JAKARTA, Bisnistoday – Sejumlah sentimen global dan domestik bakal mewarnai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan, Selasa (17/3). IHSG pada perdagangan kemarin, melemah 1.61% pada Senin, 16 Maret 2026, mencapai level 7.022. Diperkirakan pergerakan IHSG masih volatile untuk perdagangan intraday. Hal ini diungkapkan oleh Analis Senior PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto.
“Kami melihat penguatan IHSG hari ini berpotensi tertahan dengan volatilitas intraday yang masih tinggi,” ungkap Rully Aryo Wisnubroto di Jakarta, Selasa (17/3).
Menurut Rully, investor asing pada perdagangan kemarin membukukan net inflow relatif terbatas sekitar IDR 176 miliar di pasar reguler, belum cukup mengimbangi tekanan jual sebelumnya di saham perbankan besar.
“Net outflow asing masih berlanjut di BBCA (IDR400miliar), BBNI (IDR202miliar), dan BBRI (IDR131miliar), sehingga IHSG terkoreksi tajam, sempat turun lebih dari 3% dan menyentuh intraday low di kisaran 6.917,3 sebelum sedikit memangkas pelemahan menjelang penutupan.”
Disisi lain, menurut Rully, recara eksternal rebound Wall Street berpotensi menjadi katalis teknikal jangka pendek, tetapi sentimen global masih rapuh di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah dan harga minyak yang bertahan di atas USD 100 per barrel, menjaga risiko tekanan inflasi dan pengetatan kondisi keuangan.
Ia menambahkan, bahwa isu domestik, komitmen Pemerintah mempertahankan defisit fiskal di bawah 3% PDB melalui pengetatan belanja operasional kementerian/lembaga menandakan ruang kebijakan yang lebih terbatas, sehingga kami melihat penguatan IHSG hari ini berpotensi tertahan dengan volatilitas intraday yang masih tinggi
Sementara, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa memaparkan sejumlah isu menarik pasar diantaranya keputusan BI Rate serta harga minyak dunia. Untuk isu BI Rate yang diketahui hari ini BI bakal mengumumkan keputusan suku bunga kebijakan hari ini, dan kami mempertahankan pandangan bahwa BI akan menahan suku bunga acuan di 4,75%, sejalan dengan konsensus pasar di tengah tekanan global dan domestik yang masih tinggi.
Sikap BI kemungkinan tetap berorientasi pada stabilitas, terutama karena Rupiah mendekati level IDR17.000 (IDR16.990 kemarin) di tengah DXY yang kuat dan meningkatnya risk aversion global, sementara kepemilikan asing pada SBN turun ke rekor terendah 12,7%.
Selain itu, lanjut Jessica, harga minyak melonjak di atas USD106/barel untuk Brent dan USD100/barel untuk WTI setelah serangan kedua dalam tiga hari terhadap pelabuhan Fujairah di UEA, salah satu hub ekspor utama di dekat Selat Hormuz, serta serangan AS terhadap Pulau Kharg di Iran, yang meningkatkan risiko gangguan pasokan di Timur Tengah.
“Konflik ini telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah pasar global, sehingga mendorong pelepasan cadangan strategis sekitar 400 juta barel yang dipimpin oleh IEA, AS, dan Jepang, sementara pasar masih menilai risiko gangguan pasokan dibandingkan skenario kejutan pasokan penuh.” /



