BANDUNG, Bisnistoday -Polytron resmi meresmikan showroom electric vehicle (EV) pertamanya di Bandung sebagai bagian dari strategi memperluas akses sekaligus mendorong edukasi kendaraan listrik di Jawa Barat.
Langkah sekaligus bentuk keseriusan Polytron memasuki segmen mobil listrik nasional, dan Bandung dipilih sebagai salah satu pasar kunci.
Commercial Director Polytron, Tekno Wibowo, mengatakan Jawa Barat,khususnya Bandung, memiliki ceruk pasar yang sangat potensial.
“Komunitas di Bandung itu kuat. Kepercayaan terhadap brand Polytron juga sudah terbentuk lama, terutama dari produk-produk elektronik dan motor listrik kami,” ujar Tekno.
Ke depan, Polytron membuka peluang untuk menambah jumlah showroom guna meningkatkan kepercayaan dan kemudahan akses konsumen. Meski demikian, Tekno menilai pola komunikasi saat ini juga sangat terbantu oleh media sosial.
“Sekarang zamannya TikTok dan Instagram. Konsumen bisa dapat banyak informasi di sana. Kalau masih ragu, baru datang ke showroom untuk mencoba langsung,” ujarnya.
Fokus Edukasi di Tengah Ramainya Merek Mobil Listrik
Berbeda dengan motor listrik yang pasarnya sudah lebih matang, Polytron mengakui segmen mobil listrik masih dalam tahap awal pengembangan. Karena itu, strategi utama yang dijalankan adalah edukasi konsumen.
Menurut Tekno, semakin banyaknya merek mobil listrik yang masuk ke Indonesia pertanda baik. Di sinilah peran showroom menjadi penting, bukan sekadar tempat penjualan, tetapi juga pusat informasi.
“Kami ingin konsumen datang ke showroom bukan hanya untuk melihat produk, tapi juga mendapatkan edukasi yang benar tentang mobil listrik, keuntungannya apa, penggunaannya seperti apa, sampai ke layanan purna jualnya,” jelasnya.
Ia menegaskan, kekuatan merek menjadi faktor penting dalam keputusan konsumen. Dengan pengalaman lebih dari 50 tahun di Indonesia, Polytron berkomitmen menjaga reputasi dan memberikan jaminan layanan jangka panjang.
“Jangan sampai beli produk, tapi ke depannya bermasalah dari sisi after sales. Itu yang ingin kami jaga,” tambahnya.
Menanggapi isu penghapusan insentif kendaraan listrik, Tekno menjelaskan bahwa yang dihentikan adalah insentif untuk mobil listrik CBU (completely built up). Sementara insentif lain seperti PPN Ditanggung Pemerintah (DTP)masih berjalan.
“Untuk Polytron seharusnya tidak menjadi masalah karena kendaraan kami dirakit di dalam negeri. Justru yang terdampak adalah merek yang masih mengandalkan impor utuh,” katanya.
Sehingga jika aturan tersebut diberlakukan, mulai tahun depan, produsen yang ingin tetap kompetitif harus sudah memulai produksi di Indonesia.
Terkait persaingan dengan merek-merek besar, Polytron melihatnya sebagai dinamika pasar yang wajar. Tekno menilai, dalam jangka panjang hanya merek dengan produk dan layanan terbaik yang akan bertahan.
“Seperti di China, dari ratusan merek akhirnya tinggal puluhan. Itu hukum alam. Yang kuat adalah yang serius membangun produk dan servis,” katanya.
Meski masih meraba potensi mobil listrik di Bandung, Polytron optimistis pasar akan berkembang seiring meningkatnya kepercayaan konsumen.
Kekuatan brand Polytron di Bandung dan Jawa Barat menjadi modal utama untuk memperluas adopsi mobil listrik ke depan.
“Kalau melihat kekuatan brand Polytron di Bandung, kami cukup yakin masyarakat akan menerima. Ini tinggal soal waktu dan edukasi,” tutup Tekno.(DN)


