www.bisnistoday.co.id
Minggu , 26 April 2026
Home BURSA & KORPORASI IHSG dan Rupiah Melemah
BURSA & KORPORASI

IHSG dan Rupiah Melemah

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (27/2) merosot
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday- Kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (Fed) menahan tingkat suku bunga di level 0,25 persen sekaligus menaikkan ekspektasi inflasi di tahun ini menjadi 3,4 persen atau lebih tinggi dibandingkan prediksi pada Maret menjadi sentimen negatif pelaku pasar modal dan parar uang.

Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (17/6) sore ditutup melemah 10,12 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.068,45. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 7,59 poin atau 0,86 persen ke posisi 877,52.

“IHSG kembali bergerak melemah pada perdagangan hari ini setelah mayoritas indeks regional Asia yang juga bergerak bervariasi cenderung melemah. Pelemahan juga terjadi di kawasan Eropa menyusul ekspektasi inflasi AS yang meningkat di tahun ini,” kata Analis Phillip Sekuritas, Dustin Dana Pramitha seperti dikutif Antara di Jakarta, Kamis (17/6).

Sebelumnya The Fed melihat inflasi yang meningkat hanya akan terjadi sesaat, namun saat ini bank sentral AS tersebut melihat adanya peluang inflasi tumbuh konsisten di tahun ini.

Namun dalam pernyataan tersebut tidak dijelaskan lebih pasti kapan The Fed akan mulai melakukan pengurangan pembelian surat utang. Untuk proyeksi kenaikan tingkat suku bunga, para petinggi The Fed melihat adanya peluang kenaikan suku bunga sebanyak dua kali pada 2023.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia menahan tingkat suku bunga acuan atau BI-7Day Reverse Repo Rate menyusul langkah The Fed menahan Fed Fund Rate-nya.

“Bank Indonesia masih berharap dengan langkah moneter yang diambil, seperti terus membeli surat utang pemerintah dan juga kebijakan kredit yang longgar di beberapa sektor, dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mampu menjaga tingkat inflasi di bawah ekspektasi tahun ini,” ujar Dustin.

Dibuka melemah, IHSG lebih banyak menghabiskan waktu di zona merah sepanjang perdagangan saham hingga akhirnya ditutup di teritori negatif.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tiga sektor meningkat dengan sektor teknologi naik paling tinggi yaitu 2,05 persen, diikuti sektor perindustrian dan sektor keuangan masing-masing 0,67 persen dan 0,21 persen.

Sedangkan delapan sektor terkoreksi dengan sektor energi turun paling dalam yaitu minus 1,46 persen, diikuti sektor barang konsumen primer dan sektor properti & real estat masing-masing minus 1,08 persen dan minus 0,72 persen.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau net foreign sell sebesar Rp632,84 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.163.787 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 27,76 miliar lembar saham senilai Rp13,52 triliun. Sebanyak 179 saham naik, 327 saham menurun, dan 145 tidak bergerak nilainya.

Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei melemah 272,68 poin atau 0,93 persen ke 29.018,33, Indeks Hang Seng naik 121,75 poin atau 0,43 persen ke 28.558,59, dan Indeks Straits Times terkoreksi 2,8 poin atau 0,09 persen ke 3.136,77.

Rupiah Anjlok

Sementara kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup melemah 117 poin atau 0,83 persen ke posisi Rp14.355 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.238 per dolar AS.

“Dolar AS melonjak setelah Federal Reserve mengajukan proyeksi untuk kenaikan suku bunga pasca pandemi pertama hingga 2023, mengutip situasi kesehatan yang membaik,” tulis Tim Riset Monex Investindo Futures dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Mayoritas pejabat The Fed memperkirakan setidaknya kenaikan suku bunga 50 basis poin pada 2023, namun para pejabat dalam pernyataannya berjanji untuk menjaga kebijakan tetap mendukung untuk saat ini guna mendorong pemulihan pekerjaan yang sedang berlangsung.

Proyeksi menunjukkan prospek lonjakan inflasi pada tahun ini, meskipun kenaikan harga masih digambarkan bersifat sementara. Pertumbuhan ekonomi AS secara keseluruhan diperkirakan akan mencapai tujuh persen.

The Fed telah mengakui inflasi meningkat dan ekonomi AS memiliki banyak momentum dan hal itu menunjukkan pergeseran sikap yang jauh lebih ketat atau hawkish dalam rangkaian proyeksi tersebut.

Indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama lainnya saat ini berada di level 91,655, naik dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yaitu di posisi 91,129.

Sedangkan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun saat ini berada di level 1,563 persen, turun dibandingkan posisi penutupan sebelumnya 1,569 persen.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.273 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.273 per dolar AS hingga Rp14.368 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis melemah ke posisi Rp14.378 dibandingkan posisi pada hari sebelumnya Rp14.257 per dolar AS./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

Related Articles

BursaBURSA & KORPORASIHEADLINE NEWS

Astra Tebar Deviden Fantastis Rp15,6 Triliun, Pemegang Saham Perseoran Raup Rp292 Per Saham

JAKARTA, Bisnistoday - PT Astra International Tbk  (Astra) berhasil mencetak laba bersih...

Panama City (dok: Unsplash/Sol Cerrud)
BURSA & KORPORASIEkonomi & BisnisGLOBALKawasan Global

Para Konglomerat Sembunyikan Pajak Senilai 3% dari PDB Global

JAKARTA-Bisnistoday: Lembaga nirlaba internasional, Oxfam mengungkapkan orang-orang superkaya di dunia diduga menyembunyikan...

BURSA & KORPORASIKorporasi

BRI Life Luncurkan Logo Baru dan Identitas Visual Perusahan

JAKARTA, Bisnistoday – PT Asuransi BRI Life mengumumkan perubahan logo perusahaan sebagai...

BURSA & KORPORASIKorporasi

BRI Life Catat Pertumbuhan Signifikan, Raih Laba Rp954 Miliar

JAKARTA, Bisnistoday - PT Asuransi BRI Life membukukan pertumbuhan bisnis yang signifikan...