JAKARTA, Bisnistoday – Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) baru-baru ini telah menaikkan bunganya dari 5% menjadi 5,25% atau kenaikan 25 bps. Kenaikan bunga bank sentral ini tentu membuat seret likuiditas keuangan negara paman sam tersebut.
“Potensi resesi Amerika Serikat ini jauh lebih tinggi atau sekitar 65% dibanding Indonesia masih cukup strong dengan potensi 2%. Pertumbuhan keuangan masih diatas double digit ya cukup kuat, tentu ini berdampak positif,” ujar Nafan Aji Gusta Utama, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas kepada redaksi Bisnistoday, di Jakarta, Jumat (5/5).
Nafan mengutarakan, pemerintah melalui (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) KKSK sebenarnya sudah mendeteksi potensi krisis AS ini terhadap perekonomian domestic. Seperti diketahui, bahwa sekarang ini capital inflow terus mengalir, pasar obligasi makin atraktif, dan rupiah cenderung strong serta devisa hasil ekspor cukup baik. “The Fed sendiri juga telah menempuh kebijakan yang tightening (pengetatan).”
Bagi Nafan, sebenarnya stabilitas moneter nasional relative terjaga dengan baik. Meski begitu, pemerintah mesti terus tetap waspada terhadap uncertainty (ketidakpastian) global ataupun kawasan.
Seperti diketahui, lanjut Nafan, pertumbuhan ekonomi Kuartal I-2023 berada diatas ekspektasi sekitar 5% bahkan diatas pertumbuhan. Sedangkan hingga akhir tahun 2023 diprediksikan tetap berjalan positif. “Ini juga diakui berbagai lembaga internasional yang masih memproyeksikan diatas 5%,” ujarnya.
Nafan menambahkan, pertumbuhan ekspor juga mengalami perbaikan dengan membukukan pertumbuhan positif dalam lima bulan terturut-turut.
Dukungan lainnya, menurut Nafan. periode ramadan dan lebaran serta memasuki periode pemilu 2024 nanti diharapkan juga mampu memacu peningkatan daya beli masyarakat. “Kan nanti November sudah mulai kampanye. Nah ini, otomatis dorong peningkatan daya beli sebagai penopang stabilitas ekenomi tahun ini,” tambahnya.
The Fed Melunak
Nafan mengatakan, rencana kenaikan bunga The Fed yang agresif sudah memasuki masa-masa terakhir. Sekarang ini, The Fed bakal menerapkan bunga yang ketat, setelah naik 25 bps baru-baru ini.”Memang sesuai dot plot-nya adalah 5,1%, tidak seagresif sebelumnya, dan mudah-mudah tak ada kenaikan lagi,” ucapnya.
Wajar saja, lanjut Nafan, pertumbuhan inflasi di AS juga relatif lebih moderat tidak seperti sebelumnya. Selain itu, menjadi pertimbangan penting terjadi thermal industri perbankan akan khawatir likuiditas yang seret. “Setelah SVB, juga PacWest Bancorp, karena krisis perbankan berpengaruh jangka penjang dan membuka peluang default.”/




