JAKARTA, Bisnistoday,- Grup band legendaris Indonesia, Slank, kembali menggebrak panggung musik Tanah Air dengan meluncurkan karya terbaru yang sarat akan kritik sosial tajam. Melalui album teranyar yang diberi tajuk “Republik Fufu Fafa”, grup musik yang bermarkas di Jalan Potlot ini mencoba merekam sekaligus menyuarakan berbagai kegelisahan sosial serta kondisi riil bangsa saat ini.
Karya ini menandai konsistensi mereka yang tidak pernah absen dalam mengawal isu-isu kemasyarakatan lewat bait lirik yang lugas dan berani.
Peluncuran album ini diumumkan secara langsung dalam sebuah konferensi pers resmi yang digelar di Markas Slank, Jalan Potlot, Kalibata, Jakarta Selatan, pada Jumat, 5 Juni 2026.
Dalam kesempatan tersebut, seluruh personel Slank tampil dalam formasi lengkap yang terdiri atas Bimbim, Kaka, Abdee, Ridho, dan Ivanka untuk membedah isi dari album teranyar mereka. Pentolan Slank, Bimbim, mengungkapkan bahwa dalam album ini mereka sengaja mengeluarkan peluru-peluru tajam lewat judul lagu yang provokatif.
“Kita kalau ngeluarin album, kita keluarin lagu-lagu yang idealis-idealis dulu ya. Ada Republik Fufu Fafa, PPN 12%, Alarm, hingga Nusantaraku,” ujar Bimbim sebagai penguat komitmen bermusik mereka yang tetap idealis dan tajam. Melalui pernyataan tersebut, grup band ini menegaskan posisi mereka yang tidak pernah bergeser dari jalur kritik sosial, menjadikannya salah satu karya paling idealis yang pernah mereka lahirkan di sepanjang karier bermusik mereka.
Proses penggarapan album “Republik Fufu Fafa” ini ternyata menyimpan cerita unik mengenai bagaimana para personel Slank menjaga fokus dan produktivitas mereka di studio rekaman. Seluruh materi lagu dalam album ini digarap secara intensif di studio milik sang gitaris, Ridho, yang bernama Fat Five Studio. Momentum pengerjaan album ini berlangsung tepat pada saat umat Muslim sedang menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan tahun 2025 lalu.
Suasana berpuasa ternyata sama sekali tidak menyurutkan semangat kreativitas para personel, melainkan justru memberikan energi tersendiri yang membuat mereka tetap fokus berkarya dari hari ke hari. Penahanan diri dari lapar dan dahaga selama berpuasa dinilai memberikan ketajaman tersendiri dalam merangkai nada dan lirik yang berbobot. Kreativitas yang mengalir di ruang rekaman Fat Five Studio tersebut akhirnya berhasil melahirkan sepuluh lagu baru yang solid dan penuh energi.
Mengenai atmosfer unik selama proses rekaman tersebut, sang vokalis utama Slank turut memberikan kesaksiannya mengenai kondisi spiritual dan fisik para personel saat itu. “Kalau kata orang, kondisi orang lagi puasa tuh fokusnya memang lebih tajam. Jadi makanya album ini, ya lu mesti denger deh. Bagus karena ngerjainnya lagi puasa,” tutur Kaka. Fokus yang lebih tajam inilah yang diyakini membuat penyampaian pesan dalam setiap lagu di album baru ini terasa jauh lebih mendalam.
Sejak awal mula terbentuk hingga menapaki usia puluhan tahun di industri musik Indonesia, Slank diklaim tidak pernah mengubah karakter dasar musikalitas mereka. Hal ini terlihat jelas dari bagaimana mereka tetap mempertahankan lirik-lirik yang memuat kritik sosial berani sebagai benang merah utama di setiap album. Konsistensi dalam menyuarakan suara rakyat inilah yang dinilai menjadi resep rahasia mengapa Slank tetap dicintai oleh lintas generasi.
Bimbim menegaskan bahwa bagi mereka, mempertahankan identitas musik dan lirik yang kritis adalah sebuah keharusan demi menjaga integritas band. Mengubah identitas yang sudah melekat kuat justru akan menghilangkan esensi utama dari kehadiran Slank di tengah masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, formula musikalitas yang mereka usung dalam album baru ini tetap sama dengan formula yang mereka gunakan sejak era-era awal kejayaan mereka.
