JAKARTA, Bisnistoday – Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) akan mengusulkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk agregator yang nilainya di atas Rp500 juta. Dengan cara ini diharapkan agregator bisa menampung, menjadi off-taker dari usaha mikro yang menjadi rantai pasoknya.
Hal tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang UKM KemenKopUKM, Temmy Satya Permana saat konferensi pers bertajuk “Inovasi Pembiayaan Untuk UMKM” di Jakarta, Kamis (03/10).
KemenKopUKM, lanjut Temmy, mendorong dilakukannya kajian dan diskusi dengan para pemangku kepentingan, baik perbankan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), untuk menguji insentif (KUR untuk agregator) bisa dikeluarkan di pemerintahan berikutnya. Mudah-mudahan akhir tahun ini sudah bisa, kita rumuskan bersama untuk kita dorong ke Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian agar bisa masuk dalam skema KUR,” ujarnya.
Temmy mengatakan, agregator berperan untuk membantu pelaku usaha mikro agar tercipta ekosistem yang lebih kuat dan melakukan penetrasi pasar, karena memang faktanya adalah usaha mikro tidak bisa maju langsung ke pasar.
“Jadi semangat kita membangun, tidak bisa usaha mikro maju sendiri-sendiri tapi ada peran agregator. Jadi kami di UKM sebetulnya bertugas juga mengagregasi teman-teman di mikro, sehingga biar tercipta ekosistem yang lebih kuat dan lebih bisa penetrasi ke pasar sebetulnya,” ujar Temmy.
Contohnya Du Anyam yang melakukan pemberdayaan dan mengangkat perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui anyaman lontar yang berhasil ekspor ke pasar internasional.
“Kenapa menjadi penting kita melakukan subsidi kepada kredit menengah karena kalau mereka mendapatkan pendanaan pembiayaan yang murah, mau tidak mau dia bisa memberikan spare lebih tinggi kepada rantai pasoknya yakni usaha mikronya, tanpa harus menekan harga beli dari rantai pasoknya,” kata Temmy.
Kemudian agregasi ini bisa memastikan kualitas, karena agregator melakukan kurasi dan pembinaan terhadap kualitas barang yang disetor oleh usaha mikro.
Baca juga:Moral Hazard Kebijakan Kredit Usaha Rakyat
“Jadi teman-teman usaha mikro harus ikut standar yang ditetapkan oleh agregatornya. Biar agregatornya berurusan dengan pasar,” ujar Temmy.
Pembiayaan Melalui IPO
Selain pembiayaan UKM melalui perbankan, KemenKopUKM juga mendorong UKM untuk mecari pembiayaan melalui pasar modal. Saat ini sudah ada 17 UKM yang telah melepas sahamnya atau Initial Public Offering (IPO) di papan Akselerasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Dan dana yang dihimpun senilai Rp753,13 miliar.
Saat ini, kata Temmy, sebanyak sepuluh UKM tengah mempersiapkam diri untuk melakukan IPO. Kesepuluh UKM ini masih dalam proses kurasi.
Temmy mengakui bahwa saham-saham sektor UKM kurang diminati investor (likuid). Karena itu, dia meminta kepada pihak BEI untuk bisa menarik pelaku pasar untuk bisa aktif mentrasaksikan saham-sahan UKM.









































