www.bisnistoday.co.id
Selasa , 20 Oktober 2026
Home EKONOMI Melonjaknya Biaya Hidup, Picu Unjuk Rasa Besar-besaran di Eropa
EKONOMIGLOBAL

Melonjaknya Biaya Hidup, Picu Unjuk Rasa Besar-besaran di Eropa

Meski memiliki pandangan politik berbeda, para pemimpin itu menghadapi persoalan yang sama: kemarahan publik akibat meningkatnya biaya hidup.

Lonjakan biaya hidup di Eropa Sejak 2000. (Grafis: Eurostat/AlJazeera)
Lonjakan biaya hidup di Eropa Sejak 2000. (Grafis: Eurostat/AlJazeera)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Unjuk rasa para pelajar di Prancis yang telah berlangsung sejak September lalu, kini meluas dan menginspirasi  anak muda lainnya di berbagai negara Eropa.

Aksi para pelajar di Prancis yang memprotes buruknya fasilitas kelas dan minimnya guru, kini berkembang menjadi kemarahan yang lebih luas terkait tingginya biaya hidup serta rencana pemangkasan layanan publik.

Para demonstran di Albania, Belgia, Yunani, Italia, Portugal, dan Spanyol juga turun ke jalan untuk menyuarakan keresahan yang sama. Mereka memprotes harga rumah yang mahal,  tingginya biaya hidup, dan layanan publik yang memburuk.  Banyak kaum muda menyatakan bahwa mereka tidak lagi berharap untuk memiliki taraf hidup yang lebih baik daripada orang tua mereka.

Kemarahan publik ini menjadi tantangan bagi para pemimpin Eropa seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, dan Perdana Menteri Portugal Luis Montenegro.

Meski pandangan politik berbeda—Sanchez, berasal dari kubu kiri, Meloni dari kubu kanan, sementara Macron dan Montenegro adalah tokoh sentris yang cenderung konservatif—mereka semua menghadapi gejolak yang kian meningkat akibat melonjaknya biaya hidup.

Al Jazeera melaporan, berdasarkan data Eurostat, badan statistik Uni Eropa, harga barang dan jasa kebutuhan sehari-hari, seperti pangan, energi, transportasi, dan berbagai tagihan, telah meningkat antara 59 hingga 78% sejak tahun 2000 di Prancis, Italia, Spanyol, dan Portugal. (Lihat grafik)

Indeks Harga Konsumen Harmonisasi (HICP) yang digunakan oleh badan tersebut merupakan tolok ukur resmi Uni Eropa untuk mengukur tingkat harga barang dan jasa kebutuhan sehari-hari.

Spanyol mencatat kenaikan tertinggi sebesar 78% diikuti oleh Portugal sebesar 71%, Italia (68%), dan Prancis (59%( . Artinya, barang dan jasa yang pada tahun 2000 berharga 100 euro (US$112), kini harganya menjadi sekitar 178 euro (US$200) di Spanyol, 171 euro (US$192) di Portugal, 168 euro (US$188) di Italia, dan 159 euro (US$178) di Prancis.

Harga-harga rata-rata naik sekitar 2% per tahun, namun melonjak pada tahun 2022, ketika inflasi tahunan mencapai 8,7% di Italia, 8,3% di Spanyol, 8,1% di Portugal, dan 5,9% di Prancis—tingkat tertinggi di keempat negara tersebut setidaknya sejak tahun 2000.

Harga energi

Lonjakan ini terutama dipicu oleh biaya energi, yang melonjak setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Menurut Eurostat, pada Oktober tahun yang sama atau delapan bulan setelah perang dimulai, harga energi di seluruh zona euro hampir 42% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, sementara harga pangan juga melonjak tajam.

Antara tahun 2021 dan 2023, harga-harga di keempat negara tersebut naik sebesar 12% hingga 15%. Kenaikan upah tidak mengimbangi lonjakan harga ini, dan karena harga tidak turun kembali meskipun inflasi telah mereda, banyak rumah tangga yang hingga kini masih merasakan tekanan ekonomi.

Sementara tu, setelah memperhitungkan inflasi, menurut data upah OECD yang disesuaikan dengan indeks harga dari Eurostat, rata-rata upah pekerja purnawaktu di Italia turun hampir 5% antara tahun 2000 dan 2025. Dalam periode yang sama, upah riil justru naik 7% di Spanyol, 11% di Prancis, dan 20% di Portugal.

“Di Spanyol, sebagian besar lapangan kerja baru tercipta di sektor pariwisata dan jasa namun pekerjaan-pekerjaan ini sering kali bersifat musiman dan berupah rendah, “ ungkap Jaime Velazquez, seorang jurnalis di Madrid, kepada program Inside Story di Al Jazeera.

Julius Fintelmann, salah satu pendiri sekaligus pemimpin redaksi The European Correspondent, mengatakan bahwa masyarakat yang menua telah mempersempit peluang bagi pekerja yang lebih muda.

Ia menilai kesenjangan upah antara pekerja yang lebih tua dan lebih muda telah melebar di berbagai negara berpenghasilan tinggi selama beberapa dekade. “Dengan demikian, janji bahwa setiap generasi akan hidup lebih baik daripada generasi sebelumnya kini tidak lagi berlaku,” ujarnya.//

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Petugas kepolisian berjaga saat api berkobar di Paris pada Minggu malam. Foto: Abdul Saboor/Reuters
GLOBAL

Macron Kecam Aksi Kerusuhan, Mendagri Prancis Dituntut Mundur

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Bentrokan yang berujung kericuhan dan penjarahan mewarnai aksi unjuk...

EKONOMI

Munas IMA di Bandung Bertepatan dengan HUT ke-30, Soroti Peran Pemasaran dalam Meningkatkan Daya Saing Indonesia

BANDUNG, Bisnistoday.co.id – Indonesia Marketing Association (IMA) akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) di...

EKONOMI

Perjuangan 3 Guru Maluku Raih Gelar Sarjana, Harus Berburu Sinyal hingga ke Kampung Tetangga

BANDUNG, Bisnistoday.co.id – Keterbatasan jaringan internet tak menyurutkan perjuangan tiga guru asal...

PT SMI Raih Dua Penghargaan Asian Water Awards 2026 atas Kontribusi Pengelolaan Air Berkelanjutan
EKONOMI

PT SMI Raih Dua Penghargaan Asian Water Awards 2026 atas Kontribusi Pengelolaan Air Berkelanjutan

JAKARTA, Bisnostoday.co.id— PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (PT SMI) meraih dua penghargaan...