JAKARTA, Bisnistoday – PT Kereta Api Indonesia (Persero) menandatangani Nota Kesepahaman dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam kegiatan BRIN Goes to Industry 5 di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Jakarta, Selasa (28/7). Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat riset, eksplorasi, dan adopsi teknologi perkeretaapian, termasuk pengembangan Automatic Train Protection (ATP).
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Ir. Yuliot Tanjung, M.M. dalam sambutannya mengatakan, transformasi industri Indonesia memerlukan sinergi yang semakin kuat antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan dunia usaha.
Menurut Yuliot, penguatan riset dan inovasi menjadi bagian penting dalam mendukung industrialisasi, meningkatkan daya saing nasional, mempercepat hilirisasi, serta menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Pemerintah juga memiliki peran dalam membangun ekosistem yang mendukung pengembangan teknologi dan struktur industri nasional.
Nota Kesepahaman dari pihak KAI ditandatangani oleh Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI I Gede Darmayusa. Penandatanganan menjadi bagian dari rangkaian kerja sama BRIN dengan sejumlah pelaku industri untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset dalam kegiatan operasional dan pengembangan teknologi.
Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN Dr. R. Hendrian, M.Sc. dalam laporannya menyampaikan bahwa BRIN Goes to Industry 5 dirancang untuk memperkuat kerangka kolaborasi antara lembaga riset dan industri. Kegiatan tersebut mencakup diskusi teknis, business matching, showcasing hasil riset, serta pertemuan langsung antara peneliti dan pelaku usaha dengan melibatkan sekitar 135 industri.
Manfaat Hasil Riset
Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. dalam sambutannya menekankan pentingnya memastikan hasil riset dapat dimanfaatkan oleh industri serta menghasilkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan dunia usaha diharapkan dapat mempercepat lahirnya inovasi yang aplikatif, meningkatkan produktivitas, membuka peluang usaha, serta mendukung pengurangan emisi dan pengelolaan lingkungan.
Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI I Gede Darmayusa mengatakan, pengembangan ATP memerlukan tahapan kajian, pengujian, dan evaluasi yang terukur karena harus menyesuaikan kondisi operasional perkeretaapian di Indonesia.
“Keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap proses adopsi teknologi di KAI. Kolaborasi bersama BRIN memberi ruang bagi kami untuk menguji berbagai alternatif teknologi berbasis riset sehingga keputusan implementasinya memiliki landasan teknis, operasional, dan keselamatan yang kuat,” ujar I Gede.
ATP merupakan sistem proteksi perjalanan kereta api yang memiliki tiga fungsi utama, yaitu mencegah kereta api melewati sinyal dalam kondisi berhenti atau Signal Passed at Danger, mengawasi kecepatan perjalanan, serta menyampaikan informasi operasional kepada masinis./









































