www.bisnistoday.co.id
Jumat , 6 Maret 2026
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis Gita Wirjawan: Asia Tenggara Harus Bangkit dari Pinggiran Menuju Pusat Kesadaran Global
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Gita Wirjawan: Asia Tenggara Harus Bangkit dari Pinggiran Menuju Pusat Kesadaran Global

Gita Wirjawan
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Asia Tenggara dikenal sebagai kawasan yang kaya budaya dan sumber daya, namun masih berada di pinggiran kesadaran global. Hal ini disampaikan oleh Gita Wirjawan, mantan Menteri Perdagangan RI, dalam forum Meet the LeadersUniversitas Paramadina bertajuk “What It Takes: Southeast Asia from Periphery to Core of Global Consciousness” pada Kamis (4/9).

Menurut Gita, Asia Tenggara memiliki keterbatasan dalam literasi dan kemampuan mendongeng (storytelling). Dari 140 juta buku yang terpublikasi secara global, hanya 0,26% yang membahas Asia Tenggara. Padahal, kawasan ini dihuni lebih dari 700 juta jiwa atau sekitar 9% dari populasi dunia.

“Ini menandakan bahwa orang Asia Tenggara masih belum bisa bercerita dengan baik. Padahal cerita harus ditopang oleh literasi dan numerasi. Tanpa dua kemampuan itu, narasi yang kita bangun akan hampa,” tegas Gita.

Pendidikan: Pondasi Masa Depan

Salah satu persoalan mendasar di Indonesia adalah rendahnya tingkat pendidikan. Data yang dipaparkan Gita menunjukkan bahwa 88% kepala keluarga belum memiliki pendidikan S1, dan 93% pemilih di tingkat daerah maupun pusat juga belum menempuh jenjang tersebut.

“Kalau kita ingin punya kualitas politikus dan pemimpin yang lebih baik, tugas kita adalah menurunkan angka itu hingga nol. Investasi di pendidikan adalah kuncinya,” kata Gita.

Peran Guru dalam Membangun Generasi

Menurutnya, guru memegang peran strategis dalam mencetak generasi unggul. Guru tidak hanya mengajarkan formulasi, tetapi juga harus menanamkan imajinasi, ambisi, dan keberuntungan (smart luck).

“Orang akan sukses jika punya imajinasi dan ambisi. Keberuntungan pun bisa dibentuk lewat latihan, seperti atlet bulutangkis yang berlatih ribuan kali setiap hari,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pembentukan otak terjadi hingga usia 9 tahun, sementara peningkatan IQ berlangsung hingga usia 16 tahun. Setelah itu, tugas pendidikan adalah memperluas wawasan generasi muda.

Kesenjangan dan Pembangunan Infrastruktur

Selain pendidikan, Gita menyoroti kesenjangan yang semakin nyata di Asia Tenggara. Menurutnya, ada empat bentuk kesenjangan:

  • Kesenjangan kekayaan
  • Kesenjangan pendapatan
  • Kesenjangan peluang
  • Kesenjangan antarwilayah (sentripetalisme)

Pertumbuhan ekonomi di kota-kota besar jauh lebih cepat dibandingkan kota kecil atau daerah terpencil. Salah satu solusi yang ditawarkan Gita adalah percepatan pembangunan infrastruktur, terutama energi.

“Indonesia harus membangun 400 ribu megawatt listrik. Saat ini kita hanya bisa 3.000–5.000 megawatt per tahun. Kalau mau modernisasi, kita harus tingkatkan menjadi 15–20 ribu megawatt per tahun,” jelasnya.

Di tingkat Asia Tenggara, kebutuhan energi juga sangat besar. Untuk mencapai konsumsi listrik 6.000 kWh per kapita, kawasan ini harus membangun 1 terawatt kapasitas listrik, dengan biaya sekitar 2–3 triliun dolar AS.

Belajar dari Keberhasilan China

Dalam paparannya, Gita membandingkan perkembangan ekonomi China dan Asia Tenggara selama tiga dekade terakhir. China berhasil meningkatkan GDP per kapita hingga 30 kali lipat, sementara Asia Tenggara hanya tumbuh 2,7 kali lipat.

Menurutnya, perbedaan itu dipengaruhi oleh lima faktor utama:

  • Investasi di pendidikan – China fokus pada pengembangan intelektual.
  • Infrastruktur – China sudah membangun lebih dari 43.000 km kereta cepat, sementara Indonesia baru 120 km.
  • Governance (tata kelola) – China sukses mendemokratisasikan talenta, bukan sekadar patronase.
  • Daya saing – China lebih mudah dalam penerbitan izin usaha.

Struktur politik-ekonomi – China politiknya sentralistis, tetapi ekonominya desentralistis. Indonesia justru sebaliknya.

“Mengapa Indonesia hanya bisa menerbitkan 0,3 izin usaha per 1.000 orang dewasa, sementara Singapura bisa 9–10? Karena kita masih terhambat oleh modal, birokrasi, dan budaya kewirausahaan,” ujar Gita.

Nasionalisme yang Berpihak pada Rakyat

Karena itu, Gita mengajak masyarakat untuk meninjau ulang makna nasionalisme. Baginya, nasionalisme bukan sekadar simbol atau identitas, melainkan kebermanfaatan nyata bagi rakyat.“Nasionalisme bukan tentang siapa yang menguasai, tapi siapa yang menikmati hasil pembangunan. Kalau masyarakat luas bisa menikmatinya, itu jauh lebih nasionalis,” tegasnya.

Ia mencontohkan, jika ada guru dari luar negeri yang bisa mengajar fisika dengan baik di sebuah desa, hal itu seharusnya diterima dengan terbuka. Menurutnya, keterbukaan adalah kunci kemajuan, yakni dengan menggabungkan kekuatan inovasi dan kekuatan preservasi.//

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Beritasatu Network

Related Articles

HEADLINE NEWS

Akses Jalan Ruas Trenggalek–Ponorogo, Terkena Longsor Sudah Dapat Dilalui Terbatas

TRENGGALEK, Bisnistoday– Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN)...

PELABUHAN PRIOK
HEADLINE NEWS

Neraca Perdagangan Awal 2026 Surplus, Ekspor Industri Menguat Walau Terjadi Lonjakan Impor

JAKARTA, Bisnistoday- Kinerja perdagangan Indonesia membuka tahun 2026 dengan catatan positif. Neraca...

Pengurus LPJK
Ekonomi & Bisnis

Lantik Pengurus LPJK 2025–2029, Menteri Dody Meminta Teguhkan Profesionalisme Jasa Konstruksi Nasional

JAKARTA, Bisnistoday – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengukuhkan Pengurus Lembaga...

Pelabuhan Tanjung Priok
HEADLINE NEWS

Harga Minyak Berpotensi Tembus USD100, Fiskal RI 2026 Bakal Bergerak Dinamis

JAKARTA, Bisnistoday – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran kembali memicu...