JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa (5/10) ditutup melemah 54,64 poin ke posisi 6.288,05. Sementara indeks LQ45 turun 8,84 poin ke posisi 902,17.
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya, Selasa (5/10) menyebutkan kekhawatiran akan kasus properti di Tiongkok turut menggerus pasar saham Asia yang bergerak melemah, begitu juga dengan IHSG.
Pelaku pasar dan investor juga terus memantau terhadap gagal bayar atau default sektor properti di Tiongkok di mana sejak krisis Evergrande investor menjadi lebih khawatir dan fokus pada kemampuan likuiditas pengembang di Tiongkok.
Kekhawatiran tentang meningkatnya default utang oleh pengembang properti Tiongkok menjadi sentimen di tengah penurunan peringkat kredit baru dan ketidakpastian tentang nasib Evergrande Group.
Dibuka melemah, IHSG langsung menguat namun tak lama kembali ke zona merah hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih tak mampu beranjak dari teritori negatif sampai penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor terkoreksi dimana sektor infrastruktur turun paling dalam yaitu minus 2,5 persen, diikuti sektor teknologi dan sektor barang baku masing-masing minus 2,12 persen dan minus 2,09 persen.
Sedangkan dua sektor meningkat yaitu sektor energi dan sektor barang konsumen primer masing-masing sebesar 1,04 persen dan 0,82 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau “net foreign buy” sebesar Rp1,58 triliun.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.737.444 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 30,89 miliar lembar saham senilai Rp17,58 triliun. Sebanyak 191 saham naik, 331 saham menurun, dan 138 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 622,77 poin atau 2,19 persen ke 27.822,12, indeks Hang Seng naik 67,78 atau 0,28 persen ke 24.104,15, dan indeks Straits Times terkoreksi 21,53 poin atau 0,7 persen ke 3.068,12.
Rupiah Menguat
Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup menguat 14 poin ke posisi Rp14.253 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.267 per dolar AS. Penguatan didukung sentimen tax amnesty jilid II.
“Pengampunan pajak atau tax amnesty terus menjadi sentimen positif untuk pasar minggu ini,” kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi.
Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI pada Rabu (29/9) sepakat meneruskan Rancangan Undang-Undang (RUU) Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP) untuk pengambilan keputusan pada sidang paripurna DPR.
Dalam RUU HPP tersebut disebutkan program pengungkapan sukarela wajib pajak sebagaimana yang dipahami publik sebagai program “tax amnesty jilid 2” akan akan dimulai pada 1 Januari 2022 mendatang.
Dari eksternal, fokus investor tertuju pada laporan penggajian utama pada akhir minggu ini yang dapat meningkatkan kemungkinan bagi The Federal Reserve untuk mulai mengurangi stimulus segera bulan depan.
Data ketenagakerjaan non pertanian atau non farm payroll pada Jumat (8/9) diperkirakan menunjukkan peningkatan berkelanjutan di pasar tenaga kerja, dengan perkiraan 488.000 pekerjaan telah ditambahkan pada September.
Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.270 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.250 per dolar AS hingga Rp14.273 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa menguat ke posisi Rp14.260 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.276 per dolar AS./










