Terkait dengan keputusan untuk mempertahankan karakter musik tersebut, sang drummer legendaris memberikan perumpamaan yang cukup menarik mengenai prinsip kerja band mereka. “Slank nggak ke mana-mana. Kita selalu percaya don’t change the winning team. Bahwa kita punya formula, kita punya resep ya. Kayak Restoran Padang kan dari zaman kapan nggak berubah-berubah,” tuturnya. Kesetiaan pada resep musik yang orisinal inilah yang membuat karya-karya Slank selalu memiliki tempat tersendiri di hati para Slankers.
Dalam album “Republik Fufu Fafa”, Slank tidak tanggung-tanggung dalam membedah fenomena sosial yang sedang hangat diperbincangkan masyarakat, mulai dari isu kebijakan ekonomi hingga moralitas. Salah satu lagu yang cukup menyita perhatian adalah lagu berjudul “Rakus”, yang secara khusus diciptakan untuk menyentil perilaku koruptif. Isu mengenai kebijakan PPN 12% juga tidak luput dari sasaran kritik tajam yang mereka sematkan ke dalam daftar putar album baru ini.
Inspirasi utama di balik penulisan lagu “Rakus” diakui lahir dari realitas sosial dan tontonan harian masyarakat mengenai berbagai skandal korupsi yang tiada habisnya. “Lagu Rakus, itu juga soal kritik. Sebenarnya kita kan di hari-hari ini dikasih tontonan tentang korupsi ya. Korupsi kan base-nya emang lu merasa kurang aja sampai lu akhirnya butuh untuk korupsi gitu,” tegas Bimbim. Penjelasan tersebut menggambarkan bagaimana Slank memandang korupsi sebagai dampak dari rasa ketidakpuasan yang tak berujung.
Di samping memuat lagu-lagu bernuansa politik dan kritik sosial, album ini juga memuat sisi emosional yang sangat personal bagi Bimbim secara pribadi selaku penulis lagu. Ia menciptakan sebuah lagu yang diberi judul “Papa Sick” sebagai bentuk penghormatan dan dedikasi mendalam untuk mendiang sang ayah tercinta. Lagu yang penuh keharuan tersebut digarap dalam momen yang sangat emosional, tepat sebelum sang ibunda, Bunda Iffet, mengembuskan napas terakhirnya.
Tidak hanya berbicara mengenai dinamika politik dan masalah finansial, album ini juga menyuarakan kegelisahan mendalam terhadap kelestarian alam Indonesia. Momentum peluncuran informasi album ini yang berdekatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dimanfaatkan untuk menyoroti isu-isu ekologis. Gitaris Slank, Abdee Negara, memberikan peringatan yang sangat keras mengenai dampak destruktif dari aktivitas eksploitasi alam yang tidak terkendali.
Abdee secara khusus menyoroti bagaimana perilaku para elit penguasa dan kelompok oligarki yang dinilai kerap merusak kelestarian alam demi kepentingan investasi jangka pendek. Kepedulian lingkungan ini dituangkan secara eksplisit agar dapat menjadi bahan perenungan bagi pihak-pihak yang memegang otoritas kebijakan di negeri ini. “Semoga para elit yang berkuasa bisa membuka telinga mendengar dan melakukan perubahan. Kalau nggak, kita sudah di ambang kehancuran. Harapannya semoga kita mulai hari ini ke depan menjadi lebih baik,” tutup Abdee Negara.
Untuk melengkapi kehadiran album penuh makna ini, Slank juga memilih untuk merilis “Republik Fufu Fafa” dalam bentuk rilisan fisik yang meliputi kaset, CD, hingga piringan hitam. Keputusan memproduksi format fisik dalam jumlah terbatas ini diambil guna mengakomodasi antusiasme para kolektor musik serta Slankers lintas generasi yang ingin mengoleksi karya autentik. Berisi total 10 lagu, seluruh materi dalam album terbaru ini dipastikan sudah bisa dinikmati di berbagai platform musik digital mulai Sabtu, 6 Juni 2026 pukul 00.00 WIB.(Adit)

