JAKARTA, Bisnistoday – Jutaan orang di Amerika Serikat, Sabtu (29/3/2026), berdemonstrasi menentang pemerintahan Donald Trump. Tema utama ujuk rasa yang juga berlangsung di sejumlah negara lainnya ini adalah menolak agresi militer AS-Israel terhadap Iran.
Aksi Protes dengan label “No Kings” tersebut merupakan yang ketiga. Terakhir kali aksi serupa terjadi pada 7 Oktober tahun lalu dan mampu menghadirkan sekitar 7 juta orang.
Aksi unjuk rasa kali ini berlangsung di seluruh negara bagian, ditambah 16 negara lainnya.
Menurut Guardian penggagas aksi ini adalah koalisi yang terdiri dari kelompok anti-otoritarianisme Indivisible dan 50501, sejumlah serikat pekerja, dan organisasi akar rumput lainnya.
“Saya memperkirakan aksi ini akan menjadi protes terbesar dalam sejarah Amerika,” kata Ezra Levin, salah satu pendiri Indivisible, menjelang protes tersebut.
Pada acara “utama” di Twin Cities, Minnesota, Minneapolis dan St. Paul, penyelenggara memperkirakan sekitar 200.000 orang memadati jalan-jalan di sekitar gedung parlemen. Mereka menyuarakan protes terhadap pemerintahan Trump.
Bernie Sanders, senator independen Vermont, membangkitkan semangat massa dengan mengkritik peran kaum ultra-kaya dalam politik.
Musisi Bruce Springsteen mengkritik peran ikut ICE (penegak hukum federal yang kerap merazia imigran) di negara bagian tersebut, melalui lagu “Streets of Minneapolis” yang merupakan plesetan dari hitsnya Streets of Philadelphia.
Gubernur negara bagian, Tim Walz memuji warganya karena saling membela satu sama lain untuk melindungi para imigran.
Beberapa bulan lalu, di Minneapolis, agen federal telah membunuh dua warga sipil Renee Good dan Alex Pretti.Nama mereka banyak ditampilkan dalam spanduk ujuk rasa di kota tersebut. Aktris Jane Fonda bahkan membacakan pernyataan dari istri Good, Brenda.
Di New York
Di New York, ratusan ribu orang berkumpul di Times Square, serta wilayah pinggiran kota. Mereka ada yang membawa spanduk bertuliskan: “Kami melindungi demokrasi kami – rakyat di atas miliarder – kami melindungi tetangga kami.”
Sejumlah orang juga tampak membawa bendera Palestina. Banyak atribut dan nyanyian, termasuk pesan anti-ICE, anti-Trump, dan pro-hak LGBTQ+. Tetapi tema yang paling utama adalah anti-perang.
“Akhiri Perang ini,” kata MB, seorang warga Queens yang tidak ingin menggunakan nama lengkapnya karena alasan keamanan. “Rakyat Amerika tidak menginginkan apa yang dilakukan pemerintahan ini. Kami membutuhkan layanan kesehatan, kami butuh pekerjaan. Kami membutuhkan infrastruktur.”
Di Washington DC, sekelompok orang yang terdiri dari sekitar selusin perempuan keturunan Palestina, berdiri di tangga Monumen Lincoln dan mengibarkan bendera Palestina setinggi 10 kaki.
“Sebagian besar warga Amerika tidak tahu bahwa uang pajak kita digunakan untuk menyubsidi kekerasan,” kata Hazami Barmada, seorang peserta unjuk rasa. “Ini terjadi sementara banyak warga Amerika tidak mampu membeli rumah, susu, sekolah, atau layanan kesehatan. Harga terus naik sementara kita berperang untuk Israel.”/









































