JAKARTA, Bisnistoday – Tekanan jual (net sell) investor asing di pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan kuat terjadi pada pekan ini. Analis Senior PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto menjelaskan, tekanan net sell asing masih terus berlanjut dan kembali menyeret IHSG ke zona pelemahan yang cukup dalam.
“Pada perdagangan Jumat, investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp 3,7 triliun di pasar reguler, dengan tekanan besar di saham perbankan utama seperti BBCA, BMRI, dan BBRI, sehingga pelemahan indeks kembali sangat terkonsentrasi pada big caps dengan kepemilikan asing tinggi,” urai Rully dalam risetnya di Jakarta, Senin (8/6).
Di saat yang sama, lanjut Rully, Rupiah belum menunjukkan tanda perbaikan berarti dan masih berada di atas 18.000 per USD dalam dua hari terakhir pekan lalu, mempertebal risk premium terhadap aset Rupiah.
“Tekanan di pasar domestik juga dibayangi sentimen negatif dari bursa global. Pada hari yang sama, S&P500 terkoreksi sekitar 2,6%, sementara Nasdaq jatuh lebih tajam, sekitar 4,2%, dipicu aksi jual agresif pada saham saham chip dan teknologi berkapitalisasi besar.”
Menurut Rully,koreksi tajam di ekuitas global ini memperkuat pola risk-off lintas aset, membuat ruang relief rally jangka pendek di pasar Indonesia semakin terbatas selama tekanan eksternal dan posisi jual asing belum mereda.
Defisit Fiskal Melebar
Jessica Tasijawa, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam risetnya mengatakan defisit fiskal Indonesia melebar menjadi Rp 180,4 triliun atau setara 0,7% PDB pada Mei 2026. Hal ini, menandai defisit terbesar sejak periode pandemi seiring pertumbuhan belanja pemerintah yang terus melampaui pertumbuhan pendapatan negara.
Dengan begitu, lanjut Jessica, memperkuat pandangan bahwa ekspansi fiskal akan tetap menjadi instrumen utama hingga akhir 2026. Meskipun pendapatan negara tetap kuat dengan pertumbuhan +19,1% YoY menjadi Rp 1.185 triliun yang ditopang oleh penerimaan negara bukan pajak dan penerimaan pajak, belanja pemerintah juga tumbuh lebih tinggi sebesar +35,5% YoY menjadi rekor Rp 1.365,4 triliun.
Hal ini, sebagai konsekuensi kenaikan subsidi dan kompensasi energi, belanja terkait program MBG, bantuan sosial (+46,9% YoY), dan belanja modal (+46,8% YoY). “Berdasarkan stress test kami, belanja subsidi dan kompensasi BBM berpotensi meningkat hingga Rp 334 triliun atau 1,2% dari PDB apabila harga minyak mencapai 100 USD/barel.”
Hal lainnya, bahwa Menteri Keuangan dan Gubernur BI mengisyaratkan penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas Rupiah di tengah ketidakpastian global, arus keluar modal, serta pelemahan Rupiah yang telah menembus Rp 18.000/USD.
Sementara Bank Indonesia membuka ruang kenaikan BI Rate kembali pada Jun 2026 setelah menaikkan suku bunga sebesar 50 bps menjadi 5,25% pada Mei 2026, Kementerian Keuangan juga mengungkapkan telah menyerap sekitar Rp 11 triliun SBN di pasar sekunder, menunjukkan semakin agresifnya upaya otoritas dalam menjaga daya tarik imbal hasil, stabilitas pasar keuangan, dan kepercayaan investor./







































