JAKARTA, Bisnistoday – Geopolitik global dinilai tengah memasuki fase paling berbahaya dan tak terduga dalam beberapa dekade terakhir. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat disebut bukan akhir dari konflik global, melainkan awal dari rangkaian peristiwa besar yang berpotensi mengguncang tatanan dunia.
Peringatan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Mahfuz Sidik, dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik bertema “Pergeseran Peradaban dan Politik Global”, Jumat (9/1/2026) malam
“Dinamika politik global akan semakin memanas. Banyak peristiwa tak terduga yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan kini benar-benar terjadi,” ujar Mahfuz.
Mahfuz menilai, pengerahan militer Amerika Serikat ke Venezuela hingga penangkapan Presiden Maduro dan istrinya menjadi preseden berbahaya dalam hubungan internasional. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan berubahnya wajah diplomasi global menjadi lebih keras dan terbuka.
“Ini tidak akan berhenti di Venezuela. Justru ini membuka pintu bagi eskalasi konflik di berbagai kawasan,” tegasnya
Ia menyebut Iran sebagai target berikutnya. Operasi pergantian rezim dinilai tengah berlangsung melalui eskalasi demonstrasi yang makin luas dan anarkis.
Greenland dan Arktik Jadi Medan Baru Perebutan Kuasa
Tak hanya Timur Tengah dan Amerika Latin, Mahfuz mengungkapkan bahwa kawasan Arktik kini menjadi arena baru perebutan pengaruh global. Amerika Serikat, kata dia, berencana menguasai Greenland yang secara geopolitik strategis.
“Greenland adalah pintu masuk ke Eropa dan Arktik untuk menghadang pengaruh Rusia dan China yang sedang membangun jalur sutra baru di wilayah tersebut,” jelas Mahfuz
Greenland diproyeksikan menjadi basis militer utama AS di Eropa Utara guna melemahkan kekuatan Rusia, dengan skenario yang menyerupai strategi Amerika Serikat saat menghadapi Uni Soviet melalui perang Afghanistan.
Trump dan Rekonstruksi Tatanan Dunia
Mahfuz juga menyoroti kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menarik Amerika dari puluhan lembaga global di bawah naungan PBB. Langkah itu dinilainya sebagai sinyal kuat bahwa AS tak lagi ingin terikat pada tatanan internasional lama.
“Trump ingin mengembalikan Amerika sebagai satu-satunya superpower. PBB dianggap tidak lagi memiliki otoritas untuk mengatur Amerika,” ujarnya
Dalam pandangan Mahfuz, politik luar negeri AS kini dibangun dengan logika hitam-putih: kawan atau lawan.“Kalau Anda kawan, kita bekerja sama. Tapi kalau Anda lawan, maka akan dilawan,” katanya.
Konsolidasi Negara-Negara Islam
Menghadapi perubahan ekstrem tersebut, Mahfuz menyerukan pentingnya konsolidasi politik negara-negara Islam yang dinilainya terus melemah dalam konstelasi global.
“Umat Islam dan negara-negara muslim harus membangun kesadaran kolektif untuk menyatukan kekuatan politiknya. Dunia harus kembali ke tatanan multipolar,” pungkasnya
Ia menegaskan, Indonesia sebagai negara besar dengan politik luar negeri bebas aktif perlu mencermati perubahan global ini secara serius agar tidak terseret dalam pusaran konflik yang kian sulit diprediksi.//



















![Seorang petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air ke hutan yang terbakar di wilayah Lege-Cap-Ferret, Prancis barat, pada 24 Juli 2026 [Caroline Blumberg/AP]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/07/Karhutla-680x533.jpg)






















