www.bisnistoday.co.id
Jumat , 10 April 2026
Home OPINI Indepth Gejolak Energi Global dan Peringatan bagi Indonesia: Saatnya Mempercepat Transisi Energi
Indepth

Gejolak Energi Global dan Peringatan bagi Indonesia: Saatnya Mempercepat Transisi Energi

Kendaraan Listrik
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Ketegangan geopolitik dunia kembali memberikan peringatan keras bagi sistem energi global. Konflik yang meningkat di kawasan Timur Tengah telah memicu lonjakan harga energi internasional dan mengguncang pasar komoditas. Situasi ini tidak hanya berdampak pada negara produsen energi, tetapi juga memberi tekanan besar bagi negara yang masih bergantung pada impor energi fosil, termasuk Indonesia.

Laporan terbaru dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai bahwa dinamika geopolitik yang terjadi saat ini semakin mempertegas urgensi bagi Indonesia untuk mempercepat transisi menuju energi terbarukan dan memperkuat kemandirian energi nasional.

Dalam sepekan terakhir, harga minyak dunia kembali melonjak hingga menembus angka USD 100 per barel, naik sekitar 8 persen. Pada saat yang sama, harga LNG di pasar Asia bahkan sempat melonjak hampir 40 persen dalam satu hari perdagangan pada awal Maret 2026. Lonjakan ini memperlihatkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap konflik geopolitik.

Ketika ketegangan meningkat di kawasan produsen energi utama, gangguan pasokan dan spekulasi pasar langsung memicu kenaikan harga yang signifikan. Dampaknya merambat cepat ke seluruh dunia, termasuk negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut.

Bagi Indonesia, volatilitas harga energi global ini menjadi tantangan serius karena struktur energi domestik masih didominasi oleh bahan bakar fosil.

Ancaman terhadap Fiskal Negara

Lonjakan harga minyak tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga terhadap kondisi fiskal negara. Berdasarkan sensitivitas fiskal yang selama ini digunakan pemerintah, setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per barel dapat menambah defisit APBN sekitar Rp6,8 triliun.

Dengan kenaikan harga minyak sekitar 8 persen dalam waktu singkat, tekanan terhadap fiskal Indonesia diperkirakan dapat mencapai Rp45–50 triliun. Angka ini menunjukkan betapa rentannya keuangan negara terhadap gejolak harga energi global.

Kondisi tersebut diperparah oleh faktor nilai tukar. Ketika impor energi meningkat, defisit transaksi berjalan dapat melebar dan menekan nilai tukar rupiah. Setiap depresiasi rupiah sebesar Rp100 terhadap dolar AS diperkirakan dapat meningkatkan defisit anggaran sekitar Rp0,8 triliun.

Dengan demikian, lonjakan harga energi global tidak hanya meningkatkan biaya energi nasional, tetapi juga berpotensi memicu tekanan ganda terhadap stabilitas makroekonomi.

Ketergantungan pada Energi Fosil

Struktur energi Indonesia yang masih sangat bergantung pada minyak, gas, dan batu bara membuat sistem energi nasional lebih sensitif terhadap guncangan eksternal. Ketika harga komoditas energi dunia berfluktuasi tajam, dampaknya langsung terasa pada biaya produksi, harga energi domestik, hingga stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Dalam situasi seperti ini, sebagian negara biasanya kembali mengandalkan batu bara sebagai penyangga sementara untuk menahan kenaikan biaya energi. Batu bara sering dianggap sebagai “insurance policy” karena pasokannya relatif besar dan harganya lebih stabil dibanding minyak dan gas.

Namun, lonjakan harga batu bara tidak sebesar minyak dan gas. Harga batu bara Newcastle sempat naik sekitar 9 persen hingga menyentuh kisaran USD 150 per ton, tetapi kenaikan ini terutama terjadi pada batu bara berkalori tinggi dan tidak mencerminkan lonjakan yang merata di seluruh pasar.

Selain itu, negara importir besar seperti China dan India telah belajar dari krisis energi 2022 dengan meningkatkan produksi domestik mereka. Pada 2025, produksi batu bara kedua negara tersebut diperkirakan mencapai 5,9 miliar ton, dan masih berpotensi meningkat pada 2026. Kondisi ini berpotensi menahan kenaikan harga batu bara di pasar global.

Ketahanan Energi sebagai Prioritas

Melihat dinamika tersebut, penguatan ketahanan energi nasional menjadi semakin penting. Ketergantungan pada energi fosil yang sangat dipengaruhi pasar global membuat sistem energi domestik rentan terhadap guncangan eksternal.

Menurut analisis INDEF, ketahanan energi tidak dapat terus bertumpu pada sumber energi fosil yang volatilitas harganya tinggi. Dalam jangka panjang, diversifikasi sumber energi melalui pengembangan energi terbarukan menjadi strategi yang lebih berkelanjutan.

