JAKARTA, Bisnistoday – Ekonom Senior memperkirakan prospek pemulihan ekonomi relatif berjalan lambat. Bahkan tren pertumbuhan ekonomi nasional ini cenderung lebih lambat dibandingkan dengan negara tetangga.
“Pertumbuhan ekonomi terus menunjukkan kecenderungan melambat,” ungkap Ekonom Senior Faisal Basri, melalui cuitan @FaisalBasri, yang diunggah pada Senin (23/1). “Kecepatan pemulihan ekonomi relatif lambat dibandingkan negara tetangga,” terangnya.
Tidak hanya itu, dalam cuitannya, Faisal Basri juga menyatakan pendapatan nasional per kapita merosot dan kembali turun kelas dari negara berpendapatan menengah-atas menjadi negara berpendapatan kelas menengah bawah.
Dalam cuitannya, Faisal membeberkan, transformasi ekonomi juga mengalami ketersendatan. Ia mencontohkan, ekspor masih saja didominasi oleh komoditas primer . Begitupun peranan industri manufaktur terus merosot dan turun sebelum mencapai titik optimal. “Terjadi gejala dini deindustrialisasi,” dalam keteranganya.
Dari sisi pekerja, Faisal berkomentar, pekerja formal lebih besar dari pekerja informal. Dengan kenyataan penduduk insecure dengan kata lain, masih terjadi miskin ekstrem, miskin, nyaris miskin dan rentan miskin. Ini terjadi pada lebih dari separuh jumlah penduduk di Indonesia.
Ekonom senior ini, memperkirakan target pemerintah yang terungkap dalam Bappenas, untuk menjadi negara berpendapatan tinggi pada tahun 2036, sepertinya harus mundur ke tahun 2043 mendatang. “Sehingga, ancaman middle income trap semakin nyata.”
Hal-hal lainnya yang berkaitan, dalam cuitan @FaisalBasri ini, bahwa terjadi learning loss, dan disisi lain, jantung perekonomian nasional semakin lemah. “Learning loss, dan jantung perekonomian semakin lemah,” tambahnya./



