JAKARTA, Bisnistoday – Melalui Fi Asia Indonesia 2026, industri diharapkan dapat mempercepat adopsi inovasi dalam formulasi produk, sumber bahan baku berkelanjutan, teknologi digital, serta sistem pangan kolaboratif. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat kepercayaan konsumen, mendukung tujuan kesehatan publik, dan membangun fondasi ekosistem pangan yang lebih berkelanjutan untuk masa depan.
Diperkirakan ada lebih dari 10 Country Pavilions yang akan terlibat dan beberapa di antaranya merupakan negara baru yang bergabung antara lain: Kanada, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan dan Uni Eropa. Selain itu, akan ada New Speciality Pavilions yang terdiri dari: Beverage Ingredients, Natural Ingredients, and New Business.
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Ir. Adhi S. Lukman, menekankan bahwa peningkatan standar mutu pangan kini menjadi keharusan strategis bagi industri. “Industri makanan dan minuman tidak lagi cukup hanya memenuhi regulasi minimum. Ke depan, pelaku usaha harus secara aktif meningkatkan standar kualitas, keamanan pangan, dan nilai gizi produknya agar dapat menjawab tantangan kesehatan masyarakat sekaligus menjaga daya saing industri,” ujar Adhi.
Adhi menambahkan bahwa kolaborasi antara pelaku industri, regulator, dan institusi ilmiah menjadi kunci untuk memastikan peningkatan standar dapat dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, melalui kolaborasi yang kuat, industri dapat mendorong adopsi standar yang lebih tinggi, mendukung kesehatan publik, sekaligus memperkuat ketahanan dan keberlanjutan sektor pangan nasional. Peningkatan standar ini menjadi semakin relevan di tengah temuan global terkait keamanan pangan. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa pangan tidak aman masih menjadi penyebab ratusan juta kasus penyakit setiap tahunnya.
Melalui tema ini, Fi Asia Indonesia menegaskan perannya sebagai platform strategis yang mendorong peningkatan standar kualitas, keberlanjutan, serta kepemimpinan industri makanan minuman di Indonesia dan kawasan ASEAN. Fi Asia telah menjadi ajang penting bagi pelaku industri pangan global. Di Indonesia, Fi Asia tidak hanya berfungsi sebagai pameran dagang, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan industri, inovator, dan pembuat kebijakan untuk menjawab tantangan masa depan sektor pangan.
Industri makanan dan minuman saat ini menghadapi perubahan ekspektasi yang signifikan. Produk tidak lagi dinilai hanya dari rasa dan daya simpan, tetapi juga dari manfaat kesehatan, transparansi, serta dampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat. Konsumen semakin menuntut nilai nyata sebagai bagian dari standar baru yang diharapkan dari sebuah merek. Untuk itu Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia kembali digelar pada 16–18 September 2026, mengusung tema “Elevating Food Standards for a Healthier, Greener Future”.
Pentingnya Inovasi Berbasis Sains
Direktur South East Asia Food and Agriculture Science & Technology (SEAFAST) Center LRI PGKH IPB Dr. Puspo Edi Giriwono, menegaskan bahwa kualitas dan keamanan pangan harus dibangun dari hulu ke hilir, from farm to table, sepanjang rantai pangan. Puspo menekankan pentingnya inovasi berbasis sains dalam menjawab tantangan tersebut. “Meningkatkan standar mutu dan keamanan pangan berarti memperkuat kontrol terhadap bahan baku, formulasi, dan proses produksi. Tujuannya bukan hanya memastikan pangan aman dikonsumsi, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi kesehatan, perekonomian, dan perdagangan jangka panjang,” jelas Puspo.
Menurutnya, pemahaman yang tepat mengenai proses pengolahan pangan juga penting untuk membangun kepercayaan konsumen di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu makanan olahan. “Inovasi yang dilandasi sains yang kuat mendorong dan mendukung teknologi pengolahan yang lebih baik, penggunaan bahan baku yang lebih aman dan unggul, hingga sistem jaminan mutu berbasis data berperan besar dalam menurunkan risiko keamanan pangan sekaligus meningkatkan nilai gizi produk dan memajukan daya saing.”
Pertemukan Pemangku Kepentingan
Ms. Rose Chitanuwat, Regional Portfolio Director, ASEAN Informa Markets, menegaskan bahwa Fi Asia Indonesia 2026 dirancang untuk menjadi lebih dari sekadar pameran. Ditargetkan akan ada 700 brand berskala internasional yang bergabung dalam pameran ini dengan lebih dari 24.000 pengunjung yang akan hadir selama pameran. Rose menjelaskan bahwa kekuatan Fi Asia Indonesia terletak pada kemampuannya mempertemukan berbagai pemangku kepentingan.
“Fi Asia Indonesia 2026 hadir sebagai platform strategis yang menghubungkan inovasi, kepemimpinan industri, dan keberlanjutan dalam satu ekosistem pangan. Tema Elevating Food Standards for a Healthier, Greener Future mencerminkan urgensi transformasi yang sedang dihadapi industri saat ini. Dengan mempertemukan pemimpin industri, inovator, dan pembuat kebijakan, Fi Asia Indonesia mendukung upaya kolektif yang dibutuhkan untuk membangun industri pangan yang lebih sehat, lebih hijau, dan lebih resilien,” ujar Rose.
Melalui Fi Asia Indonesia 2026, industri diharapkan dapat mempercepat adopsi inovasi dalam formulasi produk, sumber bahan baku berkelanjutan, teknologi digital, serta sistem pangan kolaboratif. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat kepercayaan konsumen, mendukung tujuan kesehatan publik, dan membangun fondasi ekosistem pangan yang lebih berkelanjutan untuk masa depan. Akan ada lebih dari 10 Country Pavilions yang akan terlibat dan beberapa di antaranya merupakan negara baru yang bergabung antara lain: Kanada, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan dan Uni Eropa. Selain itu, akan ada New Speciality Pavilions yang terdiri dari: Beverage Ingredients, Natural Ingredients, and New Business./






































