JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (03/04) ditutup melemah 70,14 poin ke posisi 7.166,83. Sementara indeks LQ45 turun 14,46 poin ke posisi 953,90. Pelemahan mengikuti penurunan bursa saham kawasan Asia.
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya menyebutkan, bursa Asia melemah di tengah ketidakpastian kapan penurunan suku bunga Amerika Serikat (AS) akan terjadi.
Serangkaian data ekonomi AS yang kuat, ditambah kenaikan harga minyak ke level tertinggi dalam lima bulan, mendorong para pelaku pasar untuk menurunkan ekspektasi terhadap tiga kali penurunan suku bunga The Fed pada tahun ini.
Pada hari ini, pelaku pasar juga menantikan pidato Ketua The Fed Jerome Powell tentang prospek ekonomi.
Dari Eropa, inflasi periode Maret 2024 tercatat sebesar 2,4 persen year on year (yoy), atau turun dari bulan sebelumnya yang sebesar 2,6 persen (yoy), yang semakin meningkatkan probabilitas penurunan tingkat suku bunga Eropa.
Selain itu, gempa bumi dahsyat yang terjadi di Taiwan pada hari ini menimbulkan kekhawatiran terhadap gangguan sektor vital, terutama Taiwan merupakan salah satu negara produsen chip terbesar.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor meningkat dipimpin sektor kesehatan sebesar 1,20 persen, diikuti sektor barang baku dan sektor energi yang masing- masing naik sebesar 0,19 persen dan 0,15 persen.
Sedangkan tujuh sektor terkoreksi dipimpin sektor teknologi yang minus 1,49 persen dan 1,56 persen, diikuti sektor properti dan sektor transportasi & logistik yang masing- masing turun sebesar 1,42 persen dan 1,36 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu FWCT, PPRI, ISAP, WINS dan VISI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni NICE, WEHA, BIKE, PSAB, dan DEWI.
Baca juga: IHSG Melemah Seiring Turunnya Harga Saham Sektor Teknologi
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.024.899 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 17,95 miliar lembar saham senilai Rp13,37 triliun. Sebanyak 194 saham naik, 397 saham menurun, dan 194 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei melemah 387,00 poin atau 0,97 persen ke 39.451,89, indeks Hang Seng melemah 206,41 poin atau 1,22 persen ke 16.725,09, indeks Shanghai melemah 5,65 poin atau 0,18 persen ke 3.069,30, dan indeks Strait Times melemah 25,06 poin atau 0,77 persen ke 3.222,65.
Kurs Rupiah Turun
Di pasar uang, kurs rupiah terhadap dolar AS di akhir perdagangan Selasa melemah di tengah data PMI Manufaktur ISM Amerika Serikat (AS) yang meningkat.
Kurs rupiah ditutup merosot 23 poin atau 0,14 persen menjadi Rp15.920 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp15.897 per dolar AS.
“PMI Manufaktur ISM AS juga meningkat menjadi 50,3 pada Maret 2024, naik dari 47,8 pada Februari 2024 dan mengalahkan ekspektasi pasar sebesar 48,4,” kata ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri seperti dikutif Antara.
Data PMI Manufaktur ISM tersebut menunjukkan ekspansi pertama di sektor manufaktur setelah kontraksi selama 16 bulan.
Selain itu, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS untuk kuartal IV-2023 direvisi sedikit ke atas menjadi 3,4 persen. Hal itu menunjukkan belanja konsumen yang kuat dan ekonomi AS yang tetap tangguh, meskipun suku bunga tinggi. Kondisi tersebut menjadi katalis negatif pelemahan rupiah.
Bank sentral AS atau The Fed diproyeksikan tidak terburu-buru dalam menurunkan suku bunga acuan Fed Funds Rate.
Sementara sentimen dalam negeri yang turut berdampak pada pelemahan rupiah terkait kenaikan inflasi Indonesia. Inflasi Maret 2024 meningkat sebesar 3,05 persen secara year on year (yoy) di atas ekspektasi 2,91 persen (yoy).
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu naik ke level Rp15.923 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp15.934 per dolar AS./



