JAKARTA, Bisnistoday- Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mempertahankan tingkat suku bunga acuan-nya disambut positif oleh pelaku pasar, baik saham maupun pasar uang.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Kamis (29/4) ditutup menguat 38,48 poin ke posisi 6.012,96. Sementara indeks LQ45 naik 6,91 poin ke posisi 897,81.
“Kebijakan The Fed akan suku bunga rendah ikut memacu pergerakan IHSG hari ini, apalagi The Fed juga telah mencanangkan era suku bunga rendah hingga tahun 2023,” kata analis MMC Sekuritas Herditya Wicaksana di Jakarta, Kamis (29/4).
Kendati demikian, kata Herditya, investor juga mencermati rilis laporan keuangan di Amerika Serikat dan perkembangan pandemi Covid-19 secara global yang mengakibatkan beberapa negara melakukan lockdown.
Sejak awal perdagangan, IHSG relatif nyaman berada di teritori positif hingga penutupan perdagangan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, saham sembilan sektor meningkat dimana sektor perindustrian naik paling tinggi yaitu 1,45 persen, diikuti sektor barang konsumen non primer dan sektor barang baku masing-masing 1,33 persen dan 1,29 persen.
Sedangkan dua sektor terkoreksi yaitu saham sektor barang konsumen primer dan sektor teknologi masing-masing sebesar 0,72 persen dan 0,29 persen
Penutupan IHSG diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau “net foreign sell” sebesar Rp21,78 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.073.794 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 16,22 miliar lembar saham senilai Rp9,81 triliun. Sebanyak 312 saham naik, 181 saham menurun, dan 146 saham tidak bergerak nilainya.
Rupiah Pun Menguat
Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta juga menguat didukung kebijakan pelonggaran bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve.
Rupiah ditutup menguat 50 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp14.450 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.500 per dolar AS.
“Ini murni dari efek The Fed terhadap dolar AS dan rupiah, di mana harapan inflasi agak sedikit mereda,” kata analis Valbury Asia Futures Lukman Leong./




