JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal pekan, Senin (12/7) ditutup menguat 38,72 poin ke posisi 6.078,57, sementara indeks LQ45 naik 4,06 poin ke posisi 844,4. Naiknya IHSG kali ini mengikuti penguatan bursa saham regional Asia.
“Indeks saham Asia sore ini Senin ditutup menguat ditopang oleh kebijakan bank sentral China yang menurunkan GWM sebesar 50 basis poin serta antisipasi akan musim laporan keuangan kuartal II 2021,” tulis Tim Riset Phillip Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Senin (12/7).
Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan kasus Covid-19 dengan dimulainya status darurat di Tokyo, Jepang.
Dibuka menguat, IHSG hari ini nyaman bergerak di zona hijau baik pada sesi pertama dan juga sesi kedua hingga akhirnya ditutup naik.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor meningkat di mana sektor kesehatan naik paling tinggi yaitu 3,29 persen, diikuti sektor barang konsumen primer dan sektor keuangan masing-masing 1,51 persen dan 1,41 persen.
Sedangkan, tujuh sektor terkoreksi dengan sektor teknologi turun paling dalam yaitu minus 2,25 persen, diikuti sektor transportasi dan sektor barang konsumen nonprimer masing-masing minus 1,69 persen dan minus 0,86 persen.
Penutupan IHSG diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp872,47 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.218.142 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 17,08 miliar lembar saham senilai Rp12,23 triliun. Sebanyak 237 saham naik, 274 saham menurun, dan 150 tidak bergerak nilainya.
Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 628,6 poin atau 2,25 persen ke 28.569,02, indeks Hang Seng naik 170,7 poin atau 0,62 persen ke 27.515,24, dan indeks Straits Times meningkat 14,45 poin atau 0,46 persen ke 3.145,85.
Rupiah Pun Menguat
Sementara itu, kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup menguat 35 poin atau 0,24 persen ke posisi Rp14.493 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.528 per dolar AS.
“Penguatan rupiah mungkin ditopang oleh sentimen positif pasar terhadap kebijakan pelonggaran moneter bank sentral China yang akan memangkas GWM sebesar 50 basis poin yang akan berlaku tanggal 15 Juli,” kata pengamat pasar uang, Ariston Tjendra seperti dikutif Antara.
Menurut Ariston, pemangkasan Giro Wajib Minimum (GWM) oleh People’s Bank of China atau PBoC tersebut akan menambah likuiditas di pasar keuangan.
Dari domestik, pada Minggu (11/7) kemarin, jumlah kasus baru Covid-19 di Tanah Air mencapai 36.197 kasus sehingga total kasus terkonfirmasi positif Covid-19 menjadi 2.527.203 kasus.
Indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama lainnya saat ini berada di level 92,216, naik dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yaitu di posisi 92,130.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun saat ini berada di level 1,333 persen, turun dibandingkan posisi penutupan sebelumnya 1,356 persen.
Rupiah pada pagi hari dibuka menguat ke posisi Rp14.483 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.480 per dolar AS hingga Rp14.498 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin menguat ke posisi Rp14.486 per dolar AS dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya Rp14.548 per dolar AS./



