www.bisnistoday.co.id
Selasa , 8 September 2026
Home EKONOMI Sektor Publik dan Swasta Masih Sulit Adopsi Keuangan Berkelanjutan
EKONOMI

Sektor Publik dan Swasta Masih Sulit Adopsi Keuangan Berkelanjutan

NILAI TUKAR RUPIAH: Gubernur BI, Perry Warjiyo memprediksikan, kurs rupiah akan bergerak menguat sesuai dengan fundamentalnya ketika ketegangan dan gejolak global mereda
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Sektor publik dan swasta masih sulit mengadopsi dan mengakses instrumen keuangan berkelanjutan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Bank Indonesia (BI).

Padahal, perkembangan instrumen keuangan berkelanjutan sejak 2007 menunjukkan tren yang menggembirakan, tak hanya secara volumen, tetapi dalam berbagai jenis instrumen.

” Kami memiliki instrumen keuangan pasar modal, seperti obligasi hijau, berkelanjutan, terkait berkelanjutan, sosial, serta pinjaman, serta pasar pinjaman instrumen seperti pinjaman hijau dan pinjaman berkelanjutan,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam Side Event Presidensi G20 Indonesia, di Jakarta, Jumat (18/2).

Perry menyadari beberapa lembaga keuangan global mulai memanfaatkan instrumen pasar uang hijau, seperti repo hijau atau berkelanjutan, surat komersial hijau atau berkelanjutan, dan derivatif hijau atau terkait environmental, social & governance (ESG).

Maka dari itu, dalam mengatasi hambatan tersebut dibentuk lah alur kerja kedua Kelompok Kerja Keuangan Berkelanjutan G20 (SFWG), yakni meningkatkan instrumen keuangan berkelanjutan dengan fokus pada peningkatan aksesibilitas dan keterjangkauan.

Negara-negara G20 harus berkoordinasi dan bekerja sama dalam mengatasi masalah bersama, seperti standar, alat penyelarasan pasar termasuk untuk pelaporan dan persyaratan pengungkapan, metrik data ESG, dan layanan verifikasi.

“Tidak hanya berbagai instrumen, ini relevan untuk pemerintah, otoritas sektor keuangan, dan sektor swasta untuk bersama-sama menciptakan ekosistem keuangan berkelanjutan yang akan mendukung peningkatan aspirasi,” tegas Perry.

Dirinya berpendapat hal tersebut penting karena instrumen tidak dapat berfungsi dengan baik secara sendirian.

Pasar instrumen keuangan berkelanjutan domestik yang kredibel dan efisien tak dapat diciptakan tanpa ketersediaan entitas lokal yang memberikan verifikasi, sertifikasi, pelabelan, dan jasa konsultasi.

Dengan demikian, sebuah ekosistem mengatur proses penting yang mendukung stabilitas sistem dan menjaga keseimbangan di antara para pemain kuncinya./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Indonesia Usung Isu Pembiayaan Inklusif di Forum APEC

GUANGZHOU, Bisnistoday - Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyampaikan rangkaian kebijakan pemerintah memperluas...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Tiga Tantangan Koperasi Tembus Pasar Global

JAKARTA, Bisnistoday — Kementerian Koperasi (Kemenkop)  mengindentifikasi tiga tantangan yang menyebabkan koperasi masih...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kemenkop Siapkan Mesin Pascaproduksi bagi KDKMP Pada 2027

LAMPUNG, Bisnistoday – Kementerian Koperasi (Kemenkop) akan menyiapkan alat-alat mesin-mesin pascaproduksi untuk...

Aldy Amir
EKONOMI

Aldy Amir Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua SP SKK Migas Periode 2026–2028

JAKARTA, Bisnistoday – Serikat Pekerja Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu...