JAKARTA, Bisnistoday – Amerika Serikat dan Iran masih membahas rencana perundingan kedua dengan Pakistan selaku mediator. Namun, tanggal pasti kapan pertemuan tersebut belum ditentukan.
Kamis (16/4/2026), Kementerian Luar Negeri Pakistan mengonfirmasi bahwa para juru runding kedua negara sedang berdiskusi untuk mengadakan pertemuan lanjutan, setelah gagal mencapai kata sepakat pada pertemuan pertama pekan lalu.
Konflik bermula ketika AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu. Perundingan ini bertujuan untuk mengakhiri perang yang kini telah berlangsung hampir tujuh pekan. Sejauh ini, kedua pihak (AS-Iran, tanpa melibatkan Israel) sepakat melakukan gencatan senjata sementara hingga 22 April mendatang.
Namun, Kemenlu Iran menyatakan belum ada tanggal yang ditetapkan untuk putaran negosiasi berikutnya, meskipun Islamabad meningkatkan upaya diplomatik untuk menjaga proses perdamaian tetap berjalan.
“Siapa yang akan datang, seberapa besar delegasinya, siapa yang akan tinggal, dan siapa yang akan pergi, itu terserah pihak-pihak yang terlibat untuk memutuskan,” kata juru bicara Kemenlu Iran, Tahir Andrabi kepada wartawan di Islamabad.
“Kami memiliki detail dan informasi pembicaraan Sebagai mediator, penting bagi kami untuk menjaga kerahasiaannya,” imbuhnya.
Berbicara tentang putaran pertama pembicaraan pada 12 April lalu di Islamabad, yang berakhir tanpa kesepakatan, Andrabi mengatakan: “Tidak ada terobosan maupun kegagalan.”
Ia mengonfirmasi bahwa isu-isu nuklir tetap menjadi salah satu subjek utama pembahasan, tetapi menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut.
Komentar Andrabi muncul ketika para pemimpinan sipil dan militer Pakistan mengunjungi sejumlah negara di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi dan Qatar. Hal ini, menurut beberapa pengamat, mencerminkan upaya serius pemerintah untuk membingkai negosiasi sebagai upaya diplomatik yang berkelanjutan.
Diplomasi Paralel
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif telah tiba di Doha, Qatar pada Kamis. Ini merupakan kota kedua dari kunjungan empat hari yang bermula di Jeddah, Arab Saudi, pada Rabu. Selanjutnya, Sharif akan mengunjungi Antalya, Turki.
Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Pertahanan Pakistan (CDF) Asim Munir tiba di Teheran pada Rabu lalu dengan delegasi yang termasuk Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi.
Saat tiba di bandara Munie mendapat pelukan hangat dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang menyampaikan rasa terima kasih atas keramahan Pakistan dalam menyelenggarakan dialog.
Pada hari Kamis, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi Teheran dalam pembicaraan di Islamabad, juga bertemu dengan Munir.
Reza Amiri Moghadam, duta besar Iran untuk Pakistan, mengatakan pada sebuah acara di Islamabad bahwa Teheran tidak akan mempertimbangkan tempat lain selain Pakistan untuk pembicaraan dengan Washington.
“Kami akan melakukan pembicaraan di Pakistan dan tidak di tempat lain, karena kami mempercayai Pakistan,” katanya.
Muhammad Faisal, seorang analis keamanan dan cendekiawan Pakistan di Universitas Teknologi Sydney, mengatakan bahwa upaya diplomasi paralel tersebut merupakan strategi.
“Strategi Pakistan tampaknya memiliki dua jalur: PM Sharif meyakinkan sekutu-sekutu di Kawasan Teluk dan berupaya membangun koalisi dukungan yang lebih luas, sementara Munir terlibat dalam negosiasi yang sulit antara kedua pihak untuk mempersempit kesenjangan antara Iran dan AS, dengan tujuan memperpanjang gencatan senjata dan mencapai pengertian dari kedua pihak,” katanya kepada Al Jazeera.//




