JAKARTA, Bisnistoday – Kehadiran eksperimen pasangan Anies Iman untuk begitu menarik perhatian publik dan menjadikan pilkada Daerah Khusus Jakarta lebih bergema secara nasional hampir setara pemilihan Presiden.
Mengapa? Karena Pilkada DKJ menjadi barometer nasional dan para gubernurnya sekaligus menjadi tokoh kaliber nasional, yang potensial menjadi presiden pada periode berikutnya.
Yang menarik dan juga menjadi perhatian publik karena Shohibul Iman, PhD (PKS) dan Anies Baswedan, PhD keduanya adalah mantan rektor Universitas Paramadina.
Pilkada DKJ, menjadi menarik sekali bukan hanya karena Anies, Iman dan PKS, yang memenangkan pemilihan legislatif di Jakarta. Di kota ini pilkada berlangsung dengan suasana seperti pilpres sehingga menarik perhatian semua kalangan pengamat, media, luar negeri dan masyarakat sendiri.
Di dalam pilkada DKJ ini sudah jelas Anies paling tinggi daya jual dan elektabilitasnya. PKS dalam hal ini bergerak lebih awal dengan semangat merebut lebih dahulu ketimbang Nasdem dan PKB yang sudah berniat semi terbuka untuk mencalonkannya.
Karena tidak merupakan hasil musyawarah, maka beberapa pihak analis menyatakan pasangan Aman ini tidak aman. Memang begitulah politik, sebelum penetapan resmi KPUD, siapa pun bakal calon di pilkada ini masih bisa berubah total terbalik dari rencana semula. Ini ciri politik Indonesia yang sama sekali tidak memiliki ideologi apa pun, kecuali transaksional belaka.
Bagi Anies sendiri, pilkada ini turun pangkat, tetapi penting untuk persiapan pilpres 2029. Jika mundur dari politik sudah pasti namanya lenyap dari peredaran, seperi Wiranto, Agum Gumelar, Hatta Rajasa, dan lain-lain.
PKS paling sukses dan paling tinggi perolehan suaranya di Jakarta. Tetapi untuk urusan pencalonan gubernur tidak bisa sendiri sehingga memerlukan kawan partai lain. Posisi merebut lebih berhasil juga merebut perhatian publik.
Tetapi bukan tidak mungkin ini menjadi bumerang bagi pasangan ini bubar ketika lobi-lobi lanjutan terjadi. Nasdem dan PKB tentu tidak bisa menelan begitu saja semacam “corporate action” ini. Lobi akan terus berlangsung dengan interest yang pasti kuat dari partai-partai lainnya.
Pasangan Aman bisa bubar karena proses lobi yang intensif, atraktif bahkan liar tetapi Anies akan menjadi rebutan sehingga menjadi calon paling potensial jadi, kecuali ada konspirasi kekuatan jahil untuk meruntuhkannya.
Ridwan Kamil akan mengambil peluang ini dan keberuntungan untuk tahun 2029. Jadi Pilkada DKJ ini sangat jelas berhubungan langsung dengan politik 2029, khususnya Pilpres.
Bagaimana jika Ahok masuk gelanggang dan diusung kembali oleh partai seperti PDIP? Action seperti ini perkara baru, yang bisa membangunkan lagi radikalisme tertentu dan akan menular lebih luas, masuk akan kembali mengulangi 2017.
JAKARTA, Juni 2024
Oleh : Prof. Didik J Rachbini, Rektor Universitas Paramadina







































