JAKARTA, Bisnistoday- Desnataliza memperoleh penghargaan “ Rangkayo Minang Awards 2025” sebagai salah satu pebisnis tangguh dan tokoh muda inspiratif.
Penghargaan itu diterimanya di dalam acara : Rangkayo Minang Awards 2025, dengan Tema : “TOKOH MINANG MENYONGSONG SUMBAR EMAS 2045”. Acara itu diselenggarakan pada Hari/Tanggal: Sabtu, 19 Juli 2025, di Hotel Borobudur, Jl. Lapangan Banteng Selatan No.1, Pasar Baru, Jakarta Pusat.
“ Kami sangat senang dan bahagia sekali mendapat perhatian dari Rangkayo Minang, Usaha UMKM yang kami rintis mendapat pengakuan dan apresiasi dari organisai perempuan Minang itu,’ tegas Desnataliza.
Sebelum tumbuh menjadi pebisnis pakaian gamis sukses dan diperhitungkan di pasar Tanah Abang, pusat grosir terbesar di Asia Tenggara, Desnataliza telah melewati beragam dinamika kehidupan. Usaha konveksi perempuan tangguh, kelahiran Bukittingi, 25 Desember 1970 ini, berkali-kali mengalami jatuh-bangun.
Setelah melalui perjuangan panjang dan berliku, usaha yang dimulainya dari tahun 1995 baru bisa meraih kesuksesan tahun 2012.
Anak keempat dari tujuh saudara itu memulai bisnis gamisnya dari Pasar Aur Kuning, Bukittinggi pada tahun 1995. Setelah berjalan tiga tahun, terjadi krisis ekonomi dan nilai rupiah anjlok. Bisnis gamis putri dari pasangan Rusihan (alm) SH, ibu Hj Djuniar, turut merosot pada 1998.
“Akhirnya saya memutuskan berjualan (babelok) ke Singapura dan Malaysia karena nilai dollar naik, rupiah jatuh. Sayang, kondisi fisik saya tidak menopang untuk berjualan di negara tetangga itu. Di sana tidak ada porter untuk mengangkat-angkat barang, semua dikerjakan sendiri, “ujarnya mengenang masa pahitnya saat itu.
Karena ada yang menjanjikan untuk kerja sama (join), Desnataliza memutuskan berangkat ke Jakarta tahun 2000. Sesampai di Jakarta, Desnataliza bukannya diajak kerjasama, melainkan dijadikan sebagai pekerja konvensi. Suasana tempat kerjanya saat itu sangat tidak sehat. Bahkan Desnataliza sempat mengalami penyakit pes karena digigit tikus saat tidur.
“Orang yang menjanjikan kerja sama itu punya showroom mobil dan di tingkat atas Showroom itu dijadikan tempat konveksi. Saya digaji sangat rendah dan tidak cukup untuk makan sehari-hari, “ ungkapnya.
Karena tidak sanggup menjadi karyawan konvensi, dia mengundurkan diri, dan disuruh jadi sopir untuk mengantar hasil konveksi bosnya ke Tanah Abang.Akhirnya Desnataliza memutuskan untuk berhenti bekerja di sana. Dia pindah ke Cileduk dan dibantu modal oleh pamannya. Dezta kembali memproduksi barang untuk dipasok ke pasar Tanah Abang.
“Dari Cileduk sampai Blok A Tanah Abang, saya antar sendiri pakai motor berkarung-karung barang. Nama tempak bos saya adalah Haji Rara (Toko Rara),” ungkap Desnataliza.
Sistem pembayaran di Tanah Abang pakai Giro dan membuatnya kocar-kacir mencari utang untuk membayar upah karyawannya. Desnataliza pun berhenti memasok barang ke Tanah Abang. Dia memutuskan meminjam uang ke pamannya sebesar Rp1,8 juta. Dengan modal dari pamannya itulah dia bikin barang dan dijual sendiri di kaki lima Blok S pada tahun 2002.
Keberuntungan kembali mendekatinya. Seorang pedagang yang punya Toko Prima Cahaya, persis di depan Dezta membuka lapak kali lima, menawarkan dia untuk mengisi tokonya dengan gamis yang diproduksi oleh Desnataliza. Saking baiknya pemilik Toko Prima Cahaya itu, Dezta diberikan cek untuk modal membeli bahan. Sedikit demi sedikit Desnataliza mengumpulkan keuntungan sampai berjumlah Rp 35 juta.
Dari uang Rp35 juta, Desnataliza minta izin membuka kios sendiri di samping Toko Prima Cahaya tersebut. Toko itu diberi nama “Nana”. Nasib malang kembali menimpanya, Pasar Turi Surabaya terbakar 2007. Padahal Sebagian besar pelanggannya dari sana. Giro yang diberikan oleh pedagang Pasar Turi tidak bisa dicairkan, Desnataliza mengalami kerugian sampai Rp300 juta.
Itu membuatnya pailit dan stress.
Tahun 2008 diputuskanlah pulang kampung selam dua tahun sambil berobat. Di depan rumahnya dia membuka boutique. Karena banyak yang berhutang, kehabisan modal. Tiba-tiba teman dekatnya memberikan pinjaman sebesar Rp50 juta dan menyuruhnya kembali berjualan di Jakarta. Dengan modal itulah Desnataliza kembali berjualan di Tanah Abang.
“Saat itu sedang tren baju Bangkok. Saya berangkat ke Bangkok beli barang. Inilah awal kesuksesan saya kembali. Saya produksi kembali barang -barang dari Bangkok di rumah konveksi kami di dua lokasi, dan akhirnya laris sekali sampai saya menyewa toko yang lebih besar di Tanah Abang dengan nama”Samoliza”.
Berkat larisnya barang produksi yang dia ambil contohnya dari Bangkok ini, Desnataliza akhirnya bisa melunasi pinjamannya sebesar Rp 400 juta ke toke-toke bahan di Tanah Abang.
Kini Desnataliza sudah bisa membeli rumah sendiri dan menyewa tiga toko di Tanah Abang. Dia juga mengelola dua rumah konfeksi.
Sekarang ini Desnataliza berjaya dengan tiga tokonya di Tanah Abang, yaitu toko Amna Fashion, Arumi Fashion dan Syarfi Fashion.



