www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 7 November 2026
Home GLOBAL Ratusan Warga Tewas Akibat Konflik Sudan
GLOBALKawasan Global

Ratusan Warga Tewas Akibat Konflik Sudan

KONFLIK SUDAN tambah keterpurukan warga sipil.
Social Media

JENEWA, Bisnistoday – Juru Bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Margaret Harris kepada media di Jenewa, baru-baru ini menyatakan bahwa selama pertempuran militer di Sudan telah menewaskan sebanyak 413 jiwa sedangkan 3551 warga terluka.

Begitupun, Badan Anak-anak PBB (UNICEF) mencatat sebanyak Sembilan anak dalam kondisi tewas dalam pertempuran di Sudan, sedangkan lebih dari 50 anak mengalami luka parah.Selain itu, WHO menncatat sebanyak 11 penyerangan terhadap fasilitas kesehatan termasuk 10 serangkan terjadi sejak 15 April 2023 kemarin.

“Menurut Kementerian Kesehatan di Sudan, jumlah fasilitas kesehatan yang berhenti beroperasi sebanyak 20. Dan masih menurut angka Kementerian Kesehatan, jumlah fasilitas kesehatan yang berisiko berhenti adalah 12,” kata Harris.

Hari mengungkapkan, dalam kondisi tersebut, menimbulkan banyak warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dan tidak melalu persoalan korban pertempuran.

Sementara, menurut jubir UNICEF, James Elder mengaku prihatin atas kejadian yang menewaskan anak-anak. Atas kejadian banyaknya korban ini, harus membayar mahal sebagai dampak pertempuran ini.

“Kami sekarang mendapat laporan sedikitnya sembilan anak tewas dan sedikitnya 50 terluka. Jumlah itu akan terus meningkat selama pertempuran berlanjut,” ujar dia.

Butuh Aksi Kemanusiaan

Sebelum terjadi aksi kekerasan ini, Elder mengatakan, sebenarnya Sudan sudah membutuhkan kepedulian kemanusiaan untuk anak-anak lebih tinggi. Sebanyak tiga perempat anak diperkirakan hidup dalam kemiskinan ekstrem.

 Pada saat yang sama, sebanyak 11,5 juta anak dan anggota masyarakat membutuhkan layanan air dan sanitasi darurat, 7 juta anak putus sekolah, dan lebih dari 600.000 anak menderita gizi buruk akut yang parah.

Pertempuran meletus pada 15 April 2023 antara tentara Sudan (SAF) dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di Ibu Kota Khartoum dan sekitarnya.

Sudan tidak memiliki pemerintahan yang berfungsi sejak Oktober 2021, ketika militer membubarkan pemerintahan transisi Perdana Menteri Abdalla Hamdok dan menyatakan keadaan darurat dalam suatu langkah yang oleh kekuatan politik disebut sebagai kudeta./Ant

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Para pengunjuk rasa menuntut keringanan utang bagi negara-negara miskin dalam pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bangkok pada Oktober lalu. (dok: Peerapon Boonyakiat/Sopa Images/Shutterstock)
EKONOMIGLOBAL

Utang Luar Negeri Semakin Mencekik Negara Miskin

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Negara-negara miskin kini semakin sulit untuk berinvestasi untuk masa...

Pemilu Sela di AS (dok: The GuardianSteven Garcia/NurPhoto/Shutterstock)
EKONOMIGLOBAL

Demokrat Menangi Pemilu Sela di AS, Apa Dampaknya bagi Asia?

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Partai Demokrat berhasil menang telak dalam pemili paruh waktu...

Degung Kapitol
Kawasan Global

Demokrat Rebut Kendali Kongres AS, Kemenangan Besar yang Guncang Kekuasaan Trump

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Peta kekuatan politik Amerika Serikat (AS) mengalami perubahan signifikan setelah...

Geoffrey Hinton (dok: University of Toronto)
GLOBALOtomotif & Tekno

Peraih Nobel Geoffrey Hinton Sebut Dunia akan Lebih Baik Tanpa AI

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Serangan siber yang melumpuhkan sejumlah supermarket di Prancis, baru-baru...