&C) sistem perkeretaapian LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai beberapa waktu lalu. Salah satunya melaksanakan tes jalur lintasan sepanjang 3,6 kilometer (km) yang menghubungkan Stasiun Velodrome dengan Stasiun Pramuka.
Direktur Utama Jakarta Propertindo (Jakpro) Iwan Takwin mengatakan, tahapan T&C dilakukan secara detail agar seluruh sistem siap digunakan. Proses tersebut mencakup pengujian sistematis dan terstruktur terhadap semua komponen dan subsistem sebelum operasional komersial dijalankan, mulai dari jalur, persinyalan, kelistrikan, komunikasi, hingga integrasi operasional.
“Setiap meter pada jalur layang LRT Jakarta Fase 1B adalah tanggung jawab kami kepada masyarakat DKI Jakarta yang akan mengandalkan LRT setiap harinya. Maka itu, tahapan T&C ini harus dipersiapkan sangat matang,” ujar Iwan.
Direktur Operasi II Waskita Karya Paulus Budi Kartiko mengatakan, keterlibatan Waskita Karya pada pembangunan LRT Fase 1B bukan hanya terkait pekerjaan konstruksi tapi juga kesempatan untuk menunjukkan hasil atau showcase capability. Proyek dengan visibilitas tinggi (high visibility) ini menjadikan kualitas kerja langsung berdampak terhadap reputasi jangka panjang.
Lingkup kerja Waskita pada LRT Jakarta Fase 1B mencakup integrasi sipil, rel, sistem, dan operasi. Perseroan terus mempercepat pengerjaannya supaya bisa segera dimanfaatkan publik, realisasi pembangunan proyek senilai Rp4,1 triliun tersebut sudah menembus 92,76 persen.
“Dalam proses pengerjaan, tantangan utama (urban constraint) yang kami hadapi sebagai kontraktor di antaranya lalu lintas Jakarta yang padat dan ruang kerja terbatas. Maka solusinya, kami optimalkan waktu kerja pada malam hari yang menuntut fokus dan inovasi pada sistem safety dan sistem kerja, kami melihat ini sebagai constraint yang harus dikelola, bukan dihindari,” jelas Paulus dalam keterangan resmi, Selasa (19/5).
Dalam pelaksanaan tes jalur lintasan, lanjut dia, salah satu area yang dilintasi yaitu perlintasan di atas Jalur Aktif Tol Wiyoto-Wiyono pada kilometer 1+700 sampai 2+100. Maka demi menjaga kondisi lalu lintas di jalan tol itu agar tidak terganggu selama masa konstruksi, Waskita berinovasi menggunakan metode balance cantilever dengan span sepanjang 120 meter (m).
“Keselamatan konstruksi, baik dalam pengamanan konstruksi balance cantilever maupun pengguna jalan harus diutamakan,” tutur Paulus. Ia menambahkan, monitoring survey dan chamber juga dilaksanakan secara berkala setiap hari.//

