www.bisnistoday.co.id
Senin , 21 September 2026
Home EKONOMI Harga Sawit Masih Tinggi Akibat Produksi Belum Normal
EKONOMI

Harga Sawit Masih Tinggi Akibat Produksi Belum Normal

Perkebunan Sawit
Perkebunan sawit milik yang berada di hamparan Pulau Sumatera./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menilai tingginya harga kelapa sawit akibat produksi belum mencukupi kebutuhan pasar. Beberapa negara masih minim memproduksi sedangkan kebutuhan mulai merangkak naik.

Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif Gapki mengatakan, produksi CPO Indonesia bulan September 4.176 ribu ton, atau turun sekitar 1% dari bulan Agustus dan masih belum naik seperti yang diharapkan. Demikian juga produksi Malaysia yang dilaporkan turun 0,39% dari produksi bulan Agustus.

“Dengan produksi rendah atau belum normal, sedangkan ekspor yang turun, stok akhir September minyak sawit Indonesia masih mampu naik menjadi 3,65 juta ton dari 3,43 juta ton pada bulan Agustus,” terang Mukti Sardjono, dalam rilisnya di Jakarta, Jumat (12/11).

Menurutnya, konsumsi dalam negeri bulan September sebesar 1.475 ribu ton yang relatif sama dengan bulan Agustus yakni 1.465 ribu ton. Konsumsi untuk pangan, malah turun menjadi 672 ribu ton dari 718 ribu ton pada bulan Agustus atau turun 6,4%, untuk oleokimia relatif tetap. Hanya saja, untuk kebutuhan biodiesel naik menjadi 622 ribu ton dari 569 ribu ton pada bulan Agustus atau melonjak 9,3%.

Secara global, lanjut Mukti Sardjono, ekspor minyak sawit bulan September 2021 turun menjadi 2,886 juta ton setelah naik 4,274 juta ton pada bulan Agustus 2021. Nilai ekspor produk minyak sawit juga turun menjadi US$ 3,111 miliar dari US$ 4,433 milliar pada bulan Agustus. 

“Penurunan volume ekspor terbesar terjadi untuk tujuan India sebesar 683,0 ribu ton menjadi 275,5 ribu ton (-71,3%), RRC sebesar 351,8 ribu ton menjadi 467,4 ribu ton (-42,94%), Belanda sebesar 169,6 ribu ton menjadi 33,46 ribu ton (-83,5%) dan Malaysia sebesar 157,1 ribu ton menjadi 35,1 ribu ton (-81,74%),” tutur Mukti, secara terperinci menjelaskan.

Sementara, Uni Eropa secara keseluruhan turun 243,2 ribu ton menjadi 219,6 ribu ton (-52,54%). Secara YoY (Year on Year) sampai dengan bulan September, ekspor ke RRC tahun 2021 sudah 25,7% lebih tinggi dari tahun 2020, ke Malaysia 52,0% lebih tinggi, sedangkan ke India 24,4% lebih rendah, ke Belanda 0,4% lebih rendah dan ke Uni Eropa secara keseluruhan 8,1% lebih rendah.

Harga CPO Cif Rotterdam pada bulan September US$1.235/ton yang lebih tinggi dari bulan Agustus sebesar US$1.226/ton sedangkan harga soybean oil (Dutch, ex mill) turun dari US$1.435/ton menjadi US$1.405/ton, sunflower oil (FOB NW Europe) turun dari US$1.380/ton menjadi US$1.333/ton dan rapeseed oil (Dutch FOB) naik menjadi US$1.606/ton dari US$1486/ton. 

“Kenaikan harga minyak sawit mungkin disebabkan rendahnya stok awal bulan September yang hanya 3,4 juta ton, 1,1 juta ton lebih rendah dari stok awal Agustus,” ujarnya./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

LPDB Koperasi Hadirkan Coaching Clinic Pembiayaan di Borobudur Expo 2026 

MAGELANG, Bisnistoday - Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi menghadirkan layanan Coaching...

EKONOMIKomunitasLIFESTYLE

15.000 Peserta Ramaikan Pocari Run 2026 Bandung, Pemkot Siapkan Rekayasa Lalu Lintas 19-20 September

BANDUNG, Bisnistoday - Pocari Run 2026 akan digelar selama dua hari di...

EKONOMI

Libatkan Pengemudi Lama, Bandung Angkot Utama Jadi Pintu Masuk Ekonomi Digital Berbasis Blockchain

BANDUNG, Bisnistoday - Pemerintah Kota Bandung mengembangkan Bandung Angkot Utama sebagai bagian...

EKONOMIEnergi

Listrik Jampang Sukabumi Belum Merata, DPRD Jabar Dorong Akses hingga Pedalaman

BANDUNG, Bisnistoday – Infrastruktur kelistrikan di wilayah Jampang, Kabupaten Sukabumi, mulai menunjukkan...