JAKARTA, Bisnistoday – Perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana ilmiah yang hanya dibicarakan paramahasiswa ilmu lingkungan. Ia telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Banjir bandang, tanah longsor, atau panas menyengat yang akhir-akhir ini kita rasakan, merupakan wujud nyata dampak iklim yang berubah.
Di Indonesia, masyarakat mulai sadar musim tidak lagi datang seperti dulu. Petani kesulitan memprediksi kapan harus menanam, sementara nelayan bingung menghadapi perubahan cuaca di laut. Apa yang dulunya dianggap sebagai siklus alam yang familiar semakin menjadi tantangan yang memengaruhi mata pencaharian, tradisi, dan kesejahteraan masyarakat
Kembalinya El Nino mengingatkan kita bahwa meskipun pola iklim ini selalu menjadi bagian dari alam, dampaknya semakin parah di dunia yang memanas. El Nino adalah fenomena alam yang biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun. Namun, seiring dengan terus meningkatnya suhu global, dampaknya menjadi lebih intens.
Para ilmuwan dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) baru-baru ini melaporkan bahwa kondisi El Nino semakin menguat, disertai dengan suhu permukaan laut yang luar biasa hangat di Samudra Pasifik. Di seluruh dunia, sejumlah organisasi kemanusiaan telah memperingatkan bahwa mereka yang sudah menghadapi kemiskinan, kerawanan pangan, atau konflik mungkin akan menanggung beban terberat.
Peringatan ini mengingatkan kita bahwa perubahan iklim tidak dialami secara merata, dampaknya bahkan seringkali paling dirasakan oleh mereka yang memiliki sumber daya terbatas.
Di Indonesia, dampak El Nino sangat terasa. Musim kemarau yang lebih panjang dan kering dapat mengurangi produksi pertanian, membatasi akses ke air bersih, dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di daerah gambut. Kabut asap dari kebakaran ini tidak hanya merusak ekosistem; tetapi juga memengaruhi kesehatan masyarakat, mengganggu transportasi, dan mengganggu kegiatan ekonomi.
Bagi banyak keluarga yang bergantung pada pertanian, perikanan, dan sumber daya alam, perubahan lingkungan ini dapat mengancam pendapatan dan cara hidup mereka.
Kearifan lokal
Tradisi budaya Indonesia yang kaya telah lama mengajarkan pentingnya hidup harmonis dengan alam. Banyak komunitas lokal memiliki pengetahuan berharga tentang pengelolaan hutan, konservasi air, dan adaptasi terhadap perubahan musim.
Tradisi-tradisi ini mengingatkan kita bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya tentang melindungi sumber daya alam, tetapi juga tentang melestarikan warisan budaya dan memastikan bahwa generasi mendatang dapat melanjutkan cara hidup warisan leluhur mereka. Pada saat yang sama, kebijakan publik yang kuat perlu untuk mendukung kearifan lokal.
Selain itu, pemerintah juga dapat memperkuat adaptasi iklim dengan meningkatkan sistem peringatan dini, memperluas penyimpanan air dan irigasi, melindungi hutan dan lahan gambut dari kebakaran, dan membantu petani mengadopsi praktik pertanian yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.
Koordinasi yang lebih baik antara lembaga nasional dan lokal juga sangat penting selama keadaan darurat. Dalam jangka panjang, pengurangan emisi gas rumah kaca dan perluasan energi terbarukan akan membantu Indonesia menjadi lebih tangguh terhadap tantangan iklim di masa depan.
Sebagai anggota masyarakat, kita juga memiliki peran penting. Tindakan sederhana seperti menghemat air, mencegah aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan atau lahan, memperhatikan peringatan cuaca, dan berpartisipasi dalam upaya konservasi lingkungan, dapat membuat perbedaan yang berarti.
Petani dapat mengeksplorasi tanaman tahan kekeringan dan metode irigasi yang lebih efisien, sementara warga dapat bekerja sama untuk mempersiapkan diri menghadapi cuaca ekstrem dan mendukung mereka yang paling rentan.//







































