JAKARTA-Bisnistoday: Pemimpin Katolik sedunia Paus Leo XIV mengatakan Tuhan menolak doa para pemimpin yang mengobarkan perang dan tangan yang berlumuran darah.
Paus menyampaikan komentar tersebut pada Hari Minggu (29/3/2026, ketika ribuan pasukan AS tiba di Timur Tengah untuk melancarkan serangan darat ke Iran.
Banyak yang menafsirkan ucapan itu untuk menyindir pemeritahan Donald Trump (Presiden AS). Beberapa hari sebelumnya, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, ‘berdoa’ untuk menindak musuh-musuh yang menurutnya “tidak pantas mendapat belas kasihan”.
Selama misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus, Paus mengatakan konflik antara AS-Israel dengan Iran sangat mengerikan. Menurut Paus, Tuhan tidak membenarkan perang.
“Inilah Tuhan kita: Yesus, Raja Damai, yang menolak perang. Ia tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang,” katanya kepada puluhan ribu jemaat. “Ia tidak mendengarkan doa-doa mereka yang berperang.”
Mengutip sebuah ayat Alkitab, Paus Leo menambahkan: “‘Meskipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan: tanganmu penuh dengan darah.’”
Paus Katolik pertama dari AS ini memang tidak menyebutkan nama pemerintah atau individu mana pun, tetapi pernyataannya yang sangat tajam ini disampaikan setelah Hegseth ‘berdoa’ untuk menyerukan kekerasan dan peningkatan pengiriman pasukan darat AS di dekat Iran.
Paus mengutip sebuah ayat Alkitab di mana Yesus menegur seorang murid yang menggunakan pedang untuk mencoba mengusir tentara yang datang untuk menangkapnya.
“Yesus tidak mempersenjatai diri atau melawan,” kata Paus. “Ia mengungkapkan wajah Allah yang lembut, yang selalu menolak kekerasan. Alih-alih menyelamatkan diri-Nya sendiri, Ia membiarkan diri-Nya dipaku di kayu salib.”
Mengutip para pejabat AS, Washington Post mewartakan seruan untuk perdamaian muncul dari berbagai pihak ketika Pentagon bersiap untuk operasi darat selama beberapa minggu ke depan.
Di sisi lain, Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan pasukan negaranya sedang menunggu pasukan AS dan siap menumpas mereka.
Kontroversi
Penggunaan keyakinan agama oleh Hegseth dalam tindakan perang ini telah menarik perhatian dan kontroversi.
Minggu lalu dalam kebaktian Kristen untuk pekerja militer dan sipil di Washington, Hegseth berkata: “Biarlah setiap peluru mengenai sasarannya terhadap musuh-musuh kebenaran dan bangsa kita yang agung. Mereka tidak pantas mendapat belas kasihan.”
Menurut Guardian Hegseth merupakan anggota gereja yang berafiliasi dengan Persekutuan Gereja-Gereja Injili Reformasi, yang pendirinya mengidentifikasi diri sebagai seorang nasionalis Kristen.
Paus telah berulang kali menyerukan gencatan senjata dan larangan serangan udara dalam konflik yang telah mendatangkan kehancuran di Lebanon, Israel, dan negara-negara Teluk.
Dalam khotbahnya pada hari Minggu, Paus menyesalkan bahwa umat Kristen di wilayah tersebut mungkin tidak dapat merayakan Paskah.//






































