JENEWA, Bisnistoday – Juru Bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Margaret Harris kepada media di Jenewa, baru-baru ini menyatakan bahwa selama pertempuran militer di Sudan telah menewaskan sebanyak 413 jiwa sedangkan 3551 warga terluka.
Begitupun, Badan Anak-anak PBB (UNICEF) mencatat sebanyak Sembilan anak dalam kondisi tewas dalam pertempuran di Sudan, sedangkan lebih dari 50 anak mengalami luka parah.Selain itu, WHO menncatat sebanyak 11 penyerangan terhadap fasilitas kesehatan termasuk 10 serangkan terjadi sejak 15 April 2023 kemarin.
“Menurut Kementerian Kesehatan di Sudan, jumlah fasilitas kesehatan yang berhenti beroperasi sebanyak 20. Dan masih menurut angka Kementerian Kesehatan, jumlah fasilitas kesehatan yang berisiko berhenti adalah 12,” kata Harris.
Hari mengungkapkan, dalam kondisi tersebut, menimbulkan banyak warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dan tidak melalu persoalan korban pertempuran.
Sementara, menurut jubir UNICEF, James Elder mengaku prihatin atas kejadian yang menewaskan anak-anak. Atas kejadian banyaknya korban ini, harus membayar mahal sebagai dampak pertempuran ini.
“Kami sekarang mendapat laporan sedikitnya sembilan anak tewas dan sedikitnya 50 terluka. Jumlah itu akan terus meningkat selama pertempuran berlanjut,” ujar dia.
Butuh Aksi Kemanusiaan
Sebelum terjadi aksi kekerasan ini, Elder mengatakan, sebenarnya Sudan sudah membutuhkan kepedulian kemanusiaan untuk anak-anak lebih tinggi. Sebanyak tiga perempat anak diperkirakan hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Pada saat yang sama, sebanyak 11,5 juta anak dan anggota masyarakat membutuhkan layanan air dan sanitasi darurat, 7 juta anak putus sekolah, dan lebih dari 600.000 anak menderita gizi buruk akut yang parah.
Pertempuran meletus pada 15 April 2023 antara tentara Sudan (SAF) dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di Ibu Kota Khartoum dan sekitarnya.
Sudan tidak memiliki pemerintahan yang berfungsi sejak Oktober 2021, ketika militer membubarkan pemerintahan transisi Perdana Menteri Abdalla Hamdok dan menyatakan keadaan darurat dalam suatu langkah yang oleh kekuatan politik disebut sebagai kudeta./Ant






































