www.bisnistoday.co.id
Kamis , 13 Agustus 2026
Home BURSA & KORPORASI Bursa Pasar Saham Masih Dibayangi Risiko Tinggi Walau Ada Upaya Dongkrak Carry Rupiah
BursaHEADLINE NEWS

Pasar Saham Masih Dibayangi Risiko Tinggi Walau Ada Upaya Dongkrak Carry Rupiah

Saham AS
INDEKS Bergerak Fluktuatif./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Pelaku pasar memperhatikan serius tawaran pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia dan Kemenkeu untuk meningkatkan daya tarik rupiah. Hanya saja, diperkirakan tekanan domestic masih belum mereda dalam jangka pendek akibat sentiment global yang kuat.

Analis Senior Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai bahwa pada awal pekan perdagangan, tekanan masih terasa di berbagai instrumen keuangan, mulai dari pasar saham, obligasi pemerintah, hingga nilai tukar rupiah.

Begitupun, terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah mengalami koreksi lebih dari 4 persen selama dua hari berturut-turut. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah terus bergerak menuju level terlemah terhadap dolar Amerika Serikat, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak hingga sekitar 7,27 persen.

Menurut Rully, kenaikan yield SBN tersebut tidak terlepas dari kebijakan yang ditempuh BI bersama Kementerian Keuangan untuk meningkatkan daya tarik carry trade rupiah. Strategi ini bertujuan menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik dengan menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif bagi investor portofolio.

Walau begitu, Rully mengingatkan, dampak kebijakan tersebut terhadap penguatan rupiah belum dapat terlihat secara instan. Menurutnya, ekspektasi bahwa langkah tersebut akan langsung membalikkan arus modal dalam hitungan hari merupakan hal yang kurang realistis.

Pasalnya, tekanan global masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan pasar. Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran telah mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus memperkuat pandangan bahwa suku bunga AS akan tetap berada pada level tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Kondisi tersebut membuat investor global cenderung berhati-hati terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain menghadapi tekanan eksternal, tambah Rully, Indonesia juga dinilai perlu memperkuat komunikasi kebijakan kepada pelaku pasar. Langkah ini penting untuk meredam peningkatan risk premium yang dalam beberapa waktu terakhir terus naik. Jika tidak dikelola dengan baik, kenaikan premi risiko tersebut berpotensi menekan valuasi pasar saham dan membatasi ruang penguatan IHSG ke depan.

Dengan kombinasi tantangan global dan domestik yang masih berlangsung, pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan tetap bergerak volatil dalam jangka pendek. Investor pun diharapkan mencermati perkembangan kebijakan pemerintah dan bank sentral, serta dinamika geopolitik internasional yang menjadi faktor utama penentu arah pasar ke depan.//

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

GEDUNG BEI
BursaHEADLINE NEWS

MSCI Hapus GOTO dan Turunkan CPIN, Mirae Asset Sekuritas Ungkap Potensi Outflow Jangka Pendek

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai hasil MSCI August...

Asosissi Jalan Tol
HEADLINE NEWS

Penyesuaian Regulasi Dinilai Penting Dalam Mendukung Investasi Jalan Tol

JAKARTA, Bisnistoday – Investasi jalan tol di Indonesia memerlukan dukungan kepastian regulasi...

Otomotif
HEADLINE NEWS

Toyota Pastikan Indonesia Tetap Sebagai ‘Supply Hub’ Ekspor Otomotif

JAKARTA, Bisnistoday - Presiden Direktur PT TMMIN, Nandi Julyanto saat bertemu dengan...

Rully Arya Wisnubroto
HEADLINE NEWS

Tak Sekedar Saham Terindeks, Mirae Asset Sekuritas Soroti Arah Keputusan MSCI

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai perhatian investor menjelang...