JAKARTA, Bisnistoday – Kebanyakan masyarakat hingga sekarang masih enggan memeriksakan kesehatan terutama penyakit kanker dalam dirinya. Meyoritas masyarakat datang ke pusat pelayanan kesehatan sudah stadium lanjut sehingga berrisiko penyembuhanya semakin tipis. Hal tersebut diungkapkan pegiat kesehatan yakni Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia, Linda Agum Gumelar.
“Masyarakat masih enggan dan menunda-tunda memeriksakan dirinya, dan ketika diperiksa sudah memasuki tahap lanjut. Banyak alasan, rumah sakit jaraknya jauh, tidak ada biaya hingga pelayanan BPJS dianggap rumit, menyangkut biaya yang dicover dan tidak,” ungkap Linda Gumelar, dalam Temu Media dalam rangka Hari Kanker Sedunia Tahun 2022 dengan tema “Close the Care Gap” secara virtual, di Jakarta, Rabu (2/2).
Seperti diketahui, penyakit kanker merupakan masalah kesehatan di dunia maupun nasional, dan setidaknya 10 juta orang meninggal akibat kanker setiap tahun. Dari jumlah tersebut, 70% kematian akibat kanker terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.
Data Globocan menyebutkan, tahun 2020, kasus baru kanker di Indonesia sebanyak 396,914 kasus dengan kematian sebanyak 234,511 orang. 3.7 juta nyawa dapat diselamatkan dengan strategi pencegahan, deteksi dini, tata laksana yang tepat waktu dan berkualitas.
Lebih lanjut Linda mengatakan, fasilitas kesehatan untuk penyakit kanker masih jauh memadai. Seperti bisanya, warga berobat ke Rumah Sakit tingkat II, dilanjutkan ke Rumah sakit tingkat I atau lebih tinggi. “Pasien harus menempuh perjalanan jauh, membutuh waktu lama, serta biaya tinggi. Karena itu, sangat optimal ada kebijakan Kemenkes untuk RS pusat kanker di sejumlah wilayah. Ini angina segar,” ujarnya.
Sementara, Plt. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular: dr. Elvieda Sariwati, M.Epid mengatakan, pemerintah nantinya akan memberikan peluang rujukan bagi setiap Rumah Sakit di wilayah masing-masing untuk pengobatan kanker.
Menurut Elvieda, berbagai faktor penyebab kanker diantaranya adalah faktor genetic, gejala hormonal saat haid, menikah usia berumur, pemasangan konstrasepsi, ataupun merokok, konsumsi lemah tidak terukur maupun tingkat stress berlebihan. “Semua faktor ini bisa menjadi pemicu timbulnya kanker, dan tentu ada sebab lainnya,” tuturnya.
Elvieda mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama menekan penyakit kanker. Pemerintah tidak lembaga sosial masyarakat, penggiat tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Begitupun media massa, juga berperang penting dalam penyebarluasan informasi tentang kanker.
“Ini tugas besar, untuk menekan kanker di Indonesia. Semua peran dibutuhkan tidak hanya pemerintah, tetapi juga dibantu peran komunitas, organisasi serta media. Semua pihak harus berperang dalam mengurangi gap kebutuhan masyarakat penderita kanker,” tuturnya./








































