JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah melalui sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama (Kemenag), Selasa (17/2/2026), menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis 19 Februari 2026. Itu artinya, besok sebagian besar umat muslim, mulai melaksanakan ibadah puasa.
Namun, ramadan kali ini mungkin dirasakan sedikit berbeda oleh sebagian saudara-saudara kita yang wilayah tempat tinggal mereka belum sepenuhnya pulih dari bencana, seperti di Aceh dan wilayah lainnya. Bagi mereka, ramadan kali ini harus dijalani dalam suasana keprihatinan. Bahkan di sebagian wilayah di Tegal, Jawa Tengah, warga hingga kini masih was-was dengan fenomena tanah bergerak yang mengancam tempat tinggal mereka.
Berbagai bencana seperti banjir dan tanah longsor yang terjadi akhir-akhir ini, mengajarkan kita banyak hal, terutama pentingnya rasa solodaritas dan kesetiakawanan. Ketika banjir melanda sebagian wilayah Sumatera, misalnya, sebagian dari kita (apapun agama yang dianut) rela mengulurkan bantuan, baik dana maupun tenaga, begitu pun dengan para petugas baik dari TNI, Polri, maupun tenaga medis yang berjibaku membantu untuk memastikan warga tetap sehat dan selamat.
Solidaritas seperti inilah yang semestinya terus dipelihara, bahkan ditingkatkan. Jangan semata saat terjadi musibah atau bencana. Jangan pula sebatas pada bulan suci. Spirit itu harus melandasi kehidupan berbangsa di negeri ini agar dapat melewati berbagai kesulitan.
Berbagai bencana yang telah memorak-morandakan sebagian wilayah negeri ini, mengajarkan kita satu hal betapa kecil dan tidak berdayanya manusia di hadapan alam yang notabene juga adalah ciptaan Tuhan.
Pada titik ini penting ditekankan bahwa ketergantungan kepada sang Pecipta tidak harus melulu diwujudkan dalam bentuk ritual ibadah fisik semata (seperti tadarus serta tarawih), tapi juga cinta dan belas kasih terhadap sesama.
“Hablum minallah, wa hablum minannas,” begitu kata sebuah hadis. Selain menjaga hubungan vertikal dengan sang Pencipta, manusia juga dititahkan merawat relasi horizontal, tidak sebatas kepada sesama, tapi juga pada makhluk hidup lainnya. Sebagai khalifah, kita ditugaskan menjaga Bumi dan seisinya, bukan malah merusaknya.
Bukankah saat terasing saat pandemi covid-19 dulu sebagian dari kita ada yang berteman dengan tanaman atau hewan peliharaan? Menurut sejumlah penelitian, makhluk-makhluk itu secara tidak langsung ikut berjasa menjaga kesehatan mental manusia selama masa paglebuk tersebut. Begitu pun udara bersih yang kita rindukan selama terkurung di rumah.
Itu semua mengajarkan kita betapa pentingnya merawat kesalehan sosial semacam ini, selain keyakinan spiritiual tentunya. Ramadan sesungguhnya menyelipkan pesan penting bahwa keyakinan teologis tidak hanya menstimulasi lahirnya semangat ibadah secara vertikal, tetapi juga harus mampu menggerakkan spirit solidaritas horizontal, baik antarsesama manusia maupun dengan makhluk hidup lainnya. Bencana boleh menggerus apa saja, tapi tidak rasa kemanusiaan kita. Selamat berpuasa.//






































