JAKARTA, Bisnistoday – Dolar Amerika Serikat stabil pada Selasa (2/6/2026) karena pasar masih menunggu dan melihat perkembangan perundingan perdamaian antara AS dan Iran di Timur Tengah.
Senin lalu, Lebanon juga mengumumkan gencatan senjata terbatas antara Hizbullah dan Israel. Meski demikian, situasi geopolitik yang dinamis dan cepat berubah, membuat para pedagang tetap waspada.
Indeks dolar, yang mengukur mata uang terhadap enam mata uang lainnya, melemah dari kenaikan sebelumnya setelah pengumuman gencatan senjata di Lebanon pada Senin.
Meskipun kesepakatan tersebut sedikit meredakan perseteruan, hal itu tetap terbatas di tengah konflik regional yang lebih luas, yang telah mengganggu distribusi energi melalui Selat Hormuz.
Baca juga: Perundingan AS-Iran Alot, Kedua Kubu Sama-sama Ngotot
Para investor menyikapi setiap kemajuan perundingan AS-Iran dengan hati-hati, mengingat kedua kubu rentan melanggar gencatan senjata yang telah disepakati pada awal April.
“Kami memperkirakan AS dan Iran akan setuju untuk secara bertahap membuka kembali Selat Hormuz dan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari untuk menegosiasikan pengayaan uranium Iran pada pekan ini,” tulis Kristina Clifton, seorang ahli strategi mata uang senior di Commonwealth Bank of Australia, dalam sebuah catatan.
Peringatan Iran
Sementara itu, para pejabat Iran telah memperingatkan bahwa peningkatan serangan Israel terhadap Lebanon dan kekerasan yang terus berlanjut di Gaza, berpotensi menggagalkan negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan peningkatan invasi Israel ke Lebanon dan serangan terhadap negara tersebut, bersamaan dengan pengepungan pelabuhan Iran oleh AS yang terus berlanjut, merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata.
“Gencatan senjata antara Iran dan AS secara tegas merupakan gencatan senjata di semua lini, termasuk di Lebanon,” kata Araghchi dalam sebuah unggahan di media sosial, Senin. “Pelanggaran di satu lini merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata di semua lini. AS dan Israel bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap pelanggaran,” ujarnya seperti dilansir Al Jazeera.//

