JAKARTA, Bisnistoday – Aset berisiko Indonesia kembali berada dibawah tekanan. IHSG pada perdagangan Jumat turun sekitar 2% ke 6.957, dengan investor asing membukukan net sell di pasar reguler sekitar Rp 1,7 triliun, kembali didominasi oleh pelepasan di saham perbankan besar.
“Pada saat yang sama, Rupiah melemah lebih jauh dan ditutup di kisaran 17.350 per USD, sementara yield SBN tenor 10 tahun berada di sekitar 6,86%,” urai Analis Senior Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto di Jakarta, Senin (4/5).
“Pertanyaannya, apakah kenaikan carry Rupiah saja cukup untuk mengembalikan kepercayaan pasar, atau pasar masih menunggu sinyal tambahan di sisi fiskal dan narasi kebijakan yang lebih meyakinkan?”
Lebih lanjut Rully mengatakan, dalam kondisi seperti ini, menjaga daya tarik aset keuangan Indonesia menjadi semakin menantang selama volatilitas Rupiah tetap tinggi, mengingat stabilitas kurs masih menjadi salah satu prasyarat utama bagi investor asing.
Dari sisi kebijakan, lanjut Rully, SRBI praktis menjadi instrumen utama Bank Indonesia untuk menstabilkan Rupiah, dengan outstanding mendekati Rp 885 triliun dan imbal hasil tenor 12 bulan sekitar 6,22%./


