JAKARTA, Bisnistoday – Kabar mengejutkan di industri perbankan Eropa dan Amerika Serikat kembali terjadi. Kali ini, kabar kurang baik untuk Bank Credit Suisse yang diambang kebangkrutan. Bahkan, Bank Sentral Swiss sendiri siap penyelamatan ditengah kepanikan para nasabah dan investor.
Bank Sentral Swiss turun tangan melalui pernyataanya bahwa modal dan tingkat likuiditas di Credit Suisse cukup memadai. Tidak hanya itu, Bank Sentral juga mengaku menyiapkan dana likuiditas untuk Credit Suisse apabula dibutuhkan.
“Credit Suisse memenuhi persyaratan modal dan likuiditas yang lebih tinggi bagi bank-bank penting secara sistemik. Selain itu, SNB akan menyediakan likuiditas ke bank yang aktif secara global jika perlu,” dalam keterangan Bank Nasional Swiss dan regulator keuangan Swiss Finma dalam pernyataan resmi bersama, dikutip AFP, kemarin.
Sebenarnya, kegusaran para investor sudah terjadi beberapa tahun terakhir. Kondisi terus merosotnya reputasi perusahaan memojokkan para eksekutif puncak di Credit Suisse harus mananggalkan jabatannya. Wajar saja, karena dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan menderita kerugitan dan gagal mengikuti kepatuhan.
Nada kebangkrutan ini sudah tercium pada nasabah, sehingga akhir tahun lalu nasabah telah menarik 123 miliar Franc Swiss atau setara 133 Dolar AS dari Credit Suisse.
Seperti disampaikan dalam laporan, bahwa Credit Suisee menderita kerugian bersih tahunan sebesar 7,3 Franc Swiss atau senilai 7,9 miliar AS. Angka ini merupakan kerugian terbesar usai krisis keuangan dunia pada 2008 silam.
Kondisi ini mendorong para pemberi pinjaman menerapkan restrukturisasi secara radikal pada akhir tahun 2022. Kebijakan tersebut dengan melakukan PHK terhadap 9.000 pekerja pada tahun 2025. Kebijakan lainnya adalah memisahkan bank investasinya, serta fokus dalam manajemen kekayaan.
Pada moment itulah, diketahui Bank Nasional Saudi siap menyuntik modal sebesar 1,5 miliar dollar AS dari 4 miliar AS modal baru yang Credit Suisse kumpulkan untuk mendanai perombakan tersebut.
Dirundung Tekanan Jual
Kinerja Credit Suisse yang terus merosot tercermin didalam harga sahamnya yang anjlok hingga 20% pada perdagangan Rabu (15/3) lalu. Bahkan tercatat harga saham Credit Suisse terjun bebas ke posisi terendah 24,24% dalam perjalanan sejarah.
Dengan begitu, nilai perusahaan menurun di bawah 7 miliar dollar AS. Saham bank terbesar kedua di Swiss itu ambruk usai pemegang saham mayoritas menolak mengucurkan modal lagi untuk Credit Suisse.
Dalam wawancara dengan Bloomberg, Bank Nasional Saudi (SNB) menyebut pihaknya tak akan meningkatkan sahamnya di Credit Suisse. Adapun kepemilikan saham SNB di Credit Suisse mencapai 9,88 persen.
Komentar itu disampaikan saat pasar saham Eropa anjlok di tengah kekhawatiran baru tentang sektor perbankan dan sontak membuat para investor panik.
Pasalnya, selama berbulan-bulan mereka khawatir melihat kinerja buruk bank, sehingga mungkin harus meminta tambahan modal kepada para pemegang saham.
Krisis Credit Suisse merembet ke saham perbankan Eropa lainnya, dengan bank-bank Prancis dan Jerman seperti BNP Paribas, Societe Generale, Commerzbank, dan Deutsche Bank turun antara 8 persen dan 10 persen./CNN








































