JAKARTA, Bisnistoday – Akses bahan bacaan, buku pedoman, maupun bahan ajar bagi penyandang disabilitas netra masih jauh panggang dari api.
Berdasarkan laporan World Blind Union, lebih dari 90% karya tulis di dunia tidak dapat diakses penyandang disabilitas netra. Bahkan di Indonesia, mengutip data Kemendikbudristek, hingga akhir 2024, hanya 5% buku pelajaran dan bacaan umum telah dialihmedia menjadi bentuk lebih mudah akses bagi disabilitas netra, seperti braille, audiobook, atau format digital.
Dari jumlah alihmedia tersebut, tidak menyisakan ruang bagi bahan ajar tentang pembelajaran ilmu tentang kearifan lokal, salah satunya pedoman aksara Jawa bagi penyandang disabilitas netra.
Selain memunculkan ketimpangan, absennya bahan ajar tersebut mengancam keberlangsungan generasi muda, termasuk teman-teman disabilitas netra, dalam usaha melestarikan warisan budaya tak benda dan beberapa karya, di antaranya menjadi Memory of the World (MoW) UNESCO.
Di tengah tantangan tersebut, mahasiswa Program Studi Jawa FIB UI Nayla Marinlee Auramadina atau karib disapa Marin menjawab permasalahan tersebut dengan membangun sistem pembelajaran tentang penggunaan aksara Jawa lebih inklusif dan adaptif bagi penyandang disabilitas netra, melalui Sandhya-Braille.
Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi pada era Revolusi Industri 4.0, Marin merancang sistem pembelajaran aksara Jawa melalui pendekatan braille silabis (abugida).
Menurutnya, pendekatan braille silabis memungkinkan pembelajarannya tidak dilakukan secara linier per-huruf seperti aksara Latin, namun menyesuaikan struktur aksara Jawa sebagai sistem silabis, meliputi satuan aksara, pasangan, dan sandhangan sebagai unsur pembentuk suku kata, sehingga memudahkan bagi penyandang disabilitasnetra mempelajari dan mengaplikasikannya.
Pendekatan Sandhya-Braille, lanjut Marin, menjadikannya lebih sistematis, selaras dengan struktur linguistik Jawa, serta berpotensi mendukung proses belajar menjadi lebih mandiri, dan bermakna bagi pembelajar disabilitas netra.
Sistem perancangan dengan dasar konseptual kuat secara linguistik, matematis, dan pedagogis itu dibangun melalui pemetaan kode unik, aturan transformasi teratur, serta pembagian fungsi simbol pendukung keterbacaan secara taktil.
“Dengan begitu, Sandhya-Braille tidak hanya berfungsi sebagai media bantu baca, tetapi juga sebagai model pembelajaran inklusif agar dapat dikembangkan lebih lanjut untuk memperluas akses literasi budaya bagi disabilitas netra,” ujar Marin belum lama ini.
Mahasiswa berprestasi
Di bawah bimbingan Dr.Atin Fitriana dan Dwi Rahwamanto, M.Hum, Marin berhasil beroleh Juara Pertama Mahasiswa Berprestasi (Mapres) FIB UI mengusung Sandhya-Braille sebagai solusi atas belum tersedianya akses pedoman belajar aksara Jawa bagi disabilitas netra.
“Saya berharap Sandhya-Braille tidak hanya berakhir menjadi gagasan pada ajang Mapres FIB UI, melainkan bisa diwujudkan agar teman-teman disabilitas netra dari dalam dan luar negeri dapat belajar dan memahami aksara Jawa sehingga dapat menikmati sumber kearifan lokal berupa manuskrip beraksara Jawa. Bahkan lebih jauh dapat melebarkan cita-cita menjadi filolog Jawa,” tegas Marin.//