Transisi energi bukan hanya agenda lingkungan, tetapi juga strategi ekonomi untuk memperkuat stabilitas energi dan fiskal negara.

Dorongan Politik untuk Kemandirian Energi

Pemerintah Indonesia juga mulai memperkuat komitmen terhadap kemandirian energi nasional. Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa kesempatan menegaskan pentingnya pengembangan energi bersih sebagai bagian dari strategi jangka panjang.

Salah satu target ambisius yang dicanangkan adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 gigawatt dalam beberapa dekade ke depan. Selain itu, pemerintah juga membentuk Satgas Transisi Energi pada 2026yang bertugas mempercepat implementasi agenda energi bersih nasional, termasuk konversi pembangkit listrik berbasis diesel menuju energi terbarukan.

Langkah ini menunjukkan bahwa transisi energi mulai ditempatkan sebagai prioritas strategis dalam kebijakan pembangunan nasional.

Renewable Energy Zones dan Peluang Industri

INDEF juga menyoroti pentingnya pendekatan Renewable Energy Zones (REZ) dalam pengembangan energi terbarukan. Konsep ini mengintegrasikan pembangunan pembangkit energi bersih dengan pusat-pusat permintaan listrik baru, terutama kawasan industri.

Dengan menghubungkan energi terbarukan langsung ke kawasan industri, permintaan listrik menjadi lebih terjamin sehingga proyek energi bersih dapat mencapai skala ekonomi yang lebih baik.

Analisis bersama INDEF dan Systemiq menunjukkan bahwa pengembangan REZ yang terhubung dengan kawasan industri, termasuk kawasan ekonomi khusus (KEK), berpotensi menciptakan permintaan listrik sebesar 24–30 TWh. Skala ini setara dengan kebutuhan kapasitas pembangkit surya sekitar 8–13 GW.

Lebih jauh lagi, proyek tersebut diperkirakan dapat memobilisasi investasi sekitar USD 13–18 miliar serta membuka peluang ekspor baru senilai USD 6–7 miliar per tahun. Kontribusinya terhadap perekonomian nasional juga tidak kecil, dengan tambahan sekitar 0,5–1 persen terhadap PDB dibandingkan skenario bisnis seperti biasa.

Transisi Energi sebagai Peluang Ekonomi

Dengan pendekatan yang tepat, transisi energi tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Ketersediaan listrik bersih dapat meningkatkan daya saing industri domestik dan menarik investasi global yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.

Selain itu, banyak negara mulai menerapkan standar karbon dalam perdagangan internasional. Industri yang menggunakan energi bersih akan memiliki keunggulan kompetitif di pasar global.

Karena itu, integrasi antara pembangunan energi terbarukan dan pengembangan kawasan industri menjadi strategi penting dalam mendorong industrialisasi hijau.

Momentum untuk Perubahan

Gejolak harga energi global yang dipicu konflik geopolitik seharusnya menjadi momentum refleksi bagi Indonesia. Ketergantungan terhadap energi fosil telah terbukti menciptakan kerentanan terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Percepatan pengembangan energi terbarukan bukan lagi sekadar pilihan kebijakan, melainkan kebutuhan strategis. Dengan memanfaatkan momentum transisi energi global, Indonesia tidak hanya dapat memperkuat ketahanan energi tetapi juga menciptakan peluang investasi, ekspor, dan pertumbuhan ekonomi baru.

Jika dikelola dengan tepat, transformasi menuju energi bersih dapat menjadi salah satu motor utama pembangunan ekonomi Indonesia di masa depan.

Jakarta, Maret 2026

Oleh : Imaduddin Abdullah, Direktur Kolaborasi Internasional dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Beritasatu Network

Related Articles

Kelapa Sawit
Indepth

Menimbang Arah Industri Sawit di Tengah Gejolak Energi dan Geopolitik

INDUSTRI kelapa sawit Indonesia kembali berada di persimpangan strategis. Proyeksi lonjakan harga...

Truk Kelebihan Beban dan Muatan.
Indepth

Zero ODOL 2027, Ujian Serius Negara Menata Logistik dan Keselamatan Jalan

JAKARTA, Bisnistoday - Target ambisius pemerintah mewujudkan kebijakan Zero Over Dimension Over...

Ilustrasi Oposisi
Indepth

Kesepakatan Dagang atau Konsesi Sepihak?

JAKARTA, Bisnistoday - Kesepakatan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat memantik perdebatan tajam di...

Mahasiswa
Indepth

Kebijakan dan Praktik Diskriminatif Pendidikan Tinggi Indonesia

ADA PARADOKS yang makin terasa di pendidikan tinggi Indonesia: kampus negeri kian...