www.bisnistoday.co.id
Minggu , 16 Agustus 2026
Home GLOBAL Konflik Rusia -Ukraina : Indonesia Jangan Berpihak dan Aktif Ambil Peran Perdamaian
GLOBAL

Konflik Rusia -Ukraina : Indonesia Jangan Berpihak dan Aktif Ambil Peran Perdamaian

Serangan Iran
ILUSTRASI Pasukan Infantri tengah siaga antisipasi serangan./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday –  Pengamat Hukum Internasional, Hikmahananto Juwono meminta, pemerintah Indonesia tidak berpihak dalam merespon konflik Rusia -Ukraina. Indonesia harus lebih mengedepankan penghentian konflik bersenjata dan aktif ambil peran dalam perdamaian. 

Hikmahananto mengungkapkan, dalam merespon konflik Rusia-Ukraina ini, Presiden Jokowi telah menyerukan penghentian perang. Dalam piagam PBB, pernyataan Jokowi mengacu pada pasal 2 ayat 3 bahwa penyelesaian konflik harus dengan kedamainan, dan tidak membahayakan keamanan. 

“Namun ada sedikit berbeda dengan pernyataan Menlu, bahwa serang ke Ukraina tidak bisa diterima. Kalau begini berarti mengacu pada Pasal 2 ayat 4 Piagam PBB, artinya mendukung salah satu yang terlibat. Ini mana yang dipegang,” terang Hikmahananto, dalam bicang Gelora Talks, bertajuk perang Rusia vs Ukraina, apa dampaknya pada Peta Geopolitik Dunia? di Jakarta, Rabu (2/3).

Menurut Hikmahananto, dengan menyatakan, tidak diterima berarti sudah menghakimi salah satu pihak yang berkonlik. Padahal Indonesia itu bukan hakim dalam penyelesaian konflik perang Rusia-Ukraina. “Menurut saya, intinya sangat berharap rakyat sipil tidak boleh menderita. Kedua pihak harus didorong perundingan damai. Walaupun statement Indonesia itu dianggap Ukraina belum keras. Tapi bisa saja Rusia menganggap sudah cukup keras.”

Lebih lanjut Hikmahanto mengatakan, apabila tidak ada pencegahan maka perang bisa saja meluas. Apalagi, Rusia bersitegang akan menyiapkan sejata nuklirnya siap melakukan perlawanan. Sedangkan AS sendiri tidak masuk ke Ukraina karena belum masuk NATO, hanya bersiaga di wilayah perbatasan. “Namun kalau NATO diserang, akan melawan juga,” ujarnya. 

Perang Abaikan Segala Aturan

Pengamat Hukum Internasional, Hikmahananto Yuwono mengatakan, dalam perang, semua bisa mencari pembenaran sendiri-sendiri. Bisa saja, ketika AS menyerang Irak  hingga Sadam Husein diturunkan dan penyerangan Afganistan, tidak ada yang menghakimi Amerika Serikat.

”Mungkin pertimbangan atas ekspansi NATO tersebut, maka Putin lebih baik serang duluan,” terangnya. 

Termasuk Rusia, dalam penyerangan pertama ditujukan untuk melindungi dua wilayah Donbass dan Luhansk menjadi sasaran utama Rusia. Berdalih, Rusia telah mengakui kedaulatan kedua wilayah tersebut, yang hanya saja dalam perkembanganya malah menyerang Ibukota Ukraina, Kiev.

“Serangan awal ke dua kota wilayah Ukraina, dan kenapa juga dilanjutkan ke Kiev Ukraina. Tentu menjadi pertanyaan. Seperti diketahui Presiden Ukraina telah berpihak ke NATO dan Eropa. Kalau Ukraina telah bergabung ke NATO, tentu sejata NATO akan masuk ke perbatasan Rusia, bisa saja lebih baik lakukan serangan sekarang,” ungkap Hikmahananto./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Politikus Partai Demokrat Abdul El-Sayed (Dok:Reuters)
GLOBAL

Kemenangan El-Sayed Permalukan Kubu Pro-Israel

JAKARTA, Bisnistoday – Kemenangan Abdul El-Sayed di Michigan dalam pemilihan pendahuluan Partai...

Kapal Tanker (Ilustrasi/dok:unsplash/scott-tobin)
GLOBAL

AS Mengklaim Perundingan Selat Hormuz Mengalami Kemajuan

JAKARTA, Bisnistoday - Menteri Luar Negeri Amerika Marco Rubio mengatakan pihaknya secara...

Demo Antiperang (dok:Unsplash.comev-Mz6vYiI8CSA)
GLOBAL

Babak Baru Perundingan AS-Iran Dimulai Hari Ini

JAKARTA, Bisnistoday - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negosiasi dengan Iran...

Para pendukung gerakan Democratic Socialists of America. (Dok:DSA)
GLOBAL

Jalan Berliku Perjuangan Kaum Sosialis di Amerika

JAKARTA, Bisnistoday - Para kandidat berhaluan kiri di Amerika Serikat yang berafiliasi...