JAKARTA, Bisnistoday- Penutupan dan pengambilalihan tiga bank di Amerika Serikat (AS) yang bangkrut dan membuat gejolak pasar keuangan di Negeri Paman Sam perlu diwaspadai. Pasalnya, transmisi dari persepsi dan psikologi bisa menimbulkan situasi yang cukup signifikan bagi sektor keuangan.
Karena itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani berharap pemerintah Amerika Serikat bisa segera menstabilkan sektor keuangannya karena akan mempengaruhi perekonomian global.

Apalagi saat ini arah kebijakan Bank Sentral AS, The Fed masih akan hawkish lantaran kondisi inflasi AS yang masih tinggi.
Sebenarnya, kata Sri Mulyani, SVB merupakan bank regional dengan aset yang relatif kecil di AS, yakni hanya 200 miliar dolar AS, dibandingkan dengan jumlah aset perbankan AS yang bisa mencapai 1,3 kuadriliun dolar AS.
Kendati begitu, lanjut Menkeu, bank tersebut mampu memberikan guncangan yang signifikan dari sisi kepercayaan deposan di AS, sehingga menjadi suatu pelajaran yang perlu untuk dicermati bahwa sebuah bank kecil dalam posisi tertentu bisa menimbulkan persepsi sistemik.
Lantaran telah menggoyang seluruh kepercayaan sektor keuangan AS, Pemerintah Amerika yang pada awalnya tidak memberikan dana talangan atau bailout pun memutuskan untuk melakukan bailout sehingga menjamin seluruh deposito SVB.
“Dalam hal ini Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) memberikan kepastian untuk penyelamatan dari deposan, baik yang diasuransikan (insured) maupun yang tidak diasuransikan (non insured),” kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2023 di Jakarta, Selasa (14/3).
Sri Mulyani mengungkapkan sejauh ini terdapat beberapa analisa awal yang muncul sebagai penyebab runtuhnya SVB, yakni kinerja perusahaan rintisan (startup) yang menurun pada tahun 2022 sehingga menyebabkan anjloknya kredit SVB, yang merupakan bank khusus pemberi pendanaan kepada perusahaan rintisan.
Analisa lainnya yakni SVB mengalami kenaikan deposito lebih dari tiga kali lipat hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, sedangkan penyaluran kredit tertahan karena kinerja perusahaan rintisan dan menyebabkan neraca keuangan SVB tertekan.
“Akibat tingginya deposito SVB, dana yang terkumpul tersebut dibelikan surat berharga negara AS jangka panjang yang mengalami penurunan nilai karena kenaikan suku bunga Fed,” jelas Menkeu.
Meskipun demikian, dirinya menyebutkan banyak pihak yang mengatakan penutupan SVB kini tidak akan seperti kondisi bangkrutnya salah satu perusahaan terbesar di AS, Lehman Brothers pada tahun 2008 yang menyebabkan krisis ekonomi global.
Kala itu, Lehman Brothers bangkrut karena kredit macet yang terjadi pada perusahaan properti dan real estat di Negeri Paman Sam.
Seperti diketahui bahwa Negeri Paman Sam itu saat ini sedang diguncang dampak penutupan Silicon Valley Bank (SVB) California, dan pengambilalihan Silvergate Bank dan Signature Bank.
Tak Berdampak kepada Indonesia
Secara terpisah, analis dan sekaligus praktisi hukum kepailitan dan restrukturisasi utang dari kantor Frans & Setiawan Law Office, Hendra Setiawan Boen mengatakan, penutupan dan pengambilalihan tiga bank di AS yang bangkrut dinilai tidak akan berdampak banyak bagi sektor keuangan di Indonesia serta tidak akan mengulang kembali krisis ekonomi besar tahun 2007 – 2008.
“Pertama, pemerintah Amerika Serikat telah bergerak cepat mengantisipasi dengan memastikan semua deposan akan dapat mengambil kembali uang mereka. Karena sejak krisis subprime mortgage tahun 2007, pemerintah Amerika telah mencadangkan uang lebih dari 100 miliar dolar AS sebagai jaring pengaman apabila terjadi peristiwa semacam ini,” kata Hendra.
Hendra mengatakan bahwa kejadian ini hanya berdampak besar kepada negara yang memiliki cabang dari tiga bank tersebut. Itu pun pemerintah negara-negara tersebut segera melakukan upaya untuk memitigasi resiko. Inggris misalnya, lolos dari krisis karena bank HSBC bersedia membeli Silicon Valley Bank cabang Inggris dengan harga 1 poundsterling dan menjamin simpanan deposan.
Selain itu, perusahaan rintisan yang menerima pendanaan dari ketiga cabang bank itu akan kesulitan seperti di Republik Rakyat China. Namun sepengetahuan dirinya ketiga bank yang bangkrut tersebut tidak memiliki cabang di Indonesia.
“Kalaupun ada perusahaan rintisan Indonesia atau perusahaan kripto yang menyimpan atau menerima dana dari ketiga bank maka kesulitan keuangan hanya terlokalisir pada perusahaan-perusahaan tersebut, yang terlalu kecil untuk bisa berdampak sistemik kepada keuangan Indonesia,” ujar Hendra.
Hendra juga yakin bahwa perbankan Indonesia memiliki kecukupan modal yang tinggi sehingga akan mampu membendung gejolak keuangan dan likuiditas global.
“Yang terpenting, secara fundamental, saat ini Indonesia sudah jauh lebih kuat daripada saat terjadinya krisis moneter 1997 dan krisis subprime mortgage tahun 2007. Perangkat institusional dan aturan-aturan juga sudah lebih rigid yang memungkinkan Indonesia mengarungi krisis keuangan,” kata Hendra./




































