Press "Enter" to skip to content

Asing Lakukan Aksi Jual, IHSG Melemah

IHSG pada perdagangan Selasa (8/6) ditutup melemah

JAKARTA, Bisnistoday- Setelah dalam beberapa hari perdagangan mengalami penguatan, pada perdagangan hari ini, Selasa (8/6) IHSG mengalami koreksi hingga di bawah level psikologis 6.000. Hal ini dipengaruhi oleh aksi jual oleh investor asing.

Indeks Harga Saham Gabugan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah hingga 70,57 poin ke posisi 5.999,37. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 11,66 poin atau 1,29 persen ke posisi 894,84.

“Untuk IHSG hari ini dipengaruhi oleh sentimen negatif dari kekhawatiran investor terhadap adanya peluang tapering off di AS menjelang rilis data inflasi bulan Mei Kamis nanti,” kata Analis Indo Premier Sekuritas, Mino.

Dibuka melemah, IHSG mayoritas menghabiskan waktu di teritori negatif sepanjang sesi pertama dan sesi kedua perdagangan saham hingga akhirnya ditutup turun.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sektor terkoreksi dengan sektor kesehatan turun paling dalam yaitu minus 2,41 persen, diikuti sektor barang konsumen primer dan sektor barang baku masing-masing minus 1,81 persen dan minus 1,56 persen. Sedangkan satu sektor naik yaitu sektor teknologi sebesar 13,41 persen.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau net foreign sell sebesar Rp262,53 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.319.701 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 30,43 miliar lembar saham senilai Rp11,14 triliun. Sebanyak 168 saham naik, 349 saham menurun, dan 130 tidak bergerak nilainya.

Rupiah Menguat

Sementara itu nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup menguat didukung sentimen positif baik dari global maupun domestik.

Rupiah ditutup menguat 12 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp14.253 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.265 per dolar AS.

“Saya melihat memang kondisi cukup kondusif bagi rupiah, di mana baik dari dalam maupun global menunjukkan perkembangan positif. Data inflasi di dalam negeri masih cukup stabil dan arus modal asing juga masuk baik di saham maupun SBN,” kata Analis Pasar Uang Bank Mandiri, Rully Arya seperti dikutif Antara.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Mei 2021 sebesar 0,32 persen (mom) atau 1,67 persen (yoy) dipicu kenaikan permintaan masyarakat atas barang konsumsi pada periode Lebaran.

“Hal ini juga terkait dengan membaiknya risiko pasar. Sentimen risk-on masih berlanjut sejalan dengan perbaikan ekonomi global, sehingga nilai tukar dolar cenderung menurun, ditunjukkan oleh penurunan indeks dolar kembali ke kisaran 89-90,” ujar Rully.

Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa menguat menjadi Rp14.262 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.271 per dolar AS./

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *