www.bisnistoday.co.id
Jumat , 8 Mei 2026
Home EKONOMI INDEF: Waspadai Tekanan Inflasi Membayangi Pertumbuhan Ekonomi
EKONOMIEkonomi & Bisnis

INDEF: Waspadai Tekanan Inflasi Membayangi Pertumbuhan Ekonomi

PANTAUAN INDEF : Pemerintah diminta serius antisipasi ancaman ekonomi politik./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Institute for Development of Economic & Finance (INDEF)  menilai pertumbuhan ekonomi nasional yang tinggi harus dibarengi dengan upaya untuk mengantisipasi lonjakan infllasi. 

Meski pertumbuhan ekonomi tinggi namun inflasi juga tinggi.Hingga akhir kuartal II 2022, inflasi telah mencapai 4,35 persen (yoy, Juni 2022) dan bahkan 4,9 persen (yoy, Juli 2022). Bagi masyarakat bukan inflasi inti yang dianggap rendah yakni sebesar 2,63 persen (yoy, Juni 2022), namun juga inflasi bergejolak sebesar 10,07 persen. 

Eko Listiyanto, Ekonom Senior INDEF dalam keteranganya mengatakan, tim INDEF menilai penyebabnya terjadi kenaikan harga bawang merah, cabe merah dan keriting, telur dan daging ayam. “Selain disebabkan persoalan cuaca dan iklim namun ketidakmampuan pemerintah mengatasi persoalan tersebut bertahun-tahun dan tidak ada terobasan massal hingga saat ini,” dalam keteranganya. 

Menurutnya, konsekuensi dari pertumbuhan tinggi dan inflasi tinggi adalah kemiskinan akan bertambah buruk pada akhir tahun 2022.Hal ini terlihat 4 sektor utama penduduk miskin bekerja, pertumbuhannya dibawah rata-rata nasional namun penduduk miskin menerima kenaikan harga paling tinggi.

“Sejumlah komoditas yang dikonsumsi penduduk miskin mengalami kenaikan, bukan hanya komoditas pangan, seperti beras, namun juga rokok kretek, sewa dan kontrak rumah, bensin, tarif uang sekolah hinga LPG 3 Kg,” tuturnya. 

Berkah Windfall Ekspor

Menurut pantauan INDEF, laju ekspor yang mampu tumbuh lebih baik dari triwulan I 2022 juga turut andil dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi triwulan II 2022. Pada triwulan II ekspor tumbuh 19,74 persen yoy, lebih tinggi dari triwulan I 2022 sebesar 16,69 persen yoy. Namun demikian, tekanan inflasi yang meningkat di negara-negara mitra dagang utama Indonesia bisa berisiko menggerus surplus di periode dua triwulan mendatang. 

“Ketika daya beli negara mitra dagang utama tertekan, maka konsekuensinya permintaan barang dan jasa bisa saja berkurang. Persoalan berpotensi lebih rumit karena implikasinya dapat menjalar ke pundi-pundi cadangan devisa yang berisiko ikut menyusut,” ungkap Eko Listiyanto melalui keteranganya.  

Ia menuturkan, kenaikan ekspor ini ditandai dengan meningkatnya total ekspor dari 102,88 miliar US$ pada Januari-Juni 2021 yang lalu menjadi 141,07 miliar US$ pada Januari-Juni 2022 atau terjadi kenaikan 37,11 persen. Di dalamnya, juga terdapat kenaikan eskpor non migas sebesar 37,33 persen pada periode yang sama. 

“Terdapat dua komponen terbesar pendorong kenaikan Januari-Juni 2022 tersebut yakni bahan bakar mineral yang sebesar US$24,11 Miliar atau naik sebesar 18,09 persen serta lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$15,14 Miliar atau naik sebesar (11,35 persen),” menurutnya. 

Selama pandemi hingga masa pemulihan ekonomi, jika dibandingkan SITC 2 digit, ekspor sektor pertambangan seperti batu bara dan bijih logam justru meningkat tajam dibandingkan ekspor dari sektor industri seperti besi dan baja 

Risiko Tekanan Global 

Menurut Eko Listiyanto, sungguh pun perekonomian triwulan II 2022 mampu tumbuh di atas 5 persen dan berada dalam mode ekspansi, namun tantangan ke depan tidak akan ringan. “Salah satu tantangan yang akan dihadapi di triwulan III dan IV 2022 adalah persoalan ketidakpastian global yang masih menggelayuti perekonomian dunia sejauh ini,” terangnya. 

Dari sisi geopolitik, lanjutnya, belum berakhirnya perang Rusia-Ukraina membuat gejolak ekonomi belum akan reda. Situasi menjadi lebih rumit saat tensi geopolitik antara Taiwan dan China semakin membara di semester II 2022. 

“Dari sisi keuangan, agresivitas kenaikan suku bunga acuan The Fed masih akan terus berlangsung sampai ada tanda-tanda tekanan inflasi di Amerika mereda. Ini mengindikasikan akan adanya peningkatan volatilitas keuangan di semester II 2022 dan bahkan tahun depan,” tambahnya. 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

TRADE EXPO INDONESIA 2026

<?php echo adrotate_ad(13); ?>

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kemenkop akan Buat Ketentuan Soal Rapat Anggota Tahunan

BANJARMASIN, Bisnistoday — Kementerian Koperasi (Kemenkop) akan memastikan koperasi melaksanakan kewajiban Rapat...

Pameran
Ekonomi & Bisnis

Pameran Waralaba FLEI Business Show 2026 Hadirkan Ratusan Ide Bisnis Unggulan

JAKARTA, Bisnistoday - Pameran waralaba FLEI Business Show 2026 resmi dibuka Kamis...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menteri Koperasi dan Habib Rizieq Sepakat Soal Kemandirian Ekonomi Umat

BOGOR, Bisnistoday – Menteri Koperasi Ferry Juliantono melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren...

Ekonomi & Bisnis

Bibit.id dan Stockbit Hadir di Art Jakarta Gardens 2026

JAKARTA, Bisnistoday - Aplikasi investasi digital Bibit.id dan Stockbit, berpartisipasi sebagai Lead...