JAKARTA, Bisnistoday – Pelaku pasar memperhatikan serius tawaran pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia dan Kemenkeu untuk meningkatkan daya tarik rupiah. Hanya saja, diperkirakan tekanan domestic masih belum mereda dalam jangka pendek akibat sentiment global yang kuat.
Analis Senior Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai bahwa pada awal pekan perdagangan, tekanan masih terasa di berbagai instrumen keuangan, mulai dari pasar saham, obligasi pemerintah, hingga nilai tukar rupiah.
Begitupun, terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah mengalami koreksi lebih dari 4 persen selama dua hari berturut-turut. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah terus bergerak menuju level terlemah terhadap dolar Amerika Serikat, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak hingga sekitar 7,27 persen.
Menurut Rully, kenaikan yield SBN tersebut tidak terlepas dari kebijakan yang ditempuh BI bersama Kementerian Keuangan untuk meningkatkan daya tarik carry trade rupiah. Strategi ini bertujuan menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik dengan menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif bagi investor portofolio.
Walau begitu, Rully mengingatkan, dampak kebijakan tersebut terhadap penguatan rupiah belum dapat terlihat secara instan. Menurutnya, ekspektasi bahwa langkah tersebut akan langsung membalikkan arus modal dalam hitungan hari merupakan hal yang kurang realistis.
Pasalnya, tekanan global masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan pasar. Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran telah mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus memperkuat pandangan bahwa suku bunga AS akan tetap berada pada level tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Kondisi tersebut membuat investor global cenderung berhati-hati terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain menghadapi tekanan eksternal, tambah Rully, Indonesia juga dinilai perlu memperkuat komunikasi kebijakan kepada pelaku pasar. Langkah ini penting untuk meredam peningkatan risk premium yang dalam beberapa waktu terakhir terus naik. Jika tidak dikelola dengan baik, kenaikan premi risiko tersebut berpotensi menekan valuasi pasar saham dan membatasi ruang penguatan IHSG ke depan.
Dengan kombinasi tantangan global dan domestik yang masih berlangsung, pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan tetap bergerak volatil dalam jangka pendek. Investor pun diharapkan mencermati perkembangan kebijakan pemerintah dan bank sentral, serta dinamika geopolitik internasional yang menjadi faktor utama penentu arah pasar ke depan.//

